Ersis Warmansyah Abbas
Hal paling menyakitkan yang mengendurkan semangat saya menulis ketika melihat adanya penulis baru yang bisa langsung menulis buku diterbitkan penerbit terkenal. Maunya saya juga demikian, tetapi tulisan saya tidak diindahkan penerbit.
TIDAK salah lagi, berkehendak karya tulis diterbitkan penerbit
terkenal, keinginan semua orang. Masalahnya, antara keinginan dan
kenyataan tidak wajib sama. Kalau seluruh keingian tercapai, apalagi
keinginan banyak orang, dunia ini kiranya tidak menarik lagi. Maksudnya?
Berlandaskan keluhan teman seperti dikutipkan, penulis baru yang,
jangan-jangan menurutnya, tulisan lebih jelek diterbitkan penerbit
terkenal, sementara dia, sebanyak yang dikirim sebanyak itu pula
dikembalikan penerbit. Hal wajar saja, hal yang biasa saja. Lalu
bagaimana dong?
Sadari diri. Pasti ada kekurangan. Cari dan sadari hal tersebut. Mana
tahu, tulisan kita hanya hebat menurut kita saja. Atau, bukan tidak
mungkin, tulisan yang ditulis mereka yang diterbitkan penulis terkenal,
sesuai selera editornya
Seseorang pernah bersuuzon, pantas saja bukunya diterbitkan, dia
keponakan editor di penerbitan tersebut. Ya, apa pun itu, itulah
kelebihannya. Belum lagi kalau dianalisis dengan memakai pisau analisis
lucky factor? Tepatnya, Sampeyan berkekurangan. Itu kata kuncinya.
Cara terbaik, dan ini saya praktikkan, kagum dengan penulis-penulis
hebat. Adakalanya membaca karya mereka yang kadang kala menemukan, wow
disini kekuatannya. Begitu juga kalau ada penulis yang baru muncul. Kita
dapat belajar dari siapa saja, dan syukur Alhamdulillah, kalau
terhindar dari kecurigaan, keirian, atau kemujuran seseorang. Mengambil
pembelajaran lebih penting. Tetapi, iri yang positif kan tidak mengapa?
Pemaknaannya, kita memperhatikan orang yang lebih maju sembari
menanya diri, dia bisa kenapa dengan saya? Kalau sudah demikian akan
berlanjut, kalau demikian ‘belajar’ dari dia dengan mempelajari
kiat-kiatnya. Insya Allah kita akan mendapatkan. Sebab kata kunci
menulis adalah belajar, pembelajaran diri. Ya, membelajarkan diri bukan
saja dalam artian menulis itu sendiri, tetapi juga hal sesudahnya.
Misalnya, bagaimana menyeting, melayout sampai menarik simpati
penerbit. Hal tersebut hanya dimungkinkan dengan melakukan. Dari
melakukan akan didapat pengalaman.
Dalam pada itu, sekalipun belajar dari berbagai sumber, jangan pernah
mengabaikan ciri diri. Hal terakhir tidak kalah pentingnya yang oleh
orang-orang pemasaran dinamakan apa yang disebut imej, ya membentuk
image diri. Kalau sudah demikian akan menjadi branch, branch image.
Kesimpulannya, menulis itu belajar, membelajarkan diri. Belajar
jangan dikerdilkan pada lakuan menulis saja, tetapi hal sebelum dan
sesudahnya. Pada tataran demikian bertemulah kita kepada, (belajar)
menulis komprehensif.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.10): Jangan Putus Asa"
Post a Comment