Showing posts with label Menulis Menghancurkan Belenggu. Show all posts
Showing posts with label Menulis Menghancurkan Belenggu. Show all posts

Tuesday, 13 December 2016

Menulis (6.0): Penulis

Ersis Warmansyah Abbas (BA, Drs. M.Pd., Dr.) dosen pada FKIP Unlam Banjarmasin. Lahir di Muaralabuh, Solok Selatan, 15 November 1957. Doktor Pedidikan (IPS) UPI Bandung (2013), Magister Pendidikan (Pengembangan Kurikulum) IKIP Bandung (1995), Sarjana Pendidikan (Sejarah) IKIP Yogyakarta (1980), Sarjana Muda Pendidikan Sejarah IKIP Padang (1978). Tamatan PGAN 6 Tahun Padang, PGAN 4 Tahun Muaralabuh dan SDN 1 Muaralabuh. Pernah kuliah di FK Filsafat UGM (1982), dan alumnus Pendidikan (Kursus) Teori, Metodologi dan Aplikasi Antropologi UGM (1993).
 
Tulisannya dimuat beberapa jurnal, dan atau, dipresentasikan pada berbagai seminar, baik di dalam maupun di luar negeri, misalnya pada 5th UPSI-UPI Conference on Education, Selangor Malaysia (2012). Untuk mendukung dan mengembangan keprofesionalannya, Presiden Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pembangunan Kalimantan (LPKPK), Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Kalimantan Selatan (LPPPKS), dan Pusat Studi Sejarah dan Nilai Budaya Kalimantan Selatan (PSNBKS), mengikuti berbagai seminar dan workhsop dalam berbagai bidang dan melakukan kerja sama penelitian dengan Asia Foundation, PT Djarum Kudus, Pemkab, Pemko dan Pemprov Kalimantan Selatan serta instansi lainnya.

Ratusan tulisannya dimuat berbagai media cetak, antara lain HU Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan, Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Jayakarta, Pelita, Bandung Pos, Haluan, Radar Banjarmasin, Dinamika Berita, Banjarmasin Pos, Bandjarbaroe Post, Sinar Kalimantan dan media cetak lainnya.

Pemimpin Umum Bandjarbaroe Post dan majalah GAGAH mengusung prinsip: Tulis apa yang ada di pikiran bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan. Publikasi harian tulisannya dapat diikuti melalui www. ersisweb.com dan facebook Ersis Warmansyah Abbas.

Sebagai penyaluran kehendak menulis dan memotivasi berbagai kalangan untuk menulis, Ersis mendirikan dan mengembangkan Gerakan Persahabatan Menulis (GPM) berbasis dunia maya yang cabang daratnya berkembang di kota-kota Indonesia dengan pelibat di Singapura, Taiwan, Hongkong, Mesir, dan berbagai Negara lainnya. GPM wilayah melakukan kegiatan menulis dan telah menerbitkan puluhan buku dan untuk itulah sering bepergian ke berbagai kota dalam lakon sharing menulis atau pelatihan menulis.
Ersis Warmansyah Abbas menerbitkan beragam buku dengan berbagai tema:
 
I. TENTANG MENULIS
1. Menulis Sangat Mudah. 2007. Yogyakarta: Mata Khatulistiwa.
2 Menulis Mari Menulis. 2007. Yogyakarta: Mata Khatulistiwa.
3. Menulis dengan Gembira. 2008. Yogyakarta: Gama Media.
4. Menulis Berbunga-Bunga. 2008. Yogyakarta: Gama Media.
5. Virus Menulis Zikir Menulis. 2008: Yogyakarta: Gama Media.
6. Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen. 2008: Yogyakarta: Gama Media.
7. Menulis Tanpa Berguru. 2009. Yogyakarta: Gama Media.
8. Menulis Membangun Peradaban. 2009. Yogyakarta: Gama Media.
9. ‘Jatuh Cinta’ Menulis. 2011: Bandung: Wahana Jaya Abadi.
10. Indonesia Menulis. 2011: Bandung: Wahana Jaya Abadi.
11. Suer, Menulis Itu Mudah. 2012: Jakarta: Elex Media Komputindo, KK Gramedia.
12. Percaya Ngak Percaya, Menulis Itu Mudah. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
13. Mudah Menulis Memudahkan Menerbitkan Buku. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
14. Menulis Menyenangkan. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
15. Menulis Mudah Memudahkan Menulis. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
16. Indonesia Menulis: Perjalanan Spiritual. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi
17. Menulis di Otak. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
18. Menulis Menuliskan Diri. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
19. Menulis Mengasyikkan. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
20. Menulis Membangun Midset. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
21. Menulis Menjinakkan Kegagalan. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
22. Menulis Menghancurkan Belenggu. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
23. Menulis Enjoy Enjoy Sajalah. 2015. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

