Ersis Warmansyah Abbas
MEMBACA novel Laskar Pelangi karya Andrea atau Negara Lima Menara karya Ahmad Fuady timbul keinginan untuk menulis novel dengan genre sama. Bahkan, kalau sok diri lagi berkibar, terbetik di pikiran, novel karya sendiri (akan) lebih hebat. Salah?
TENTU saja tidak selama dilakukan. Masalahnya adalah, tidak
melakukan. Atau, menulis satu dua alinea dan mandek. Bagaimana mau
menandingi, novel sendiri tidak pernah ditulis atau tidak pernah
selesai. Ibarat kata, mimpi. Bermimpi.
Ada pula, yang tidak sanggup menulis novel, tetapi membahas novel
tersebut, apakah menyanjung atau mencela, lalu berlagak seolah-olah
lebih hebat dari penulisnya. Pokoknya kalau sudah membahas merasa hebat.
Bahkan, seolah-olah menandingi penulisnya, dan berlagak: “Gua hebat
bukan?” Salah? Tentu saja tidak. Masalahnya, mau menulis novel atau mau
berlagak atau menumpang hebat dengan karya orang lain? Menulis novel
sendiri? Hanya mimpi. Hanya ada dalam impian. Menumpang kehebatan karya
orang mengasyikkan bagi pecundang.
Bahkan, ada yang dengan gagah perkasa berlagak, mempertontonkan
bacaan novel ini novel itu. Salah? Tentu saja tidak. Bukan soal sombong,
saya membaca ratusan novel kelas dunia sampai novel kacangan, dan
mengoleksi novel karya penulis dalam dan luar negeri. Dan, kalau ada
yang melagak dengan bangga mempertontonkan bacaan, Alhamdulillah. Kalau
tertarik novelnya dibeli dan dinikmati. Saya memang penyuka novel dan
hobi mengoleksinya. Masalahnya, mau memasihkan menulis atau mau
berlagak?
Kalau mau menulis novel ya tulis saja. Kalau mau memasihkan menulis,
tulis novelnya. Kalau ingin membangun kebanggaan atas karya sendiri,
tulis novel sendiri. Kalau novel sudah terbit dan dibaca banyak orang,
berbanggalah. Berbangga dengan karya orang tentu tidak salah. Membangun
kebanggaan atas karya sendiri tentu lebih baik.
Membangun kemampuan menulis dengan menulis. Membangun kebanggaan
dengan karya sendiri dengan menulis. Tidak ada cara lain. Kalau ingin
menumpang bangga kepada karya orang cukup dengan membaca karya orang.
Tidak salah. Jauh lebih baik dari tidak membaca.
Saya pernah berurusan dengan pemimpi yang tidak pernah berkarya.
Ketika menulis novel ASAP dibanding-bandingkan dengan novel Snow karya
Orhan Pamuk. Jelas saja berbeda, Pamuk penulis tingkat dunia, EWA baru
belajar menulis novel. Menulis buku serial menulis disulang: “Menulis
buku kok banyak amat, satu buku saja cukup agar pembaca tidak bosan.”
Badannya gatal-gatal temannya berkarya dan dia bangga tanpa karya.
Saya senyum saja. Setelah menulis buku pertama, dia bermimpi menulis
buku. Saya telah menulis puluhan buku, dia masih bermimpi menulis buku.
Kemampuan bermimpinya menjadi-jadi, bermimpi, bermimpi, dan bermimpi
(lagi). Membangun kemampuan bermimpi tentu berbeda dengan membangun
kemampuan menulis. Yang pertama hasilnya impian, yang kedua hasilnya
buku. Saya memilih menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.5): Bermimpi, Bermimpi dan Bermimpi (Lagi)"
Post a Comment