Showing posts with label Menulis Menghancurkan Belenggu. Show all posts
Showing posts with label Menulis Menghancurkan Belenggu. Show all posts

Tuesday, 13 December 2016

Menulis (6.0): Penulis

Ersis Warmansyah Abbas (BA, Drs. M.Pd., Dr.) dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin. Lahir di Muaralabuh, Solok Selatan, 15 November 1957. Doktor Pedidikan (IPS) UPI Bandung (2013), Magister Pendidikan (Pengembangan Kurikulum) IKIP Bandung (1995), Sarjana Pendidikan (Sejarah) IKIP Yogyakarta (1980), Sarjana Muda Pendidikan Sejarah IKIP Padang (1978). Tamatan PGAN 6 Tahun Padang, PGAN 4 Tahun Muaralabuh dan SDN 1 Muaralabuh. Pernah kuliah di FK Filsafat UGM (1982), dan alumnus Pendidikan (Kursus) Teori, Metodologi dan Aplikasi Antropologi UGM (1993).
 
Tulisannya dimuat beberapa jurnal, dan atau, dipresentasikan pada berbagai seminar, baik di dalam maupun di luar negeri, misalnya pada 5th UPSI-UPI Conference on Education, Selangor Malaysia (2012). Untuk mendukung dan mengembangan keprofesionalannya, Presiden Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan (LPKPK), Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Kalimantan Selatan (LPPPKS), dan Pusat Studi Sejarah dan Nilai Budaya Kalimantan Selatan (PSNBKS), mengikuti berbagai seminar dan workhsop dalam berbagai bidang dan melakukan kerja sama penelitian dengan Asia Foundation, PT Djarum Kudus, Pemkab, Pemko dan Pemprov Kalimantan Selatan serta instansi lainnya.

Ratusan tulisannya dimuat berbagai media cetak, antara lain HU Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Jayakarta, Pelita, Bandung Pos, Haluan, Radar Banjarmasin, Dinamika Berita, Banjarmasin Pos, Bandjarbaroe Post, Sinar Kalimantan dan media cetak lainnya.

Pemimpin Umum Bandjarbaroe Post dan majalah GAGAH mengusung prinsip: Tulis apa yang ada di pikiran bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan. Publikasi harian tulisannya dapat diikuti melalui www. ersisweb.com dan facebook Ersis Warmansyah Abbas.

Sebagai penyaluran kehendak menulis dan memotivasi berbagai kalangan untuk menulis, Ersis mendirikan dan mengembangkan Gerakan Persahabatan Menulis (GPM) berbasis dunia maya yang cabang daratnya berkembang di kota-kota Indonesia dengan pelibat di Singapura, Taiwan, Hongkong, Mesir, dan berbagai Negara lainnya. GPM wilayah melakukan kegiatan menulis dan telah menerbitkan puluhan buku dan untuk itulah sering bepergian ke berbagai kota dalam lakon sharing menulis atau pelatihan menulis.
Ersis Warmansyah Abbas menerbitkan beragam buku dengan berbagai tema:
 
I. TENTANG MENULIS
1. Menulis Sangat Mudah. 2007. Yogyakarta: Mata Khatulistiwa.
2 Menulis Mari Menulis. 2007. Yogyakarta: Mata Khatulistiwa.
3. Menulis dengan Gembira. 2008. Yogyakarta: Gama Media.
4. Menulis Berbunga-Bunga. 2008. Yogyakarta: Gama Media.
5. Virus Menulis Zikir Menulis. 2008: Yogyakarta: Gama Media.
6. Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen. 2008: Yogyakarta: Gama Media.
7. Menulis Tanpa Berguru. 2009. Yogyakarta: Gama Media.
8. Menulis Membangun Peradaban. 2009. Yogyakarta: Gama Media.
9. ‘Jatuh Cinta’ Menulis. 2011: Bandung: Wahana Jaya Abadi.
10. Indonesia Menulis. 2011: Bandung: Wahana Jaya Abadi.
11. Suer, Menulis Itu Mudah. 2012: Jakarta: Elex Media Komputindo, KK Gramedia.
12. Percaya Ngak Percaya, Menulis Itu Mudah. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
13. Mudah Menulis Memudahkan Menerbitkan Buku. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
14. Menulis Menyenangkan. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
15. Menulis Mudah Memudahkan Menulis. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
16. Indonesia Menulis: Perjalanan Spiritual. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi
17. Menulis di Otak. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
18. Menulis Menuliskan Diri. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
19. Menulis Mengasyikkan. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
20. Menulis Membangun Midset. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
21. Menulis Menjinakkan Kegagalan. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
22. Menulis Menghancurkan Belenggu. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
23. Menulis Enjoy Enjoy Sajalah. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