II. FIKSI
1. Surat Buat Kekasih, antologi Puisi. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
2. Garunum, antologi puisi bersama.2006. Yogyakarta: Gama Media.
3. Taman Banjarbaru, antologi puisi bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
4. Kolaborasi Nusantara, Antologi Puisi Bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
5. Tajuk Bunga, antologi puisi bersama. 2006. Yogyakarta: Gama Media.
6. ASAP (Novel). 2010. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
7. Menjaring Cakrawala. 2011. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
8. Zikir Rindu. 2011. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
9. Deru Awang-Awang. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
10. Senyawa Kata Kita, antologi puisi bersama. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
11. Astagfirullah, Antologi Cerpen (bersama). Bandung: Wahana Jaya Abadi.
12. Bogor Kasohor, Antologi Puisi (bersama). 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

III. MOTIVASIONAL SPIRITUAL
1. Nyaman Memahami ESQ. 2005. Yogyakarta: Gama Media.
2. Sabar, Ikhlas, dan Bersyukur: Melejitkan Potensi Diri. 2013. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

IV BUKU AJAR, PEMIKIRAN, DAN PENELITIAN
1. Pemuda dan Kepahlawanan .1988. Bandung: Materpamur.
2. Bab-Bab Antropologi. 1996. Penyunting tulisan Fudiat Suryadikara. Banjarmasin: EWA Book Company.
3. Memahami Sejarah. 1997. Banjarmasin: EWA Book Company.
4. Pembangunan Kalimantan. 1998. Penyunting tulisan Ismet Ahmad. Banjarmasin: EWA Book Company.
5. Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar dalam Revolusi Fisik 1945-1949. 2000. Martapaura: Pemkab Banjar dan LPKPK.
6. Tanah Laut: Sejarah dan Potensi. 2000. Pelaihari: Pemkab Tanah Laut dan LPKPK.
7. Data Dasar Banjarbaru: Banjarbaru Menuju Metropolitan 2002. Banjarbaru Pemko Banjarbaru dan LPKPK.
8. Banjarbaru. 2002. Banjarbaru: Pemko Banjarbaru dan LPKPK.
9. Menguak Atmosfir Akademik. 2004. Penyunting bersama Sutarto Hadi. Banjarmasin: FKIP Unlam.
10. Menggugat Kepedulian Pendidikan Kalimantan Selatan. 2005. Banjarbaru: LPKPK.
11. Nyaman Memahami ESQ. 2005. Yogyakarta: Gama Media.
12. Sejarah Kotabaru. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
13. PDAM Bandarmasih: Primadona Kota Air. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
14. Mewacanakan Pendidikan IPS. 2013. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi, dan FKIP-Unlam Press.
15. Pendidikan Karakter. 2014. Penyunting. Bandung: Niaga Sarana Mandiri dan FKIP-Unlam Press.
14. Building Nation Character Through Education. 2014. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi dan FKIP-Unlam Press.
17. Pendidikan IPS Berbasis Kearifan Lokal. 2015. Penyunting. Bandung: Wahana Jaya Abadi, dan FKIP-Unlam Press.

V. BIOGRAFI
1. Buku Kenangan Purna Tugas M.P. Lambut. 2003. (Editor Bersama). Banjarmasin: FKIP Unlam.
2. Rudy Resnawan: Untukmu Banjarbaru. 2010. Bandung: Rekayasa Sains.
3. Guru Sekumpul: Biografi Pendidikan Profetik. 2014. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
4. Guru Sekumpul. 2014. Bandung: Wahana Jaya Abadi.

VI TEMA BEBAS
1. Masa Kecil Yang Tak Terlupakan (Bersama). 2011. Malang: Bintang Sejahtera.
2. Cinta Pertama: Kisah-Kisah Cinta Berhikmah. 2012. Bandung: Wahana Jaya Abadi.
 
IV. PROSES TERBIT
Beberapa bukunya dalam proses penerbitan.

V. SEMINAR, SHARING, TALKSHOW, DAN PELATIHAN MENULIS
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, KAMMI Kalsel, Radio MQFM Bandung, Tahajud Call Bandung, Masjid Salman ITB Bandung, UIN Malang, Malang Post Malang, Universitas Pakuan Bogor, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Institut Keislaman Hasyim As’ari Jombang, Politeknik Negeri Banjarmasin, Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Banyuanyar Pamekasan, SMA/MA, dan berbagai insitusi dan instansi.

Menulis (5.10): Sudahlah, Menulis Sajalah

Ersis Warmansyah Abbas
Kritik atau celaan terhadap tulisan, sebaiknya dijadikan masukan untuk perbaikan. Sebaliknya, kalau dijadikan pelemah semangat, bisa berakibat patah arang menulis. Hal tersebut tidak konstruktif dan kontributif dalam membangun keterampilan menulis.
PADA praktiknya melakukan apa saja lazim dihadang kendala, begitu juga menulis. Tidak syak lagi, bagaimana merespon kendala tersebutlah yang menjadikan seseorang penulis atau pecundang. Bagi yang bermental lemah, begitu diterpa kendala semangatnya kendur, bagi yang bermental bagus, kendala dijadikan tantangan untuk mengatasinya. Artinya, kendala diatasi, berusaha mengatasi kendala agar aktivitas menulis tidak terganggu.
 
