Friday, 9 December 2016

Menulis (1.5): Menulis Menyamankan Diri

Ersis Warmansyah Abbas
Sejak menyebarkan virus menulis melalui Ersis Writing Theory tidak sedikit balikannya. Ada yang mengamini ada pula yang mencaci. Masukan atau kritikan positif dijadikan masukan, masukan negatif dicuekin saja. Saya menyebarkan virus menulis berkesadaran membangun mindset sebagai modal menulis.
MENULIS itu mudah. Dari 20 (dua puluh) lebih buku karya saya yang diterbitkan tentang menulis, sejak buku pertama: Menulis Sangat Mudah (Gama Media, 2006 dan 2007) saya tulis dengan mudah. Kalau susah, mana mungkin menerbitkan buku tentang menulis demikian banyak. Ditambah buku-buku lainnya, apalagi ratusan artikel di media cetak, plus di dunia maya, jangan-jangan tergolong penulis produktif. Tetapi, itu belum seberapa. Ada penulis yang menulis lebih dari 100 (seratus) buku.
 
Lalu apa yang membuat produktif? Pasti sudah, karena menulis. Bukan karena meluluhkan diri belajar teori, tidak pula karena menceburkan diri dalam kubangan diskusi tentang menulis yang baik itu begini-begitu, atau mendongeng tentang menulis yang baik itu begini-begitu. Manakala terus menerus menulis, hasilnya bejibun tulisan.

Seorang teman yang secara akademis pengampu mata kuliah menulis selama puluhan tahun. Bisa jadi, mahasiswanya sudah ribuan. Profesinya mengampu mata kuliah tentang menulis, dari menulis akademik sampai menulis popular. Bukunya tentang menulis? Setahu saya belum ada. Lalu, bagaimana dia memberi kuliah? Entahlah.

Bukan bermaksud sombong, banyaknya tulisan saya karena menulis, dan menyelesaikan tulisan. Tulisan tersebut dikumpulkan dan diedit, jadilah buku. Banyak orang yang lebih hebat, lebih potensial, lebih mumpuni, tetapi karena tidak melakukan (menulis) ya tulisannya tidak menjadi. Artinya, tulisan ada karena ditulis dan diselesaikan sehingga menjadi tulisan.

Setelah tulisan menjadi, apalagi dimuat media cetak, lebih apalagi kalau menjadi buku, duh senangnya. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kepemilikan harta atau hal kebendaan lainnya. Sungguh menyenangkan. Nyaman. Menyenangkan diri tidak salah bukan? Penyamanan diri akan menjadi-jadi, manakala mendapat honor dan royalti dari tulisan. Mana pula dikenal banyak orang. Tidak ada yang salah bukan?

Hal tersebut tentu berbanding terbalik, misalnya kita berkehendak menulis, tetapi tidak dilakukan. Pikiran tidak nyaman, ada yang membeban. Padahal, kalau dituliskan terasa plong. Sesuatu yang susah dilukiskan. Artinya, kita membenturkan kehendak diri dengan lakuan terbalik. Terang saja membuat pusing.
 
Pertama, manakala berkehendak menulis tetapi pengetahuan pendukung tidak memadai, pastilah membuat pikiran mumet. Kehendak hati memeluk bulan apa daya tangan tak sampai.

Kedua, manakala berkehendak menulis, pengetahuan dan pengalaman lebih dari cukup sebagai bahan untuk ditulis, tetapi yang dibiasakan menulis tidak tidak tuntas, ya mana mungkin menghasilkan karya tulisan. Membuat pusing juga tentunya, pikiran tidak nyaman.

Ketiga, manakala berkehendak menulis, belajarkan diri bukan saja dalam mencukpi pengetahuan pendukung, tetapi juga dengan keterampilan agar tulisan menjadi. Menulis sebagai karya pribadi bukanlah produk yang bisa dibeli di toko kelontong atau tokoh buku. Menulis penuangan pikiran hasil keterampilan (menulis).

Kiranya, dengan pengantar pada Bab I ini dan kemudian dielaborasi denga contoh jenaka, bisa pula agak nakal, pada bab-bab berikut, Sampeyan mampu memindai, bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk dalam menulis perlu ditindas, dienyahkan sehingga aktivitas menulis menyamankan. Menjadikan diri nyaman, baik pada prosesnya maupun setelah tulisan menjadi kiranya samudera kenyamanan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (1.5): Menulis Menyamankan Diri"

Post a Comment