Monday, 12 December 2016

Menulis (3.8): Kecewa Setelah Menulis

Ersis Warmansyah Abbas
Dengan amat bersemangat, seorang penulis pemula, menulis cerpen yang kemudian diposting di sebuah grup. Cerpen tersebut sesungguhnya sangat layak sebagai cerpen. Buktinya, teman-teman sekantornya menanggapi gegap gempita, bahkan berlebihan. Apa pasal?
CERPEN tersebut terinspirasi dari kisah temannya. Sekalipun tokoh cerpen tidak memakai nama temannya yang kisahnya menginspirasi, kisahnya terendus teman-temannya. Teman-temannya, terutama karyawati di tempat dia bekerja, mencap dia tidak berperasaan. Kok tega-teganya, menuliskan kisah teman. Sungguh, kejam dikau. Akibat lanjutnya, si penulis cerpen dijauhi teman-temanya yang membuat dia shock dan teramat sedih.
 
Bagaimana tidak, klarifikasinya tidak dianggap. Argumen bahwa cerpen tersebut sekadar terinspirasi dari kehidupan teman, bukan melulu menceritakan kisah si teman, dicuekin. Salah dan disalahkan tanpa ampun. Padahal, teman yang mengispirasi oke-oke saja dan dia telah membaca sebelum cerpen tersebut diposting.
 
Akibatnya, dia kapok menulis. Trauma menulis cerpen. Merasakan pilu dijauhi teman-teman. Dan, dia mengambil tindakan drastis, beralih menulis puisi. Nah, kalau demikian adanya, Si Berbakat menulis cerpen tersebut telah bunuh diri. Kok tega-teganya khatam menulis cerpen padahal bakatnya disitu. Keterlaluan memang. Rugi.

Sekalipun demikian, beralih profesi dari menulis cerpen menjadi menulis puisi, bukanlah hal jelek. Bagaimana pun dia tetap menulis. Kalau ada yang perlu disayangkan, kenapa dia tidak mendwifungsikannya, terus menulis cerpen dan menulis puisi. Kalau hal sedemikian yang menjadi pilihannya, tentu lebih baik.

Ketika menulis cerpen, hasilnya cerpen, sebenarnya dia telah membuktikan kemampuannya. Nyatanya, direspon teman-teman. Tetapi, bukankah kontroversial Pak? Ya, perhatikan apa yang dilakukan Dewi Persik atau Julia Perez. Konon, demi melariskan film yang dibintanginya, atau bisa jadi, demi menjaga popularitas, kontroversi justru diakrabi. Bukankah dengan demikian menjadi pembicaraan dan perhatian khalayak?

Respon teman-teman, terlepas kurang berkenan bagi penulis, sesungguhnya bentuk perhatian. Bukankah lebih parah, kita menulis cerpen, tetapi dianggap angin lalu saja?

Bersyukur. Itu sikap yang bijak. Kalau ada hal yang kurang, imbuhi. Ada kesalahan perbaiki. Dan, manakala menulis cerpen dari inspirasi kehidupan, pilihlah tokoh atau setting yang tidak terlalu lengket dengan halnya. Kiat sederhana saja sebenarnya.

Yang, tidak sederhana, dan merugikan, adalah lari ketika direspon. Sayang, pengalaman menulis cerpen yang berdarah-darah terbiar begitu saja. Berbeda halnya dengan mengatasinya. Biarkan saja aneka respon, belajar dari respon, meningkatkan kualitas tulisan dari respon.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.8): Kecewa Setelah Menulis"

Post a Comment