Secara psikologi dapat dipahami, kita susah-susah menulis, setelah tulisan menjadi tidak direspon, dikritik sampai dimaki sehingga mental down. Wajar saja. Yang perlu diingat, kalau tulisan tidak mau direspon, ya tulis saja untuk diri sendiri. Tulis dan baca sendiri. Tetapi, tujuan menulis di wilayah publik tentu agar dibaca sebanyak mungkin orang dan memberi manfaat bagi pembaca.

Karena itu, menulis sebaiknya dipahami sebagai proses pembelajaran (diri). Dengan demikian, bilamana dikritik atau dihujat, jadikan balikan semangat, saya akan menulis lebih baik. Untuk itu belajar, belajar menulis yang baik dan berkualitas. Bukan, ya bukan, lantaran dikritik semangat menguap dan patah arang menulis. Respon tersebut respon tidak konstruktif.

Menulis (5.9): Raja Alasan Ratu Berkilah

Ersis Warmansyah Abbas
Pak, bagaimana bisa rutin menulis, tugas begitu banyak. Membaca buku. Mengambil intinya, menulis makalah, mamaparkan dan mempertahankan. Begitu ”makanan” sehari-hari. Sehabis kuliah membuat proposal, meneliti, dan menulis skripsi. Tidak ada waktu Pak. Begitu biasanya keluhan mahasiwa saya. 
PADUAN hebat dalil mereka yang membangun kefasihan untuk tidak menulis dengan meluluhkan dirinya, membangun kemampuan berkomentar, adalah paduan beralasan dan berkilah. Perihal komentar dan berkomentar telah dipaparkan pada tulisan terdahulu.
 
Simak pikiran, muatan isian dan tulisan teman dekat Sampeyan. Kalau orangnya banyak pandir (ngomong doang), hobi mengkrtitik tulisan orang, bersemangat mencari-cari kesalahan dan kelemahan tulisan temannya, bukan tidak mungkin dia berkemampuan kerdil menulis. Apalagi, ya apalagi, kalau diminta menulis atau dikritik tentang karya tulisnya, seketika mampu memberikan alasan dan kilahan yang luar biasa logisnya. Seolah-olah apa yang diargumennya benar adanya. Padahal, tidak lain tidak bukan sebagai apologia belaka.

Harap dicatat manakala seseorang cerdas ”menggoreng” alasan ini-itu, dan menukarnya dengan wejangan-wejangan tentang menulis, dipastikan seseorang tersebut lemah kemampuan menulisnya. Memang, ada penulis yang suka memebri ”ceramah”, tetapi tidak terus-menerus. Kalau demikian adanya, kapan dia menulis tak iye?

Menulis (5.8) Raja Komentar

Ersis Warmansyah Abbas
Sejak mengenal facebook saya rajin membaca tulisan teman-teman, dan berusaha memberi komentar. Tulisan teman-teman menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, dan komentar saya dinilai bagus. Tetapi, begitu menuliskan ide mandek. Kenapa?
KOMENTAR saya sengaja didramatisir. “Coy. Kamu paham bukan? Saya memberi kuliah, memeriksa tugas kalian dan menilai, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sebagai tugas pokok. Kamu belum beristeri bukan? Saya harus ‘bercengkerama’ dengan istri dan mendidik anak-anak.”
 
Tentu tidak lupa, sering menyajikan makalah, mengadakan seminar, menerbitkan media cetak, memelihara kolam, dan seabrek lainnya. Tentu, memerlukan pemikiran, energi, dan ingat … dalam sehari tersedia 24 jam. Disela aktivitas tersebutlah menulis. Menulis bukan pekerjaan utama.

Tidak ada yang salah dengan komentar, berkomentar. Gara-gara masalah yang diketengahkan kawan kita ini, postingan FB saya sengaja tidak ngetag ke siapa saja untuk beberapa saat.
Hayya, kalau tidak di-tag nanti tidak ada pengunjung atau tidak dikomentari. Tidak ada pengunjung, tidak ada komentar, ya biar saja. Kalaupun ngetag tujuannya agar dibaca, dan Alhamdulilah bila bermanfaat. Kita menulis bukan untuk diri saja. Ngetag dan saling berkomentar adalah penghormatan dalam persahabatan menulis.

Menulis (5.7): Hantu Bakat

Ersis Warmansyah Abbas
Membaca tulisan penulis terkenal keinginan menulis saya terpantik namun begitu dilakukan ngadat. Saking frustasi memvonis diri, tidak berbakat menulis. Apakah bakat menjadi penentu keberhasilan seseorang menulis?  
BAKAT? Makhluk apa itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998; 70) kata bakat pada arti ketiga: dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan yang dibawa dari lahir. Menulis khusus bagi mereka yang berbakat? Entahlah.
 
Pengalaman sharing dengan berbagai kalangan, entah dari mana asal-muasal ‘tembok’ penghenti belajar menulis tersebut, ada mantra kata: teori, mood, bakat, dan seterusnya yang dijadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti menulis. Tertanam, atau ditanamkan dengan sadar atau tidak, sehingga menjadi penghalang.
Perihal teori banyak dibahas dalam tulisan-tulisan saya. Teori adalah alat (tool) dan karenanya jangan dijadikan pembunuh kehendak menulis. Kalau tanpa alat bisa kenapa tidak?

