Ersis Warmansyah Abbas
Pernah menemukan orang ngeyel? Arti kata ngeyel (Bahasa Jawa) sudah tidak sebagaimana arti awalnya, ngeyel atau sikap ngeyel adalah sikap pantang menyerah. Kata ngeyel kini berkonotasi negatif; menunjuk orang tidak berilmu alias dogol, tetapi bersikeras bahwa pendapat atau pemikirannya paling benar.
SESEORANG bertanya kiat mengirimkan buku ke penerbit. Saya anjurkan:
“Sampeyan belajar program PageMaker atau InDesign. Saya mengirim buku ke
penerbit dalam bentuk dummy. Perhitungan saya, menawarkan buku untuk
diterbitkan, atau yang diminta penerbit, kalau dalam bentuk dami
sekretaris penerbit akan senang memberikannya kepada Tim Penilai dan
ketika didiskusikan tentu lebih mantap. Kalau diterima, editor akan
termudahkan, tinggal mengedit di naskah, layouter tinggal mendandani
layout.
“Pak, saya hanya bisa menulis saja. Tugas kita menulis, bukan
me-layout.” Nah, lho. Bertanya, meminta pendapat, lebih spesifik
bertanya tentang kiat menembus penerbit, diberi kiat yang terbukti
manjur, eh malah menyoal. Itu ngeyel. Kalau mempunyai prinsip sendiri,
buat apa bertanya. Buktikan saja prinsip tersebut mangkus.
Pernah, seseorang meminta tolong bukunya dieditkan. Minta tolong lho.
Dengan berbagai pertimbangan mewakafkan waktu dan energi sebulanan
disela-sela aktiviatas rutin. Selesai. Begitu ‘dilaporkan’ hasilnya,
diperlihatkannya kepada orang lain, dan diberi masukan begini-begitu.
Dia meminta saya memperbaiki sesuai masukan tersebut. Waduh.
lni orang minta tolong atau mempekerjakan saya? Mana menghina pula,
meminta tolong, tetapi kemudian meminta ke orang lain, lalu saya
bertugas memperbaiki. Enak di dia, pekerjaan di saya. Pendapat dan
caranya yang berubah-rubah dipaksakan. Minta tolong kok ngeyel.
Bagaimana kalau memberi ya? Sungguh menguji kesabaran. Untung pikiran
positif bekerja, kalau tidak ada makhluk semacam itu, bagaimana menguji
kesabaran?
Pada lain kesempatan, seseorang sharing kiat menulis, dan dikatakan:
“Tulis dulu Mas, nanti kalau sudah menjadi tulisan, kita diskusikan.
Kalau ada yang kurang kita tambah, yang lebih dipotong, yang mencong
diluruskan.” Disoalnya, dia takut salah. Lha, bagaimana saya tahu
tulisannya salah kalau belum ditulis.
Sungguh, sunggguh keterlaluan bodohnya. Atau, ini orang korban teori,
menulis itu harus begini-begitu. Benar saja kalau soal harus.Tetapi,
ini soal melihat tulisan dan memperbaikinya. Bagaimana mungkin kalau
tulisannya belum ada. Memangnya saya mampu membaca pikirannya, apa yang
akan ditulisnya?
Berguru, berarti kita menyerap pengetahuan atau pengalaman orang
lain. Nah, kalau kita ngeyel, ngeyel, dan ngeyel (lagi) dengan pendapat
sendiri, anti masukan, anti anjuran, ogah diberi saran, bukan berguru
namanya. Berguru berarti membuka diri seluas-luasnya untuk masukan. Itu
intinya.
Orang ngeyel tidak berhak berguru, sharing atau apa pun namanya. Bawa
tu ke-ngeyel-an sampai ke alam sana dan rasakan akibatnya. Menulis
membelajarkan diri. Kalau untuk yang demikian, silakan ngeyel he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.9): Ngeyel, Ngeyel dan Ngeyel (Lagi)"
Post a Comment