Saturday, 10 December 2016

Menulis (2.6): Berkomentar, Berkomentar dan Berkomentar (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas

Melakukan sharing, workshop, seminar menulis,  mempublikasikan tulisan di dunia maya, saya sangat senang. Mendapat teman-teman yang, kalau berkomentar sangat hebat. Sampai-sampai membuat buku, ya buku ini, yang dielaborasi dari komentar teman-teman.

SAYA sangat menghargai komentar positif. Sangat bermanfaat. Bagaimana dengan yang berkomentar? Pernah ”menemukan” seseorang yang sangat getol memotivasi orang lain menulis buku, dia sendiri belum pernah menulis buku. Ada pula yang doyan memberi tip menulis buku itu begini-begitu, alamak, satu pun buku belum pernah ditulisnya. Hebatnya dia, kalau ada buku temannya terbit, langsung menjadi samsak empuk komentarnya.
 
Bahkan, ada orang yang baru membaca beberapa novel, belum pernah menulis novel, duh piawainya menasehati tentang menulis novel. Komentarnya sangat meyakinkan. Seakan-akan dialah hakim paling hebat perihal novel. Komentarnya hebat, bahkan menjadi nara sumber ”membedah” novel karya orang, tetapi nihil menulis.

Saya mengamati 5 (lima) orang pengomentar yang bagus menurut saya. Membaca tulisannya, eit sedih. Tidak karu-karuan. Mana pula, jangankan menerbitkan buku, atau tulisannya dipublikasikan di media cetak berkelas, menulis saja belepotan. Bisa jadi, gennya gen berkomentar. Bagus saja. Sesiapa yang tulisannya dikomentari tentu beruntung. Tentu, tidak semua orang harus menjadi penulis. Ada yang cukup sebagai komentator saja.

Tepatnya, saya tidak menyalahkan para komentator. Terima kasih. Hanya saja, karena doyan memotivasi, tidak salah kiranya menganjurkan, terutama kepada yang berkehendak menulis, berkomentar oke, lebih oke menulis, mengirimkan tulisan ke media cetak atau menjadikan buku. Tidak salah bukan menganjurkan hal sedemikian?

Mengembangkan kemampuan berkomentar, bukan tidak baik, buktinya bagi saya menjadi buku, tetapi kalau yang dikembangkan kemampuan berkomentar, berkomentar, dan berkomentar (lagi), yang berkembang adalah kemampuan berkomentar. Kemampuan menulisnya tidak berkembang. Berkomentar kan menulis juga, Pak? Ya, iyalah. Ini orang tidak paham ragam tulisan he he.

Karena itu, kalau berkeinginan mengasah kemampuan menulis, kalau perlu kurangi berkomentar. Kalau libido berkomentar begitu hebatnya, menulis dan komentari tulisan sendiri. Wow, bagian ini bagus, pertahankan. Bagian ini kurang dukungan pengetahuan atau analisisnya mencong, perbaiki. Mengomentari tulisan sendiri jelas lebih positif dalam artian untuk meningkatkan kualitas tulisan.

Kalau libido berkomentar demikian merasuk, bisa-bisa, manakala berkomentar kepuasan jiwa terpenuhi. Ujung-ujungnya, setelah berkomentar merasa diri paling hebat. Komentator sih. Lalu bagaimana dengan tulisan sendiri? Karya sendiri? Kalau yang diasah, dibiasakan, dilakoni, dibanggakan berkomentar, bagaimana mungkin menghasilkan tulisan atau buku. Fokusnya berkomentar. Kacien dech loe.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.6): Berkomentar, Berkomentar dan Berkomentar (Lagi)"

Post a Comment