Begitu juga hantu mood. Mood suasana hati. Kalau lagi mood, in the mood menulis lancar. OK. Berpikir ala EWT bukan mood yang ditunggu, menulis tidak tergantung mood, tetapi suasana hati yang disenangkan sehingga selalu in the mood. Menulis menyenangkan, menulis dengan gembira, menulis tanpa beban, dan seterusnya. Kita mengendalikan mood, bukan dikendalikan mood.

Menulis (5.6): Berlagak Hebat

Ersis Warmansyah Abbas
Saya suka menulis realitas di linkungan kehidupan, celakanya baru beberapa alinea terhenti. Beberapa hari kemudian dilanjutkan. Setelah dibaca meragukannya, sebab idenya berbeda dengan ide awal. Diri sendiri saja meragukan apalagi orang lain. Bagaimana Bang?
ADA penulis pemula yang merasa dirinya hebat dan menganggap menulis dapat dilakukan sekelabat. Apa yang dipikirkan, apa yang dilihat, atau dibanding-bandingkan dapat ditulis dengan mudah. Bahkan, ada yang begitu membaca tulisan orang di pikirannya muncul: “Ah segitu aja. Aku bisa menulis lebih hebat.” Dia yakin dia mampu menulis lebih hebat. Dan, eit langsung menuliskan idenya. Akibatnya? Selesai satu dua alinea mandek.
 
Merasa diri hebat, berkemampuan dan yakin berhasil manakala melakukan sesuatu tentu positif. Mindset harus dibangun dengan keoptimisan. Satu hal yang perlu diingat, keyakinan saja tidak cukup. Tepatnya, diperlukan latihan. Menulis, menulis, dan terus menulis, membangun keterampilan dan memasihkan menulis.

Manakala seseorang memperhatikan hal-hal di lingkungan dengan seksama pada dasarnya modal untuk menulis. Hanya saja begitu ditulis mandek. Ketika dilanjutkan, eit ide dan konsep berbeda. Tulisan tidak tuntas. Hal tersebut berulang dan terus berulang. Memprihatinkan, Si Penulis Hebat tidak mau belajar, apa penyebab kemandekan. Siapa yang tidak mau belajar adalah manusia sombong. Sok hebat.

Monday, 12 December 2016

Menulis (5.5): Menyakiti Diri

Ersis Warmansyah Abbas
Pak, sejujurnya setiap menulis saya jarang menyelesaikannya. Saat ide muncul bersemangat dan berakhir dua atau tiga paragraf. Benarkah menjadi penulis harus mempunyai karakter? Saya tidak percaya diri mempublikasikan tulisan saya.
MENULIS dua atau tiga paragraf? Inilah kebiasaan teramat buruk yang diidap banyak orang karena dibiasakan. Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan berkesimpulan, ada orang sakit dalam artian kesenangan dan kebanggaan muncul manakala tidak menyelesaikan tulisan. Lucu memang, tetapi begitulah kenyataannya. Maksudnya?
 
Bagaimana tidak sakit. Bagi yang normal, begitu juga ajaran agama dan segala dendangan tentang risalah kebaikan pekerjaan jangan ditunda-tunda, jangan berhenti sebelum selesai. Mereka yang membiasakan menulis dua atau tiga paragraf lalu berhenti dan mendapatkan kenikmatan dengan melakukannya berulang-ulang. Padahal, jiwanya mengeluh, bahkan memaki diri. Bersengaja menyakiti diri, membunuh potensi diri, agar rendah diri, tidak percaya diri.

Saya pernah menangani pasien khusus model begini, dan naauzubillahi min zaliq. Files komputernya berisi tulisan sepersepuluh atau setengah jadi. Tidak ada tulisannya yang selesai alias tuntas. Kagum juga bagaimana dia membina kemampuan menulis tidak selesai. Pembiasaan luar biasa dalam menyakiti diri. Sungguh pembangunan karakter yang aneh. Pembangunan karakter? Yes.

Menulis (5.4): Mempersoalkan Bukan Halnya

Ersis Warmansyah Abbas
Sebagai lulusan perguruan tinggi saya sangat berkeinginan menulis, tetapi kesulitan menulis. Menulis itu ada aturannya. Saya kesusahan menulis dan bergiat mempelajarinya dan kalau mempraktikkan menulis ala EWA dengan mengabaikan banyak aturan, apalagi aturan ilmiah, kurang sreg. Bagaimana ini?
BUKAN sekali dua-kali saya disalahmengerti, bahkan ditembak, menulis saenak edule. Ada yang konyol sembari menuduh tidak mempelajari teori menulis. Lebih sadis, tidak paham menulis ilmiah. Lengkaplah penderitaan sebagai penganjur menulis he he. Terkadang muncul gugatan di pikiran: Salah loe sih apa hebatnya memotivasi orang menulis. Buat apa berpayah-payah memotivasi. Jawaban diri?
 
