Thursday, 8 December 2016

Menulis (3.1): Disoal, Ya Menulis Lagi

Ersis Warmansyah Abbas
Beraktivitas didasari niat tulus, lillahi ta’ala, dan dengan ativitas positif pengakuan akan datang tanpa diharap. Jangan pernah memupuk kesal dan maafkanlah Si Pencela. Allah SWT bersama orang berbuat dan pemaaf.

SABAR. Pagi itu saya kaget dengan reaksi seorang teman. “Tidak intelek”, katanya kesal. Karena kaget, sekalipun menyetir, saya melihat ke belakang. Seorang teman yang memulai kisah saya pandang dengan tatapan tajam. Saya dengan teman yang rada kesal mendengar kesah teman sejawat yang kami bina sejak mahasiswa sampai mahasiswa S3.

Alkisah, seminggu sebelumnya saya ditelepon panitia lokal untuk pelatihan guru di hotel terkenal di Banjarmasin yang sebulan sebelumnya meminta izin agar nama saya bersama dua nama teman lainnya diajukan sebagai nara sumber. Saya tidak merespon. Saya menyelesaikan penelitian kerja sama dengan suatu instansi. Tetapi, terus didesak, dan dijawab sekenanya saja: “Terserah saja.” Lalu, melupakan tawaran tersebut.

Eit, “Orang-Orang Jakarta” memilih saya. Padahal, saya tidak mengenal mereka. Lanjutannya yang kurang sedap. Si Teman bercerita keluhan teman yang lain: “Kenapa Ersis yang dipilih?” Si Teman menceritakan proses menjadinya. Dia yang mengirim nama saya melalui panitia lokal. Siapa yang dipilih hak “Orang-Orang Jakarta.” Hal tersebut menyulut kekesalan teman yang juga sering diundang sebagai nara sumber.

Maksud saya, kejadian biasa-biasa saja, sekalipun kalau dianalisis secara psikologis menantang, bisa dijadikan bahan tulisan. Kejadian sederhana tersebut memicu untuk menatap diri lebih dalam (introspeksi). Sekalipun sering bepergian dan menjadi nara sumber untuk banyak hal, jangan-jangan memang saya tidak pantas sebagai nara sumber. Introspeksi lebih bermanfaat dibanding mengumbar kesal dan kekesalan.

Bambang boleh kesal kepada kawan yang mungkin berpikir: “Kenapa tidak dia yang dipilih?” Saya memahami reaksinya. Kami senasib memang karena sering diundang. “Santai saja, Bro. Allah SWT menciptakan manusia beragam-ragam. Pasti ada manfaatnya”, kata saya.

Lanjutannya, seperti biasa kami membawa persoalan ke ranah canda. Berbagai cerita mengalir sepanjang perjalanan Banjarbaru-Banjarmasin selama 55 menit. Yang kasihan teman yang berkisah. Dia tidak mampu memahami sikap seseorang yang mempertanyakan keterpilihan orang lain.
Saya katakan: “Pak, ketidakpercayaan orang lain kepada kita, bukan masalah kita, tetapi masalah mereka yang memasalahkan.

Saya paham, dia tidak membutuhkan nasehat semacam itu, sebab dia sudah sangat paham siapa kami. Saya mengingatkan kepada diri sendiri dan pembaca, manakala kita terganggu karena penilaian orang, dan atau, ketika aktivitas dan kepercayaan orang atau lembaga kredibel kepada kita, kita akan bertekuk lutut. Rupa-rupa kerugian segera terpetik.

Karena itu, mari jadikan soalan dari orang lain, untuk memacu dan memicu guna memperbaiki diri. Dalam menulis, seperti juga beraktivitas lainnya, menyangkut kepercayaan orang kepada kita, tidak usah terganggu komentar orang. Harap dicamkan, setiap orang mempunyai jalan kehidupan sendiri.

Kalau berkehendak menulis, kalau berbingung-bingung dengan penilaian orang lain, energi akan tersedot, rasa dan pikiran akan terganggu. Pilihan saya, anggap tidak pernah ada orang-orang seperti itu. Maafkan, dan terus beraktivitas. Rebes.

Lebih dari itu, dengan sikap maaf dan memaafkan, tidak terjadi masalah. Setiap hal dapat dijadikan tulisan, yang Insya Allah, bermanfaat bagi pembaca untuk diambil hikmahnya. Reaksi kita atas sesuatu menentukan apa yang kita hasilkan karenya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.1): Disoal, Ya Menulis Lagi"

Post a Comment