II. FIKSI
1. Surat Buat Kekasih, antologi Puisi. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
2. Garunum, antologi puisi bersama.2006. Yogyakarta: Gama Media.
3. Taman Banjarbaru, antologi puisi bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
4. Kolaborasi Nusantara, Antologi Puisi Bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
5. Tajuk Bunga, antologi puisi bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
6. ASAP (Novel). 2010. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
7. Menjaring Cakrawala. 2011. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
8. Zikir Rindu. 2011. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
9. Deru Awang-Awang. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
10. Senyawa Kata Kita, antologi puisi bersama. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
11. Astagfirullah, Antologi Cerpen (bersama). Bandung: Wahana Jaya Abadi.
12. Bogor Kasohor, Antologi Puisi (bersama). 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

III. MOTIVASIONAL SPIRITUAL
1. Nyaman Memahami ESQ. 2005. Yogyakarta: Gama Media.
2. Sabar, Ikhlas, dan Bersyukur: Melejitkan Potensi Diri. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

IV BUKU AJAR, PEMIKIRAN, DAN PENELITIAN
1. Pemuda dan Kepahlawanan .1988. Bandung: Materpamur.
2. Bab-Bab Antropologi. 1996. Penyunting tulisan Fudiat Suryadikara. Banjarmasin: EWA Book Company.
3. Memahami Sejarah. 1997. Banjarmasin: EWA Book Company.
4. Pembangunan Kalimantan. 1998. Penyunting tulisan Ismet Ahmad. Banjarmasin: EWA Book Company.
5. Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar dalam Revolusi Fisik 1945-1949. 2000. Martapaura: Pemkab Banjar dan LPKPK.
6. Tanah Laut: Sejarah dan Potensi. 2000. Pelaihari: Pemkab Tanah Laut dan LPKPK.
7. Data Dasar Banjarbaru: Banjarbaru Menuju Metropolitan 2002. Banjarbaru Pemko Banjarbaru dan LPKPK.
8. Banjarbaru. 2002. Banjarbaru: Pemko Banjarbaru dan LPKPK.
9. Menguak Atmosfir Akademik. 2004. Penyunting bersama Sutarto Hadi. Banjarmasin: FKIP Unlam.
10. Menggugat Kepedulian Pendidikan Kalimantan Selatan. 2005. Banjarbaru: LPKPK.
11. Nyaman Memahami ESQ. 2005. Yogyakarta: Gama Media.
12. Sejarah Kotabaru. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
13. PDAM Bandarmasih: Primadona Kota Air. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
14. Mewacanakan Pendidikan IPS. 2013. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi, dan FKIP-Unlam Press.
15. Pendidikan Karakter. 2014. Penyunting. Bandung: Niaga Sarana Mandiri dan FKIP-Unlam Press.
14. Building Nation Character Through Education. 2014. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi dan FKIP-Unlam Press.
17. Pendidikan IPS Berbasis Kearifan Lokal. 2015. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi, dan FKIP-Unlam Press.

V. BIOGRAFI
1. Buku Kenangan Purna Tugas M.P. Lambut. 2003. (Editor Bersama). Banjarmasin: FKIP Unlam.
2. Rudy Resnawan: Untukmu Banjarbaru. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
3. Guru Sekumpul: Biografi Pendidikan Profetik. 2014. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
4. Guru Sekumpul. 2014. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

VI TEMA BEBAS
1. Masa Kecil Yang Tak Terlupakan (Bersama). 2011. Malang: Bintang Sejahtera.
2. Cinta Pertama: Kisah-Kisah Cinta Berhikmah. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
 
IV. PROSES TERBIT
Beberapa bukunya dalam proses penerbitan.

V. SEMINAR, SHARING, TALKSHOW, DAN PELATIHAN MENULIS
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, KAMMI Kalsel, Radio MQFM Bandung, Tahajud Call Bandung, Masjid Salman ITB Bandung, UIN Malang, Malang Post Malang, Universitas Pakuan Bogor, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Institut Keislaman Hasyim As’ari Jombang, Politeknik Negeri Banjarmasin, Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Banyuanyar Pamekasan, SMA/MA, dan berbagai insitusi dan instansi.