Pertama, berkeyakinan banyak orang berkehendak menulis, tetapi berbagai kesulitan menggayutinya. Saya berkaca diri, tidak mudah mendapatkan (sedikit) kefasihan menulis. Diperdapat melalui proses belajar, lebih kepada otodidak, dengan melakukan, dan terpikirkan akan lebih baik dibagi kepada siapa yang membutuhkan. Lagi pula, entah apa sebabnya, ada kesenangan, buncahan bangga, manakala membaca karya tulis orang.

Kedua, berkeyakinan semakin banyak orang berkemampuan menulis semakin baik buat dia, keluarga, bangsa dan negaranya. Ada godaan menjadi penulis hebat, dan karena menyadari keterbatasan diri, mudah-mudahan dengan memotivasi lahir penulis hebat-hebat. Saya lebih berharap orang lain menjadi penulis hebat.

Menulis (5.3): Sampai Muntah

Ersis Warmansyah Abbas
Kalau semangat menulis lagi menggebu-gebu libido disalurkan dengan menulis sampai pagi. Sangat menyenangkan dan memuaskan. Tulisan selesai dalam semalam, tetapi akibatnya itu Pak. Setelah begadang,  libur menulis seminggu. Bagimana ini Pak EWA?
MASIH ingat nasihat Rasulullah? Makanlah sebelum lapar, berhentilah makan sebelum kenyang. Tubuh, dalam hal ini sistem pencernaan mempunyai mekanisme ajeg dan karena itu sistem kerjanya harus terpelihara. Bila terlambat memberi asupan makanan usus bergesek tanpa ada yang digilasi yang bisa berakibat (penyakit) maag. Sebaliknya, bila berlebihan daya kerjanya melebihi kapasitas yang tentu saja berakibat buruk bagi sitem pencernaan dan maag akibatnya.
 
Begitu sistem pencernaan, begitu sistem otak, dan sistem tubuh. Menulis bukan pekerjaan ringan dalam artian bersantai-santai. Sebab, ketika kita menulis otak mengkoordinasikan sistem pengetahuan, daya ingat, logika, pengkombinasian pengetahuan lama dan baru dipuncaki dengan lahirnya konsep dan otak memerintahkan menuliskan.

Hebatnya, manakala sudah terbiasa atau fasih menjadikan mekanisme menulis otomatis alias menjadi refleks yang tidak membeban. Ketika menulis menjadi refleks, bisa jadi dirasakan otak tidak terbeban. Halnya berbeda ketika memulai menulis.

Menulis (5.2): Mindset Lucu

Ersis Warmansyah Abbas
Bagi saya menulis itu hal susah. Padahal, keinginan menulis sangat kuat. Apakah keterampilan menulis bisa diraih dengan pembiasaan? Jargon menulis, menulis, dan terus menulis EWA memang mendorong agar terus menulis, tetapi menyiksa karena dalam praktiknya tidak mudah.
WADUH, kalaulah sempat bertemu langsung dengan penanya yang satu ini dipastikan akan saya ”urut” mindset yang dibangunnya. Betapa tidak. Dia melakukan kesalahan ganda dalam membunuh kehendak menulis. Disadari atau bukan, disengaja atau tidak, atau diingininya atau bukan. Lebih parahnya dia memeliharanya.

Ada keinginan menulis, sangat kuat, tetapi mindset ditancapkan, menulis hal susah. Susah? Lah, apa yang belum diketahui, apa yang belum fasih dilakukan, ya susahlah. Ersis Writing Theory (EWT) mengusung prinsip: menulis sebagai pembelajaran. Menulis sebagai proses belajar. Bukan mematok portal susah dan menyusahkan. Sebaliknya, dibangun mindset, menulis itu mudah. Menulis mudah dalam katup menyenangkan, membelajarkan diri.

Dalam hal apa pun manakala kita memposisikan diri sebagai pembelajar tercuat semangat untuk mengetahui, menguasai, menggeluti, atau apa pun istilahnya yang dipelajari. Kenapa orang mau belajar (sekolah) berpisah dengan orang tua, keluarga, kampung halaman bertahun-tahun dengan segala penderitaannya? Penderitaan dijadikan penyemangat sehingga menjadi hal menyenangkan, memotivasi untuk menjadi tahu, pintar, atau terampil.

Menulis (5.1): Tidak Berkarakter

Ersis Warmansyah Abbas
PAK EWA, kalau dideskripsikan, saya setengah hati dalam menulis dan sering menunda-nunda tulisan. Bisa jadi karena pesimis karena karya saya (sastra) kurang mampu bersaing. Saya penulis amatir, pemula, dan kurang berkarakter. Bagaimana mengatasinya? 
PENULIS pemula yang ”pesimis”, tetapi tetap menulis adalah calon penulis hebat. Penulis hebat? Sebagai pemula dia sudah mampu mendeskripsikan kekurangannya yang diistilahkan kurang berkarakter. Hebat bukan? Seorang pemula sudah mampu menilai karyanya. Sungguh pertanda sangat bagus. Ibarat sinyal, sinyalnya bagus.
 
