Monday, 12 December 2016

Menulis (3.7): Uuh … Nyebelin Banget

Ersis Warmansyah Abbas
 Menulis, apalagi memilih profesi menulis, bukanlah keputusan yang mudah. Dan, saya telah memilih profesi menulis. Pembelajarannya, untuk memilih profesi tersebut kita harus kuat, tahan mental, terutama dari pandangan sebagian orang. Kok begitu?

ALKISAH, seorang teman, setelah lulus kuliah, jangan-jangan memang nekad ini orang, memutuskan untuk menjadi penulis. Dia tidak memilih kerja kantoran. Pilihan tersebut tentu sesuai nuraninya dan tentu setelah melalui berbagai pertimbangan. Tekadnya bulat.
 
Ndilalah, jangankan mendapat dukungan, justru dijadikan ajang cemoohan. Beberapa orang, tentu saja temannya, berkomentar negatif, mencemeeh atas kehendaknya menjadi penulis. “Bro, menulis itu tidak mempunyai masa depan. Ngapain Loe susah-susah kuliah kalau ujung-ujungnya hanya menjadi penulis?” Cemeehan tersebut, ini pula tidak eloknya, membuat dia drop. Padahal, kawan kita ini telah menerbitkan satu buku karya sendiri, dua buku antologi, plus buku bersama sebagai anggota tim penulis skenario.

Tetapi, untunglah dia kembali ke jalan yang benar. Dorongan dirinya meyakinkan, akan membuktikan bahwa dia akan survive dengan menulis. Menulis bukan sekadar profesi yang hanya menghasilkan fulus, tetapi lebih dari itu, bisa menginspirasi, memotivasi, dan berbagi.

Saya salut dengan kawan ini. Betapa tidak. Dia mempunyai tekad untuk menulis dan dilakukannya. Ketika datang deraan dari luar diri, cemeeh dari mereka yang bisa jadi, menulis sekalimat saja tengkurap, kesadaran diri bangkit. Buat apa mempedulikan cemeeh, patah arang gara-gara penilaian. Dia lebih memilih apa yang dia mau dibanding apa yang dimaui orang lain.

Dikritik sampai dihujat, manakala kita cerdas memaknainya, ibarat pupuk penguat tekad. Ibarat pohon, semakin tinggi pohon dibutuhkan akar penguat, dan deraan angin untuk menguatkan akar. Kalau akar tidak kuat, pohon akan tumbang. Apa pun yang datang dari luar diri dalam layangan destruktif jangan sampai menumbangkan semangat dan tekad. Penentu diri seseorang adalah dirinya. Orang-orang bodoh saja yang kalah dengan cemeehan. Cemeeh kok dijadikan landasan kekalahan.

Sebagai orang yang telah menulis ribuan tulisan, puluhan buku, saya tidak steril dari cemeehan. Sudah kebal. Saya pernah dihadapkan pada panitia ad hock yang dibentuk oleh petinggi kampus untuk menyidangkan tulisan saya. Kapok atau berhenti menulis? Ngak tu, malah lebih bersemangat.

Menulis, kalau boleh merujuk Abraham Maslow dengan Hirarki Kebutuhan-nya, bisa jadi melevel Aktualisasi Diri. Karena itu, kritikan atau cemeehan, mari jadikan pelecut semangat, pemicu dan pemacu lajuan menulis. Apalagi, kalau hanya dari mereka yang terbukti letoy menulis. Cuekin saja. Habis perkara.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.7): Uuh … Nyebelin Banget"

Post a Comment