Ersis Warmansyah Abbas
Beraktivitas didasari niat tulus, lillahi ta’ala, dan dengan ativitas positif pengakuan akan datang tanpa diharap. Jangan pernah memupuk kesal dan maafkanlah Si Pencela. Allah SWT bersama orang berbuat dan pemaaf.
SABAR. Pagi itu saya kaget dengan reaksi seorang teman. “Tidak intelek”, katanya kesal. Karena kaget, sekalipun menyetir, saya melihat ke belakang. Seorang teman yang memulai kisah saya pandang dengan tatapan tajam. Saya dengan teman yang rada kesal mendengar kesah teman sejawat yang kami bina sejak mahasiswa sampai mahasiswa S3.
Alkisah, seminggu sebelumnya saya ditelepon panitia lokal untuk
pelatihan guru di hotel terkenal di Banjarmasin yang sebulan sebelumnya
meminta izin agar nama saya bersama dua nama teman lainnya diajukan
sebagai nara sumber. Saya tidak merespon. Saya menyelesaikan penelitian
kerja sama dengan suatu instansi. Tetapi, terus didesak, dan dijawab
sekenanya saja: “Terserah saja.” Lalu, melupakan tawaran tersebut.
Eit, “Orang-Orang Jakarta” memilih saya. Padahal, saya tidak mengenal
mereka. Lanjutannya yang kurang sedap. Si Teman bercerita keluhan teman
yang lain: “Kenapa Ersis yang dipilih?” Si Teman menceritakan proses
menjadinya. Dia yang mengirim nama saya melalui panitia lokal. Siapa
yang dipilih hak “Orang-Orang Jakarta.” Hal tersebut menyulut kekesalan
teman yang juga sering diundang sebagai nara sumber.
Maksud saya, kejadian biasa-biasa saja, sekalipun kalau dianalisis
secara psikologis menantang, bisa dijadikan bahan tulisan. Kejadian
sederhana tersebut memicu untuk menatap diri lebih dalam (introspeksi).
Sekalipun sering bepergian dan menjadi nara sumber untuk banyak hal,
jangan-jangan memang saya tidak pantas sebagai nara sumber. Introspeksi
lebih bermanfaat dibanding mengumbar kesal dan kekesalan.
Bambang boleh kesal kepada kawan yang mungkin berpikir: “Kenapa tidak
dia yang dipilih?” Saya memahami reaksinya. Kami senasib memang karena
sering diundang. “Santai saja, Bro. Allah SWT menciptakan manusia
beragam-ragam. Pasti ada manfaatnya”, kata saya.
Lanjutannya, seperti biasa kami membawa persoalan ke ranah canda.
Berbagai cerita mengalir sepanjang perjalanan Banjarbaru-Banjarmasin
selama 55 menit. Yang kasihan teman yang berkisah. Dia tidak mampu
memahami sikap seseorang yang mempertanyakan keterpilihan orang lain.
Saya katakan: “Pak, ketidakpercayaan orang lain kepada kita, bukan masalah kita, tetapi masalah mereka yang memasalahkan.
Saya paham, dia tidak membutuhkan nasehat semacam itu, sebab dia
sudah sangat paham siapa kami. Saya mengingatkan kepada diri sendiri dan
pembaca, manakala kita terganggu karena penilaian orang, dan atau,
ketika aktivitas dan kepercayaan orang atau lembaga kredibel kepada
kita, kita akan bertekuk lutut. Rupa-rupa kerugian segera terpetik.
Karena itu, mari jadikan soalan dari orang lain, untuk memacu dan
memicu guna memperbaiki diri. Dalam menulis, seperti juga beraktivitas
lainnya, menyangkut kepercayaan orang kepada kita, tidak usah terganggu
komentar orang. Harap dicamkan, setiap orang mempunyai jalan kehidupan
sendiri.
Kalau berkehendak menulis, kalau berbingung-bingung dengan penilaian
orang lain, energi akan tersedot, rasa dan pikiran akan terganggu.
Pilihan saya, anggap tidak pernah ada orang-orang seperti itu. Maafkan,
dan terus beraktivitas. Rebes.
Lebih dari itu, dengan sikap maaf dan memaafkan, tidak terjadi
masalah. Setiap hal dapat dijadikan tulisan, yang Insya Allah,
bermanfaat bagi pembaca untuk diambil hikmahnya. Reaksi kita atas
sesuatu menentukan apa yang kita hasilkan karenya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.1): Disoal, Ya Menulis Lagi"
Post a Comment