Bandingkan dengan mereka yang mengaku-ngaku hebat, misalnya menulis sastra. Paham aneka teori, menguasai aturan bahasa, piawai memilih diksi, hebat memintal kalimat dalam logika bagus dengan langgam membuai. Padahal, kalau benar-benar paham, karyanya (sastra) tentulah diburu penikmat sastra. Paham menurut diri berbeda dengan menulis dan tulisan dipahami dan dinikmati pembaca. Kalau tidak menulis dari mana ”bukti” pahamnya?

Kawan kita ini, justru sebaliknya, menyadari tulisannya kurang berkarakter. Introspeksi. Siapa saja yang pernah mempelajari psikologi pasti paham betapa dahsyat introspeksi dalam melejitkan kemampuan diri. Pengakuan diri hebat, tulisan bagus, dan sejenisnya kaca kesombongan, apalagi kalau dilengkapi sifat dan sikap menggurui, sesungguhnya musuh (belajar) menulis. Kawan kita ini mendeskripsikan dirinya dengan kekurangannya yang dengan kesadaran tersebut sangat berpeluang membenahinya.

Menulis: Bagian Kelima“Menjinakkan Kebiasaan Buruk”

BAGIAN KELIMA

MENJINAKKAN KEBIASAAN BURUK
Ada kebiasaan buruk penulis pemula dimana apa yang ditulis dipatok untuk direspon positif; ditanggapi, dipuji, diharapkan mendapatkan salary.  Masalahnya, kalau harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, tentu berakibat kekecewaan. Kalau kekecewaan melanda diri akibatnya bisa merembet kemana-mana. Apa untungnya?

Menulis (4.10): Mari Menyahabati Diri

Ersis Warmansyah Abbas
Dalam kaitan menulis, tidak dapat tidak, ”penentu” paling utama adalah diri kita. Pihak luar bisa saja berpengaruh, mampu memotivasi atau menakuti, tetapi eksekutornya tetap diri sendiri. Begitu pula, gagal atau berhasil, dirilah penentu utamanya. Dalam kaitan menulis, tidak dapat tidak, ”penentu” paling utama adalah diri kita. 
MENYAHABATI diri berarti kita mampu melakukan introspeksi. Menulis, bisa jadi penting bisa pula dianggap tidak bermanfaat, sesuai persepsi masing-masing orang, tetapi ketika dijadikan pilihan, menulis merupakan refleksi diri. Karena itu, sesiapa yang berkehendak menulis haruslah memahami dirinya. Memahami diri diimbuhi dengan memahami orang lain sebagai ”pasar” tulisannya. Mereka yang menulis hanya baik menurut dirinya, menanam kegagalan sejak memulai menulis.
 
Manakala kita mampu memahami diri otomatis filter-filter akan terpasang dengan sendirinya. Mereka yang menatap diri, misalnya tidak mungkin menulis apa yang tidak dipahaminya. Seorang nasionalistis mana mungkin menjelek-jelekkan negeri sebagaimana penebar kebaikan menulis tentang keburukan bangsanya.

Kesemua itu berawal dari memahami diri. Setelah memahami diri, mengetahui kelemahan, memindai kelebihan, dan potensi apa yang dapat dikembangkan untuk menanam kebaikan, mana tahu menulis dijadikan sebagai kebutuhan. Kebutuhan untuk berbagi hikmah. Ya, memahami diri untuk menyahabati diri menuju menulis berbagi.

Menulis (4.9): Pikiran Sesat

Ersis Warmansyah Abbas
Saya betul-betul putus asa. Saya telah mengirimkan naskah ke penerbit. Padahal, naskahnya sudah saya baca sungguh dan telah pula dibaca penulis-pelulis kenalan saya. Rasa-rasanya sudah pantas saja diterbitkan, tetapi penerbit tidak menerbitkannya.
KELUHAN ya keluhan. Kalau diperhatikan keluhan sebagaimana ditulis Si Pengeluh, sesungguhnya mendatangkan iba. Saya yakin dia sangat ingin naskahnya diterbitkan dan berkeinginan untuk menolongnya. Saya tidak bisa menolongnya terkarena alasan yang tidak pantas saya tulis di buku ini. Tidak nyaman. Karena itu saya menulis dalam sajian lain yang kira-kira berkaitan dengan kasus sebagaimana dipaparkan.
 
Kalau dipikir-pikir, saya tidak terlalu susah mempublikasikan tulisan, baik di media cetak atau pun diterbitkan. Menurut saya, karena saya ”belajar” memaklumi kesulitan pihak lain yang terkait dengan penerbitan naskah. Sekalipun terkadang abai dengan kata-kata, sering salah ketik, saya menjaga agar tidak salah konsep dan logika. Itu menurut saya dan saya yakin para editor sepakat akan hal tersebut.

Sebagai bandingan, saya pernah diminta tolong mengedit tulisan seseorang, dan dilakukan dengan gratis. Eit, setelah diedit, editan tersebut disanggah yang puncaknya, katanya, sudah didiskusikan dengan penulis anu, penulis anu. Wualah, kalau demikian kenapa saya diminta tolong (lagi) untuk mengedit?

