Ersis Warmansyah Abbas
Sejak menyebarkan virus menulis melalui Ersis Writing Theory tidak sedikit balikannya. Ada yang mengamini ada pula yang mencaci. Masukan atau kritikan positif dijadikan masukan, masukan negatif dicuekin saja. Saya menyebarkan virus menulis berkesadaran membangun mindset sebagai modal menulis.
MENULIS itu mudah. Dari 20 (dua puluh) lebih buku karya saya yang
diterbitkan tentang menulis, sejak buku pertama: Menulis Sangat Mudah
(Gama Media, 2006 dan 2007) saya tulis dengan mudah. Kalau susah, mana
mungkin menerbitkan buku tentang menulis demikian banyak. Ditambah
buku-buku lainnya, apalagi ratusan artikel di media cetak, plus di dunia
maya, jangan-jangan tergolong penulis produktif. Tetapi, itu belum
seberapa. Ada penulis yang menulis lebih dari 100 (seratus) buku.
Lalu apa yang membuat produktif? Pasti sudah, karena menulis. Bukan
karena meluluhkan diri belajar teori, tidak pula karena menceburkan diri
dalam kubangan diskusi tentang menulis yang baik itu begini-begitu,
atau mendongeng tentang menulis yang baik itu begini-begitu. Manakala
terus menerus menulis, hasilnya bejibun tulisan.
Seorang teman yang secara akademis pengampu mata kuliah menulis
selama puluhan tahun. Bisa jadi, mahasiswanya sudah ribuan. Profesinya
mengampu mata kuliah tentang menulis, dari menulis akademik sampai
menulis popular. Bukunya tentang menulis? Setahu saya belum ada. Lalu,
bagaimana dia memberi kuliah? Entahlah.
Bukan bermaksud sombong, banyaknya tulisan saya karena menulis, dan
menyelesaikan tulisan. Tulisan tersebut dikumpulkan dan diedit, jadilah
buku. Banyak orang yang lebih hebat, lebih potensial, lebih mumpuni,
tetapi karena tidak melakukan (menulis) ya tulisannya tidak menjadi.
Artinya, tulisan ada karena ditulis dan diselesaikan sehingga menjadi
tulisan.
Setelah tulisan menjadi, apalagi dimuat media cetak, lebih apalagi
kalau menjadi buku, duh senangnya. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan
kepemilikan harta atau hal kebendaan lainnya. Sungguh menyenangkan.
Nyaman. Menyenangkan diri tidak salah bukan? Penyamanan diri akan
menjadi-jadi, manakala mendapat honor dan royalti dari tulisan. Mana
pula dikenal banyak orang. Tidak ada yang salah bukan?
Hal tersebut tentu berbanding terbalik, misalnya kita berkehendak
menulis, tetapi tidak dilakukan. Pikiran tidak nyaman, ada yang
membeban. Padahal, kalau dituliskan terasa plong. Sesuatu yang susah
dilukiskan. Artinya, kita membenturkan kehendak diri dengan lakuan
terbalik. Terang saja membuat pusing.
Pertama, manakala berkehendak menulis tetapi pengetahuan pendukung tidak
memadai, pastilah membuat pikiran mumet. Kehendak hati memeluk bulan
apa daya tangan tak sampai.
Kedua, manakala berkehendak menulis, pengetahuan dan pengalaman lebih
dari cukup sebagai bahan untuk ditulis, tetapi yang dibiasakan menulis
tidak tidak tuntas, ya mana mungkin menghasilkan karya tulisan. Membuat
pusing juga tentunya, pikiran tidak nyaman.
Ketiga, manakala berkehendak menulis, belajarkan diri bukan saja
dalam mencukpi pengetahuan pendukung, tetapi juga dengan keterampilan
agar tulisan menjadi. Menulis sebagai karya pribadi bukanlah produk yang
bisa dibeli di toko kelontong atau tokoh buku. Menulis penuangan
pikiran hasil keterampilan (menulis).
Kiranya, dengan pengantar pada Bab I ini dan kemudian dielaborasi
denga contoh jenaka, bisa pula agak nakal, pada bab-bab berikut,
Sampeyan mampu memindai, bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk dalam menulis
perlu ditindas, dienyahkan sehingga aktivitas menulis menyamankan.
Menjadikan diri nyaman, baik pada prosesnya maupun setelah tulisan
menjadi kiranya samudera kenyamanan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (1.5): Menulis Menyamankan Diri"
Post a Comment