Ersis Warmansyah Abbas
“Pak, banyak hal yang hendak saya tulis, calon tulisan bermain-main di otak untuk dituliskan. Bagaimana cara memulainya?” Tidak sedikit pertanyaan senada diajukan kepada saya. Jawaban saya: “Tulis saja”. Memulai kok susah. Apa yang terpikirkan dan ada dipikirkan tuliskan. Mudah bukan?
DISADARI atau bukan, yang membuat susah (memulai) menulis karena
memikirkan apa kata atau kalimat pembukanya. Kalau sudah demikian
diskusi di otak bisa berpanjang-panjang. Naga-naganya, kata ini kurang
pas, kalimat ini tidak tepat, dan sebagainya.
Susah memulai menulis, sulit menuangkan pikiran, bisa jadi karena kurang
memiliki kosakata, atau lebih serius lagi, bekingan pengetahuan tentang
hal tersebut tidak mendukung. Kurang kosakata berarti tidak memiliki
konsep memadai; konsep yang ”diwakili” kata. Kata ”danau” misalnya,
mengandung arti genangan air yang amat luas, dikelilingi daratan;
telaga, tasik. Untuk memahami konsep danau kita harus mempunyai
pengetahuan tentang danau sehingga mampu memahami definisinya yang
diwakilkan kepada kata ”danau.”
Begitulah. Lebih parah kalau keluhan sudah memulai menulis dilengkapi
dengan keluhan tentang ketidakadaan komputer, laptop belum dibeli,
listrik byarpet, tidak mempunyai uang, atau keluhan lainnya yang
seolah-olah mempunyai kaitan langsung dengan menulis. Mengeluh,
mengeluh, dan mengeluh (lagi).
Selama mengumandangkan keluhan, merasakan nyaman mengeluh tentang
menulis dibanding melakukan (menulis), sebenarnya merupakan cara lain
untuk mencari ”kambing hitam.” Akal-akalan mereka yang tidak mau
mengakui kelemahan diri yang berakibat berkesulitan menulis. Siapa yang
menjadikan keluhan sebagai ”panglima” dia berkesulitan menulis. Menulis
melakukan, bukan mengeluh. Sulit menuangkan pikiran latih dengan
menulis. Kurang kosakata perbanyak kosakata.
Tidak memiliki komputer, pergilah ke komputer.
Di Indonesia, listrik doyan byarpet, tetapi bagi yang bergairah menulis
bukan alasan untuk berhenti menulis. Kalau listrik PLN belagu,
istirahatlah menulis. Kalau sudah ‘waras”, menulis lagi. Kinerja PLN ya
begitu itu. Mengeluh? Rugi sendiri. Lebih rugi, dijadikan alasan untuk
tidak menulis.
Itu belum seberapa. Seseorang yang membaca nasehat orang lain bahwa
menulis yang nyaman itu harus dalam suasana hati (mood), in the mood.
Tempatnya sejuk, penerangannya cukup, ada makanan dan minuman memadai,
dan bla-bla. Waduh, kalau demikian kapan saya bisa menulis? Apalagi,
kalau dikaitkan dengan kemampuan ekonomi. Bisa-bisa tidak menulis sebab
tidak memenuhi persyaratan tersebut.
Sikap saya, menulis dengan apa yang dipunyai. Kalau sedih atau
gembira, lagi di rumah atau bepergian, menulis saja. Memang, kondisi dan
suasana kondusif lebih menyamankan dalam menulis, namun kalau tidak
mampu merengkuhnya lalu tengkurap menulis? Ah, yang benar saja.
Kalau lagi tidak mempunyai uang, atau memprediksi bulan berikut
pemasukan seret, beraksilah, menulis yang banyak. Mana tahu, setelah
dimuat media cetak mendapatkan honor. Atau, membuat proposal penelitian
dan penulisan, mana tahu diterima dan ada pemasukan. Apa hebatnya
menggadaikan kekurangan kepada keluhan? Lebih bijak melawan keluhan
dengan berbuat yang dalam menulis berarti melakukan (menulis).
Saudara-saudara sekalian. Menulis adalah tindakan merdeka. Menulis
tidak dikungkung apa pun. Kita dapat menulis dimana pun, kapan pun, dan
pada suasana apa pun. Bahkan, kalau tidak sempat menulis secara
konvensional (mengetik) kita bisa menulis di otak. Kalau kondisi sudah
memungkinkan, tulisan di otak ditulis (diketik).
Mengeluh? Pertanda kita masih manusia. Tetapi, mengeluh, mengeluh,
dan mengeluh (lagi), jalan lempang untuk tidak mengatasi masalah.
Camkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.4): Mengeluh, Mengeluh dan Mengeluh (Lagi)"
Post a Comment