Menulis (4.8): Dikecewakan Penerbit

Ersis Warmansyah Abbas
Sudah tiga kali naskah antologi puisi ini saya kirim ke penerbit dan ketiga kalinya dikembalikan. Alasan  penerbit tidak jelas, Pak. Penerbit berterima kasih dikirimi naskah, namun saat ini belum memungkinkan untuk diterbitkan. Siapa yang tidak putus asa Pak?
DIPASTIKAN penerbit mempunyai kriteria tertentu atas naskah yang akan diterbitkannya. Apalagi, menyangkut karya sastra. Tidak banyak penerbit yang menggebu-gebu menerbitkan antologi puisi. Sekalipun demikian tidak satu jalan untuk menerbitkan karya sastra.
 
Ada ketika saya ingin puisi saya diterbitkan. Setelah buku Nyaman Memahami ESQ dan Menulis Sangat Mudah diterbitkan kepada direktur penerbitnya meminta agar menerbitkan antologi puisi Surat Buat Kekasih. Alhamdulillah diterbitkan. Saya mendapat bocoran, menerbitkan karya pusi susah kembali modal. Ada memang karya sastra best seller, tetapi sangat sedikit. Saya tahu diri, bukan penyair sekelas Rendra.

Untuk antologi berikutnya bagaimana kalau saya biayai? Penerbit setuju.

Menulis (4.7): Duh … Teganya, Teganya

Ersis Warmansyah Abbas
Bagaiamana mau bersemangat Pak, apa yang saya tulis dilecehkan. Saya menulis tentang cita-cita, pengalaman, atau gagasan tentang memperbaiki negeri ini. Jangankan mendapat tanggapan positif, FB saya saja tidak dikomentari. Paling-paling di-like. 
RUPANYA, kawan kita yang satu ini penulis facebook, facebooker. Banyak hal yang dapat ditulis seputar tulis-menulis di facebook (FB). Ada yang memposting sesuatu di FB berharap mendapat perhatian berupa komentar dari berbagai kalangan bukan sekadar di-like. Kenyataannya, jangankan dikomentari, ada kalanya permintaan pertemanan saja tidak diindahkan. Begitulah dunia maya, sosial media. Tidak bisa dipaksa-paksakan.
 
Orang menyukai sesuatu tidak bisa dipaksa-paksa. Pertanyaannya: Kalau postingan dianggap penting, setidaknya menarik, oleh pembaca, bukankah dibaca dan dikomentari? Tidak dikomentari? Ya, bisa jadi karena memang tidak menarik dan tidak bermanfaat. Atau, orang sibuk dan cukup membaca dan mengambil hikmahnya. Kenapa harus diukur dengan komentar?

Harapan tersebut wajar saja. Konkretnya begini. Saya memposting tulisan atau foto pastilah karena ingin ”memperlihatkan” kepada masyarakat dunia maya, netizen, apa yang saya tulis atau foto. Kalau tidak, tulis saja untuk diri sendiri di diary. Postingan untuk dibaca khalayak.

Menulis (4.6): Tidak Direspon, Duh Gemes

Ersis Warmansyah Abbas
Menulis merupakan keinginan yang datang dari dalam diri. Sebagai penulis pemula, saya ingin direspon oleh teman-teman dunia maya. Tetapi, tetap saja tidak direspon. Memberanikan diri menayangkan puisi, eit dianggap angin lalu saja. Paling bagus diberi tanda jempol. 
SEORANG penulis senior menganjurkan, manakala mau tulisan direspon orang lain, respon terlebih dulu tulisan teman, komentari tulisan teman. Kata Beliau, banyak orang yang hanya meminta diperhatikan, tetapi tidak mau memperhatikan temannya. Sejak itu saya rajin merespon tulisan teman-teman dan tulisan saya pun mulai direspon. Selanjutnya memberanikan diri meminta kepada teman-teman dunia maya untuk mengkritisi tulisan saya. Sebab, saya ingin agar tulisan saya berkualitas. Apa yang terjadi?
 
Beberapa orang memang memberi saran dengan beradab, tetapi ada pula yang dengan entengnya mencaci maki. “Kamu itu kalau mau menulis banyak membaca terlebih duhulu. Belajar dulu tata bahasa. Apa tidak malu memposting tulisan seperti tulisan anak SD?” Teng.

Rasa-rasanya, siapa saja yang dicela pastilah merasakan ketidakenakan. Tidak nyaman. Hanya saja, begitulah risiko meminta dikritik. Marah atau gemas dicaci, namun bukankah dengan demikian semangat menaik ingin membuktikan diri mampu menulis. Sakit, namun menyemangati. Berpikir positif untuk maju.