Menulis (5.10): Sudahlah, Menulis Sajalah

Ersis Warmansyah Abbas
Kritik atau celaan terhadap tulisan, sebaiknya dijadikan masukan untuk perbaikan. Sebaliknya, kalau dijadikan pelemah semangat, bisa berakibat patah arang menulis. Hal tersebut tidak konstruktif dan kontributif dalam membangun keterampilan menulis.
PADA praktiknya melakukan apa saja lazim dihadang kendala, begitu juga menulis. Tidak syak lagi, bagaimana merespon kendala tersebutlah yang menjadikan seseorang penulis atau pecundang. Bagi yang bermental lemah, begitu diterpa kendala semangatnya kendur, bagi yang bermental bagus, kendala dijadikan tantangan untuk mengatasinya. Artinya, kendala diatasi, berusaha mengatasi kendala agar aktivitas menulis tidak terganggu.
 
Secara psikologi dapat dipahami, kita susah-susah menulis, setelah tulisan menjadi tidak direspon, dikritik sampai dimaki sehingga mental down. Wajar saja. Yang perlu diingat, kalau tulisan tidak mau direspon, ya tulis saja untuk diri sendiri. Tulis dan baca sendiri. Tetapi, tujuan menulis di wilayah publik tentu agar dibaca sebanyak mungkin orang dan memberi manfaat bagi pembaca.

Karena itu, menulis sebaiknya dipahami sebagai proses pembelajaran (diri). Dengan demikian, bilamana dikritik atau dihujat, jadikan balikan semangat, saya akan menulis lebih baik. Untuk itu belajar, belajar menulis yang baik dan berkualitas. Bukan, ya bukan, lantaran dikritik semangat menguap dan patah arang menulis. Respon tersebut respon tidak konstruktif.

Menulis (5.9): Raja Alasan Ratu Berkilah

Ersis Warmansyah Abbas
Pak, bagaimana bisa rutin menulis, tugas begitu banyak. Membaca buku. Mengambil intinya, menulis makalah, mamaparkan dan mempertahankan. Begitu ”makanan” sehari-hari. Sehabis kuliah membuat proposal, meneliti, dan menulis skripsi. Tidak ada waktu Pak. Begitu biasanya keluhan mahasiwa saya. 
PADUAN hebat dalil mereka yang membangun kefasihan untuk tidak menulis dengan meluluhkan dirinya, membangun kemampuan berkomentar, adalah paduan beralasan dan berkilah. Perihal komentar dan berkomentar telah dipaparkan pada tulisan terdahulu.
 
Simak pikiran, muatan isian dan tulisan teman dekat Sampeyan. Kalau orangnya banyak pandir (ngomong doang), hobi mengkrtitik tulisan orang, bersemangat mencari-cari kesalahan dan kelemahan tulisan temannya, bukan tidak mungkin dia berkemampuan kerdil menulis. Apalagi, ya apalagi, kalau diminta menulis atau dikritik tentang karya tulisnya, seketika mampu memberikan alasan dan kilahan yang luar biasa logisnya. Seolah-olah apa yang diargumennya benar adanya. Padahal, tidak lain tidak bukan sebagai apologia belaka.

Harap dicatat manakala seseorang cerdas ”menggoreng” alasan ini-itu, dan menukarnya dengan wejangan-wejangan tentang menulis, dipastikan seseorang tersebut lemah kemampuan menulisnya. Memang, ada penulis yang suka memebri ”ceramah”, tetapi tidak terus-menerus. Kalau demikian adanya, kapan dia menulis tak iye?

Menulis (5.8) Raja Komentar

Ersis Warmansyah Abbas
Sejak mengenal facebook saya rajin membaca tulisan teman-teman, dan berusaha memberi komentar. Tulisan teman-teman menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, dan komentar saya dinilai bagus. Tetapi, begitu menuliskan ide mandek. Kenapa?
KOMENTAR saya sengaja didramatisir. “Coy. Kamu paham bukan? Saya memberi kuliah, memeriksa tugas kalian dan menilai, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai tugas pokok. Kamu belum beristeri bukan? Saya harus ‘bercengkerama’ dengan istri dan mendidik anak-anak.”
 
