Dewiratri Nur’ilmi
Mahasiswa Jurusan HBS UIN Malang
Mahasiswa Jurusan HBS UIN Malang
TIDAK sedikit orang yang beranggapan bahwa menulis pekerjaan yang
membosankan. Menulis adalah hal yang kuno. Dari pemikiran tersebut
akhirnya menimbulkan sebuah mindset bahwa menulis itu sulit dan akan
merasa kesulitan saat hendak menulis. Manakala kita berpikiran negatif
terhadap suatu hal, maka itulah yang akan terjadi. Sama halnya dengan
menulis. Apabila kita beranggapan menulis itu sulit dan membosankan,
maka kita akan kesulitan. Begitu pula sebaliknya, apabila beranggapan
bahwa menulis itu mudah dan mengasyikkan, maka menulis begitu
mengasyikkan. Hal ini menunjukkan, bahwa motivasi diri untuk menulis
menimbulkan kepercayaan dan mindset positif terhadap menulis.
Beberapa faktor yang membuat seseorang merasa sulit menulis dan solusinya sebagai berikut :
1. Saya tidak berbakat menulis
Menulis itu tidak ada kaitannya dengan berbakat atau tidak. Jika menulis
dieratkan dengan bakat, bagaimana seorang anak TK pandai menulis
beberapa huruf dalam beberapa hari? Hal tersebut menunjukkan bahwa
kemampuan untuk menulis dimiliki setiap orang.
2. Saya tidak tahu apapun tentang menulis
Menulis adalah salah satu proses belajar. Seseorang belajar karena
ketidak tahuannya pada suatu hal. Hal ini pula yang terjadi dalam
menulis. Saat kita tidak mau menulis karena tidak tahu tentang menulis,
maka menulislah agar tahu dan mengerti apapun tentang menulis. Dengan
itu, kita akan mengerti apa dan bagaimana menulis itu.
3. Saya tidak ada imajinasi untuk menulis
Menulis memang sebagian dari seni. Dan seni identik dengan imajinasi.
Namun, apabila seseorang hendak menulis dan menundanya hanya karena
tidak dapat berimajinasi, lalu sampai kapan akan menunggu imajinasi
datang? Seperti halnya sebuah pengalaman, kita tidak akan tahu suatu
pelajaran berharga apabila kita tidak melakukan suatu hal dan
mendapatkan pengalaman. Maka dari itu, imajinasi itu perlu dijemput, dan
dijemput dengan memulai untuk menulis.
Saat seseorang menulis, maka secara spontan, imajinasi akan
berderetan muncul dan mengantre untuk dicurahkan dalam tulisan-tulisan
kita. Tak perlu khawatir dengan tulisan yang berantakan, tulis saja apa
yang muncul dalam otak. Tulisan adalah seni, dan seni itu tidak ada yang
jelek, itu merupakan sebuah mahakarya. Sedangkan menulis adalah
belajar, kesalahan dalam belajar adalah hal yang wajar. Inilah proses
untuk menjadi penulis yang baik.
4. Saya menulis di keheningan dan ketenangan
Dalam menulis dan berkarya, seseorang memang memiliki suatu kekhasan dan
tingkat konsentrasi sendiri. Ada yang senang menulis dalam suasana yang
tenang, ada juga yang senang menulis dalam suasana yang ramai. Namun
hal ini bukan berarti menjadi sebuah halangan. Dengan memanfaatkan
suasana lingkungan, biasanya akan lebih memudahkan seseorang untuk
menulis. Dengan merasakan dan melihat lingkungan disekitar, maka
seseorang hanya tinggal menyalinnya kedalam tulisan. Dengan memanfaatkan
suasana lingkungan disekitar inilah lebih memudahkan seseorang dalam
berkarya tanpa harus mencari-cari imajinasi. Karena apa yang akan
ditulis, sudah tersedia dihadapan mata.
5. Apa yang harus saya tulis?
Pertanyaan tersebut sering terjadi pada siapapun yang hendak memulai
menulis. Dalam segala hal, memulai memang sesuatu yang sangat sulit.
Namun akan lebih mudah jika kita langsung mengungkapkan apa yang
dirasakan. Karena itu banyak orang yang biasanya menuliskan kisah
lika-liku kehidupannya ke dalam buku harian (buku diary). Selain
memberikan rasa lega, menulis mengasah kreativitas dan menghindarkan
dari gosip yang tidak bermanfaat. Manfaat lain berupa pembelajaran
kepada pembaca atas hikmah dari apa yang kita alami dan tulis. Menulis
sarana berbagi pengalaman dan ilmu.
Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa setiap orang bisa menulis dan setiap orang
adalah penulis.
Selamat menulis.
0 Comment to "Menulis (4.2) Everyone Is Writer"
Post a Comment