Ersis Warmasyah Abbas
Takut bertanya sesat di jalan. Begitu pepatah popular. Tidak ada yang salah dengan pepatah tersebut. Hanya saja, saya terbahak-bahak membaca komentar bernada marah seorang teman yang bertanya tentang sesuatu. Orang bertanya kok tertawa?
HALNYA adalah, dengan semangat setengah protes dan sedikit menghina,
Si Penanya mempertanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ditanyakan. Apa
sebab? Kalau jeli, cukup membaca pengumuman dia akan paham. Tetapi, ya
itu tadi, dia memilih bertanya, bertanya, dan bertanya (lagi).
Kenapa orang bertanya? Karena tidak mengerti, karena tidak paham.
Kenapa tidak mengerti, kenapa tidak paham? Banyak penyebabnya. Namun,
kalau tidak paham karena tidak membaca pengumuman yang terang-benderang
sungguh keterlaluan. Mau enaknya saja. Bertanya dan orang lain
diwajibkan menjawab. Padahal, hal sepele saja. Memberi orang pekerjaan
saja. Lalu, bagaimana agar memengerti atau memahami sesuatu?
Cara terbaik, membaca. Boleh pula mengamati. Pemahaman tidak datang
dari luar diri, tetapi dari diri sendiri. Kalau diri tidak digerakkan
untuk mengerti sesuatu, sehebat apa pun stimulus dari luar tidak akan
membuahkan pengertian, apalagi pemahaman. Dalam kaitan menulis,
memengerti dan memahami sesuatu yang akan ditulis hal sangat mendasar.
Dengan kata lain, kalau berkehendak menulis sesuatu ya pahami sesuatu
tersebut. Bertanya hal paling belakang.
Masih ingat kalimat saya, murid dan guru menulis adalah diri sendiri?
Ya, untuk menulis kita wajib memahami diri sendiri; pengetahuan,
perasaan, daya pikir, dan sebagainya. Kalau sudah memahami, di-manage.
Manajemen diri adalah titik berangkat aktivitas menulis. Bukan bertanya.
Apa sebab?
Masih ingat kalimat saya, menulis menuangkan pikiran? Ya, menulis
adalah aktivitas menuliskan apa yang telah dipikirkan, apa yang ada di
pikiran, apa-apa yang telah disimpan di memori (otak). Kalau bertanya,
bertanyalah pada diri sendiri. Ingat, tidak seorang pun tahu pasti apa
yang ada di pikiran Sampeyan. Orang lain paling-paling bisa menerka atau
mengira-ngira.
Sekali lagi, bertanya bukanlah salah. Sekalipun demikian, mencari
tahu lebih bagus. Manakala kita mengembangkan kemampuan mencari tahu
banyak hal, tentu tidak perlu bertanya (lagi). Ada orang yang ketika
membaca kata elaborasi, sarkastis, nuansa, dan sejenisnya, lebih memilih
bertanya. Padahal, ada cara paling mudah, yaitu melihat kamus. Tidak
memiliki kamus cetak, di dunia maya banyak tersedia kamus aneka rupa.
Tinggal mau apa tidak saja (lagi).
Pada era internet ini manakala kita ingin mengetahui sesuatu dengan
cepat keingintahuan akan terpenuhi. Ketik kata yang kita kehendaki dalam
seketika informasi menyangkut kata tersebut akan tersedia. Setidaknya,
kita mendapatkan informasi awal. Tidak usah bertanya. Dengan mencari
sendiri pemahaman tentang hal tersebut lebih mudah dipahami dan menjadi
pengetahuan di memori.
Kalau demikian adanya, pertanyaannya: Apa mau tetap bersikukuh
bertanya atau mengaktifkan diri untuk mencari jawaban atas masalah yang
dihadapi? Pilihan pertama pertanda manusia pemalas, dan yang kedua, akan
mendatangkan pemahaman. Mau memilih yang mana?
Soal pilih-memilih urusan masing-masing. Bertanya? Silakan kalau
kepepet. Kalau karena malas, kasihan yang ditanya. Waktunya akan
tersedot. Tidak semua hal harus ditanyakan.
Mari kita kurangi bertanya dan menukarnya dengan mencari tahu.
Sebagai penulis, mencari tahu sama pentingnya dengan ”menuangkan” apa
yang kita ketahui alias menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.2): Bertanya, Bertanya, dan Bertanya (Lagi)"
Post a Comment