Menulis (4.5): Perantau Dicaci-Maki

Ersis Warmansyah Abbas
Terus terang awalnya tidak kuat menerima hinaan terhadap tulisan saya yang berakibat down. Saya marah. Hanya saja kemana marah akan ditumpahkan, apalagi saya baru sekelas penulis di dunia maya. Jalan terbaik yang dapat dilakukan, akhirnya menangis.
BEGITU pengakuan seorang penulis pemula, pekerja migran di luar negeri. Padahal, seharusnya kalau seseorang tidak suka dengan tulisannya, itu haknya. Saya tidak memaksa dia membacanya. Tega benar dia. Hebatnya dia, biar saya geer he he, setelah membaca tulisan-tulisan Pak EWA, saya mengendalikan marah. Menurut Pak EWA, kalau dikritisi seseorang, kalau kritiknya konstruktif, jadikan masukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tulisan. Namun, kalau desktruktif, cuekin saja.
 
Ya, saya tahu persis tekad perempuan perantauan. Terkadang, tidak habis pikir, bekerja sepanjang hari menjaga orang jompo, mana peralatan menulis susah, bacaan susah dicari, namun semangat untuk menulis begitu mekar. Tidak dapat tidak, sungguh mengispirasi.

Alangkah celakanya, saya yang, tidak dikungkung kendala-kendala dasar menulis, beralasan ini itu. Bekerja untuk menyambung hidup di rantau, serba berkekurangan, namun semangatnya mematahkan kendala-kendala. Sungguh pejuang tangguh. Itu belum seberapa.

Puncaknya, tidak melayani kemarahan diri, tetapi menjinakkan dengan memahami, kepala sama-sama berambut, isi kepala bermacam-macam. Artinya, dia memberi ruang kepada orang lain berpikir dan berbuat sesuai dirinya.

Menulis (4.4): Mari Me-Manage Marah

Ersis Warmansyah Abbas
Sejujurnya, apabila saya menulis tentang sesuatu lalu memposting di facebook apabila dibaca dan dikomentar, apalagi  dengan pujian, Alhamdulillah. Sungguh menambah semangat untuk menulis. Tetapi, tetap mawas diri, pujian sebagai respon positif jangan sampai menjerumuskan kepada berpuas diri.
SEBALIKNYA, sedih dan terkadang marah apabila tulisan dicela tanpa argumen yang jelas, apalagi tanpa solusi. Pokoknya, jelek. Celaan demikian yang membangkitkan amarah. Memenej marah memang bukan perkara mudah. Pada awalnya yang muncul protes, kenapa orang tega-teganya mencela? Proses menulis dilakukan dengan segala perjuangan, dan setelah menjadi tulisan, dicela begitu saja. Siapa yang tidak marah.
 
Ketika sharing dengan seorang penulis terkenal, beliau menasehati, orang suka atau tidak suka, itu haknya. Bukankah setiap orang boleh saja berambut sama hitam, tetapi isi kepalanya jangan pernah diharap sama. Bagus bagi kita belum tentu baik menurutnya. Itulah persepsi, itulah kehidupan. Dan itu hak masing-masing orang.

Ya, orang tidak suka dengan tulisan kita, dengan karya kita, adalah haknya. Karena itu, tidak usah terganggu dengan penilaian. Beliau juga menasehati, mungkin belum dibacanya serius, atau pengetahuannya kurang dan menilai sesuai pendapatnya. Hal terbaik yang dilakukan, tanyakan kepada yang berkomentar, dimana salah dan kurangnya, minta masukan. Kalau dia hanya bisa mencela tanpa memberi solusi, cuekin saja.

Menulis (4.3): Gue Ngak Suka

Ersis Warmansyah Abbas
Saya sungguh tidak menyangka pengalaman seseorang, perempuan yang baru belajar menulis, penulis pemula, begitu buruknya. Begitu tulisannya dipublikasikan, bukan sekadar dicela, tetapi dicaci-maki. Tidak cukup sampai disitu, menurutnya sampai ditulis dengan tulisan besar: ”Demi Allah, Gue ngak suka”.
SAYA geleng-geleng kelapa, eit sori, geleng-geleng kepala, kok sampai begitu ya. Untungnya perempuan tangguh tersebut cuek. Prinsipnya bagus, terus menulis. Tidak peduli dikucilkan atau dijelek-jelekan. Disadarinya, apa yang ditulis, sekalipun benar menurutnya, kalau menurut orang lain salah, apa boleh buat. Menulis di group menulis, tulisannya dihapus oleh admin, karena berbeda pandangan.
 
Kata-kata pokoknya saya tidak suka bukanlah hal baru. Kata-kata tersebut terbetik dari seseorang yang tidak suka dengan seseorang dan apa pun yang ditulisnya. Jangankan tulisan yang salah, tulisan yang benar pun tidak disukainya. Masalah suka atau tidak suka sebenarnya hal lazim saja, tetapi kalau menjadi benci, ya tidak mengenal benar atau salah, baik atau buruk, bermanfaat atau tidak.

Ketika menulis tulisan ini, seorang teman bercerita, betapa segerombolan orang tidak menyukai kami. Apa sebab? Kami dekat dengan seseorang yang ingin didekati oleh banyak orang. Kira-kira mereka iri atau hasad. Hebatnya kami, apa pun isu yang ditimpakan, cuek bebek saja. Berakrab-akrab mana bisa dipaksa-paksa.