Ersis Warmansyah Abbas
Menulis, apalagi memilih profesi menulis, bukanlah keputusan yang mudah. Dan, saya telah memilih profesi menulis. Pembelajarannya, untuk memilih profesi tersebut kita harus kuat, tahan mental, terutama dari pandangan sebagian orang. Kok begitu?
ALKISAH, seorang teman, setelah lulus kuliah, jangan-jangan memang nekad
ini orang, memutuskan untuk menjadi penulis. Dia tidak memilih kerja
kantoran. Pilihan tersebut tentu sesuai nuraninya dan tentu setelah
melalui berbagai pertimbangan. Tekadnya bulat.
Ndilalah, jangankan mendapat dukungan, justru dijadikan ajang cemoohan.
Beberapa orang, tentu saja temannya, berkomentar negatif, mencemeeh atas
kehendaknya menjadi penulis. “Bro, menulis itu tidak mempunyai masa
depan. Ngapain Loe susah-susah kuliah kalau ujung-ujungnya hanya menjadi
penulis?” Cemeehan tersebut, ini pula tidak eloknya, membuat dia drop.
Padahal, kawan kita ini telah menerbitkan satu buku karya sendiri, dua
buku antologi, plus buku bersama sebagai anggota tim penulis skenario.
Tetapi, untunglah dia kembali ke jalan yang benar. Dorongan dirinya
meyakinkan, akan membuktikan bahwa dia akan survive dengan menulis.
Menulis bukan sekadar profesi yang hanya menghasilkan fulus, tetapi
lebih dari itu, bisa menginspirasi, memotivasi, dan berbagi.
Saya salut dengan kawan ini. Betapa tidak. Dia mempunyai tekad untuk
menulis dan dilakukannya. Ketika datang deraan dari luar diri, cemeeh
dari mereka yang bisa jadi, menulis sekalimat saja tengkurap, kesadaran
diri bangkit. Buat apa mempedulikan cemeeh, patah arang gara-gara
penilaian. Dia lebih memilih apa yang dia mau dibanding apa yang dimaui
orang lain.
Dikritik sampai dihujat, manakala kita cerdas memaknainya, ibarat
pupuk penguat tekad. Ibarat pohon, semakin tinggi pohon dibutuhkan akar
penguat, dan deraan angin untuk menguatkan akar. Kalau akar tidak kuat,
pohon akan tumbang. Apa pun yang datang dari luar diri dalam layangan
destruktif jangan sampai menumbangkan semangat dan tekad. Penentu diri
seseorang adalah dirinya. Orang-orang bodoh saja yang kalah dengan
cemeehan. Cemeeh kok dijadikan landasan kekalahan.
Sebagai orang yang telah menulis ribuan tulisan, puluhan buku, saya
tidak steril dari cemeehan. Sudah kebal. Saya pernah dihadapkan pada
panitia ad hock yang dibentuk oleh petinggi kampus untuk menyidangkan
tulisan saya. Kapok atau berhenti menulis? Ngak tu, malah lebih
bersemangat.
Menulis, kalau boleh merujuk Abraham Maslow dengan Hirarki
Kebutuhan-nya, bisa jadi melevel Aktualisasi Diri. Karena itu, kritikan
atau cemeehan, mari jadikan pelecut semangat, pemicu dan pemacu lajuan
menulis. Apalagi, kalau hanya dari mereka yang terbukti letoy menulis.
Cuekin saja. Habis perkara.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.7): Uuh … Nyebelin Banget"
Post a Comment