Ersis Warmansyah Abbas
Tingkatan pendidikan formal seseorang, apalagi pencapaian gelar akademik bukanlah penentu atau jaminan seseorang aktif, kreatif, atau hebat menulis.
ASAP. Penulis harus percaya diri. Tangguh?
Yes. Setidaknya tidak mudah dipatahkan komentar atau penilaian orang
(tertentu). Ada penulis (pemula) yang bertekuk lutut karena karya
tulisnya dianggap oleh mereka yang menasbihkan diri sebagai kritikus,
tidak layak. Payah. Akibatnya, mengamini Si Kritikus dan hands ups
menulis.
EWA terganggu dengan kritikan? Ngak. Saya belajar banyak dari
kritikan, tetapi tidak oleh kritikus “bulus”. Kepada para sahabat,
memohon agar buku-buku saya diblejeti yang adakalanya dibayar, tetapi
sering gratis he he. Prof. DR. Jumadi, M.Pd., pakar pendidikan Bahasa
Indonesia, sering dimintai tolong untuk mengkritik. Mereka yang menulis
tidak jelas, karyanya ngak jelas, ah ngaklah.
Ya, saya menulis karena percaya diri dan terus-menerus memupuknya.
Kalau tidak, mana mungkin menulis begitu ”subur”, kalau mengebalkan diri
atas kritikan. Sekali lagi, bukan menafikan kritikan, tetapi kritikan
untuk introspeksi. Biarkan saja orang dengan omongannya, termasuk merasa
hebat, saya memilih melatih diri menulis. Minimal, menghasilkan
tulisan. Apa yang dihasilkan omongan, apalagi dengan maksud menyakiti
orang?
Ketika novel pertama saya, ASAP, terbit dan dijual di toko-toko buku,
dinilai seseorang yang mengaku-ngaku sastrawan, dengan segala caci-maki
berbeking argumen teoritiknya. Saya tertawa saja menyimak perilaku
“kurang cerdas” tersebut. “Kurang cerdas?” Ya, iyalah.
Saya menulis novel ASAP dalam katup belajar. Seumur-umur baru pertama
kali menulis novel. Ternyata seru. Diterbitkan, dipajang di toko buku,
dan dibeli orang. Tujuan saya belajar menulis novel. Orang suka dan
membelinya, bukan masalah saya. Mampu menulis novel saja prestasi luar
biasa. Seorang penulis novel hebat menawarkan jasa untuk mendandaninya
yang saya tolak dengan terima kasih. Dia mencederai niat saya belajar
menulis novel.
Ya, saya belajar menulis novel. Tidak berniat agar menjadi novel best
seller atau diakui para kritikus. Sekalipun bukan sastrawan, apalagi
mengaku-ngaku sastrawan, jelek-jelek begini sejak kelas lima SD sudah
membaca novel kelas dunia dan mengoleksi beragam novel. Novel ASAP hasil
belajar EWA? Soal cetakan pertama banyak dibeli orang, sekali lagi,
bukan urusan EWA.
Alur berpikir saya sederhana. Saya ingin (belajar) menulis novel,
dilakukan dan jadilah novel ASAP. Yang membuat tertawa, ya itu tadi.
Bagaimana orang yang, bisa jadi, berkehendak menulis novel sepanjang
hidupnya, tetapi tidak berkemampuan, lalu merasa hebat dengan mencela?
Bahkan, bak “Tuhan”; penentu novel bagus seperti ini-itu, seperti
pikirannya. Bapak saya mengajarkan, lebih baik berbuat (berkarya)
daripada mencela.
Kalau menilai, anak SD juga bisa. Membaca novel? Menikmati novel? Saya
sering ditegur gara-gara kecanduan membaca novel apalagi serial Kho
Phing Hoo he he. Menulis novel? Nah, itu dia. Dari 250 juta penduduk
Indonesia, berapa orang sih yang menulis novel? Sesekali jadi “produsen”
tidak apalah, masyak sih jadi konsumen terus.
Akhirnya, dalam kaitan menulis, jangan terganggu, apalagi memberi
peluang bagi celaan atau soalan orang sehingga aktivitas (menulis) kita
terganggu. Yang harus dilakukan, apa pun penilaian orang lain, ambil
manfaatnya bila ada, dan buang ke laut lepas jika semacam hoax, dan
seperti contoh tulisan ini, tulis. Bila ditulis, pikiran menjadi plong,
dan mana tahu bermanfaat bagi pembaca.
Jadi, jangan pernah menyimpan hal-hal yang negatif. Ambillah dan
manfaat kepositifan dari hal paling negatif sekalipun. Selamat menulis.
Bagaimana Menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.2) Dihajar, Menulis Sebagai Pembelajaran"
Post a Comment