Ersis Warmansyah Abbas
Melakukan sharing, workshop, seminar menulis, mempublikasikan
tulisan di dunia maya, saya sangat senang. Mendapat teman-teman yang,
kalau berkomentar sangat hebat. Sampai-sampai membuat buku, ya buku ini,
yang dielaborasi dari komentar teman-teman.
SAYA sangat menghargai komentar positif. Sangat bermanfaat. Bagaimana
dengan yang berkomentar? Pernah ”menemukan” seseorang yang sangat getol
memotivasi orang lain menulis buku, dia sendiri belum pernah menulis
buku. Ada pula yang doyan memberi tip menulis buku itu begini-begitu,
alamak, satu pun buku belum pernah ditulisnya. Hebatnya dia, kalau ada
buku temannya terbit, langsung menjadi samsak empuk komentarnya.
Bahkan, ada orang yang baru membaca beberapa novel, belum pernah menulis
novel, duh piawainya menasehati tentang menulis novel. Komentarnya
sangat meyakinkan. Seakan-akan dialah hakim paling hebat perihal novel.
Komentarnya hebat, bahkan menjadi nara sumber ”membedah” novel karya
orang, tetapi nihil menulis.
Saya mengamati 5 (lima) orang pengomentar yang bagus menurut saya.
Membaca tulisannya, eit sedih. Tidak karu-karuan. Mana pula, jangankan
menerbitkan buku, atau tulisannya dipublikasikan di media cetak
berkelas, menulis saja belepotan. Bisa jadi, gennya gen berkomentar.
Bagus saja. Sesiapa yang tulisannya dikomentari tentu beruntung. Tentu,
tidak semua orang harus menjadi penulis. Ada yang cukup sebagai
komentator saja.
Tepatnya, saya tidak menyalahkan para komentator. Terima kasih. Hanya
saja, karena doyan memotivasi, tidak salah kiranya menganjurkan,
terutama kepada yang berkehendak menulis, berkomentar oke, lebih oke
menulis, mengirimkan tulisan ke media cetak atau menjadikan buku. Tidak
salah bukan menganjurkan hal sedemikian?
Mengembangkan kemampuan berkomentar, bukan tidak baik, buktinya bagi
saya menjadi buku, tetapi kalau yang dikembangkan kemampuan berkomentar,
berkomentar, dan berkomentar (lagi), yang berkembang adalah kemampuan
berkomentar. Kemampuan menulisnya tidak berkembang. Berkomentar kan
menulis juga, Pak? Ya, iyalah. Ini orang tidak paham ragam tulisan he
he.
Karena itu, kalau berkeinginan mengasah kemampuan menulis, kalau
perlu kurangi berkomentar. Kalau libido berkomentar begitu hebatnya,
menulis dan komentari tulisan sendiri. Wow, bagian ini bagus,
pertahankan. Bagian ini kurang dukungan pengetahuan atau analisisnya
mencong, perbaiki. Mengomentari tulisan sendiri jelas lebih positif
dalam artian untuk meningkatkan kualitas tulisan.
Kalau libido berkomentar demikian merasuk, bisa-bisa, manakala
berkomentar kepuasan jiwa terpenuhi. Ujung-ujungnya, setelah berkomentar
merasa diri paling hebat. Komentator sih. Lalu bagaimana dengan tulisan
sendiri? Karya sendiri? Kalau yang diasah, dibiasakan, dilakoni,
dibanggakan berkomentar, bagaimana mungkin menghasilkan tulisan atau
buku. Fokusnya berkomentar. Kacien dech loe.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.6): Berkomentar, Berkomentar dan Berkomentar (Lagi)"
Post a Comment