Tentu tidak lupa, sering menyajikan makalah, mengadakan seminar, menerbitkan media cetak, memelihara kolam, dan seabrek lainnya. Tentu, memerlukan pemikiran, energi, dan ingat … dalam sehari tersedia 24 jam. Disela aktivitas tersebutlah menulis. Menulis bukan pekerjaan utama.

Tidak ada yang salah dengan komentar, berkomentar. Gara-gara masalah yang diketengahkan kawan kita ini, postingan FB saya sengaja tidak ngetag ke siapa saja untuk beberapa saat.
Hayya, kalau tidak di-tag nanti tidak ada pengunjung atau tidak dikomentari. Tidak ada pengunjung, tidak ada komentar, ya biar saja. Kalaupun ngetag tujuannya agar dibaca, dan Alhamdulilah bila bermanfaat. Kita menulis bukan untuk diri saja. Ngetag dan saling berkomentar adalah penghormatan dalam persahabatan menulis.

Menulis (5.7): Hantu Bakat

Ersis Warmansyah Abbas
Membaca tulisan penulis terkenal keinginan menulis saya terpantik namun begitu dilakukan ngadat. Saking frustasi memvonis diri, tidak berbakat menulis. Apakah bakat menjadi penentu keberhasilan seseorang menulis?  
BAKAT? Makhluk apa itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998; 70) kata bakat pada arti ketiga: dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan yang dibawa dari lahir. Menulis khusus bagi mereka yang berbakat? Entahlah.
 
Pengalaman sharing dengan berbagai kalangan, entah dari mana asal-muasal ‘tembok’ penghenti belajar menulis tersebut, ada mantra kata: teori, mood, bakat, dan seterusnya yang dijadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti menulis. Tertanam, atau ditanamkan dengan sadar atau tidak, sehingga menjadi penghalang.
Perihal teori banyak dibahas dalam tulisan-tulisan saya. Teori adalah alat (tool) dan karenanya jangan dijadikan pembunuh kehendak menulis. Kalau tanpa alat bisa kenapa tidak?

Begitu juga hantu mood. Mood suasana hati. Kalau lagi mood, in the mood menulis lancar. OK. Berpikir ala EWT bukan mood yang ditunggu, menulis tidak tergantung mood, tetapi suasana hati yang disenangkan sehingga selalu in the mood. Menulis menyenangkan, menulis dengan gembira, menulis tanpa beban, dan seterusnya. Kita mengendalikan mood, bukan dikendalikan mood.

Menulis (5.6): Berlagak Hebat

Ersis Warmansyah Abbas
Saya suka menulis realitas di linkungan kehidupan, celakanya baru beberapa alinea terhenti. Beberapa hari kemudian dilanjutkan. Setelah dibaca meragukannya, sebab idenya berbeda dengan ide awal. Diri sendiri saja meragukan apalagi orang lain. Bagaimana Bang?
ADA penulis pemula yang merasa dirinya hebat dan menganggap menulis dapat dilakukan sekelabat. Apa yang dipikirkan, apa yang dilihat, atau dibanding-bandingkan dapat ditulis dengan mudah. Bahkan, ada yang begitu membaca tulisan orang di pikirannya muncul: “Ah segitu aja. Aku bisa menulis lebih hebat.” Dia yakin dia mampu menulis lebih hebat. Dan, eit langsung menuliskan idenya. Akibatnya? Selesai satu dua alinea mandek.
 
Merasa diri hebat, berkemampuan dan yakin berhasil manakala melakukan sesuatu tentu positif. Mindset harus dibangun dengan keoptimisan. Satu hal yang perlu diingat, keyakinan saja tidak cukup. Tepatnya, diperlukan latihan. Menulis, menulis, dan terus menulis, membangun keterampilan dan memasihkan menulis.

Manakala seseorang memperhatikan hal-hal di lingkungan dengan seksama pada dasarnya modal untuk menulis. Hanya saja begitu ditulis mandek. Ketika dilanjutkan, eit ide dan konsep berbeda. Tulisan tidak tuntas. Hal tersebut berulang dan terus berulang. Memprihatinkan, Si Penulis Hebat tidak mau belajar, apa penyebab kemandekan. Siapa yang tidak mau belajar adalah manusia sombong. Sok hebat.