Monday, 12 December 2016

Menulis (3.10): Jangan Putus Asa

Ersis Warmansyah Abbas
Hal paling menyakitkan yang mengendurkan semangat saya menulis ketika melihat adanya penulis baru yang bisa langsung menulis buku diterbitkan penerbit terkenal. Maunya saya juga demikian, tetapi tulisan saya tidak diindahkan penerbit. 
TIDAK salah lagi, berkehendak karya tulis diterbitkan penerbit terkenal, keinginan semua orang. Masalahnya, antara keinginan dan kenyataan tidak wajib sama. Kalau seluruh keingian tercapai, apalagi keinginan banyak orang, dunia ini kiranya tidak menarik lagi. Maksudnya?
 
Berlandaskan keluhan teman seperti dikutipkan, penulis baru yang, jangan-jangan menurutnya, tulisan lebih jelek diterbitkan penerbit terkenal, sementara dia, sebanyak yang dikirim sebanyak itu pula dikembalikan penerbit. Hal wajar saja, hal yang biasa saja. Lalu bagaimana dong?

Sadari diri. Pasti ada kekurangan. Cari dan sadari hal tersebut. Mana tahu, tulisan kita hanya hebat menurut kita saja. Atau, bukan tidak mungkin, tulisan yang ditulis mereka yang diterbitkan penulis terkenal, sesuai selera editornya

Seseorang pernah bersuuzon, pantas saja bukunya diterbitkan, dia keponakan editor di penerbitan tersebut. Ya, apa pun itu, itulah kelebihannya. Belum lagi kalau dianalisis dengan memakai pisau analisis lucky factor? Tepatnya, Sampeyan berkekurangan. Itu kata kuncinya.

Cara terbaik, dan ini saya praktikkan, kagum dengan penulis-penulis hebat. Adakalanya membaca karya mereka yang kadang kala menemukan, wow disini kekuatannya. Begitu juga kalau ada penulis yang baru muncul. Kita dapat belajar dari siapa saja, dan syukur Alhamdulillah, kalau terhindar dari kecurigaan, keirian, atau kemujuran seseorang. Mengambil pembelajaran lebih penting. Tetapi, iri yang positif kan tidak mengapa?

Pemaknaannya, kita memperhatikan orang yang lebih maju sembari menanya diri, dia bisa kenapa dengan saya? Kalau sudah demikian akan berlanjut, kalau demikian ‘belajar’ dari dia dengan mempelajari kiat-kiatnya. Insya Allah kita akan mendapatkan. Sebab kata kunci menulis adalah belajar, pembelajaran diri. Ya, membelajarkan diri bukan saja dalam artian menulis itu sendiri, tetapi juga hal sesudahnya.

Misalnya, bagaimana menyeting, melayout sampai menarik simpati penerbit. Hal tersebut hanya dimungkinkan dengan melakukan. Dari melakukan akan didapat pengalaman.

Dalam pada itu, sekalipun belajar dari berbagai sumber, jangan pernah mengabaikan ciri diri. Hal terakhir tidak kalah pentingnya yang oleh orang-orang pemasaran dinamakan apa yang disebut imej, ya membentuk image diri. Kalau sudah demikian akan menjadi branch, branch image.

Kesimpulannya, menulis itu belajar, membelajarkan diri. Belajar jangan dikerdilkan pada lakuan menulis saja, tetapi hal sebelum dan sesudahnya. Pada tataran demikian bertemulah kita kepada, (belajar) menulis komprehensif.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.10): Jangan Putus Asa"

Post a Comment