Saturday, 10 December 2016

Menulis (2.7): Menyoal, Menyoal, dan Menyoal (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas
Apabila kita memposting tulisan atau menerbitkan buku ada orang yang menyoal sebenarnya hal biasa saja. Setiap orang mempunyai persepsi. Sangat wajar persepsi tentang tulisan pun bermacam-macam, sebanyak pembacanya. Disoal? Hal biasa saja.
SAYA paparkan contoh sederhana. Ketika seseorang memilih judul tulisan, judul buku, atau sampul buku ada yang menyoal judulnya atau sampulnya tidak keren, kurang menjual. Menurut Si Penyoal. Menurut yang menulis, sebaliknya, sangat keren. Bahkan, ada yang sampai bersoal-soalan seputar hal dimaksud. Ini termasuk menyoal karya orang.
 
Sampul buku saya, Menulis Mari Menulis (2006) pernah dikatakan seseorang bak sampul buku anak-anak. Marah? Buat apa marah, memangnya tidak ada pekerjaan lain? Sampul buku tersebut dibuat oleh penerbit. 

Penerbit mempunyai hak menentukan sampul yang dikonsultasikan dengan penulis. Si Penyoal ngotot menjadikan pendapatnya paling benar. Saya yang menulis buku tersebut tidak menyoal. Saya serahkan kepada penerbit.

Setahun kemudian, setelah saya menulis beberapa buku ikutannya, dia masih mempersoalkan sampul buku tersebut. Padahal, buku tersebut sudah beranak dan laku di pasaran. Dia masih menyoal. Saya kagum dengan kegigihannya mengemukakan pendapat. Sungguh sangat gigih. Masalahnya, kalau demikian, kapan dia menulis ya? Sibuk menyoal, menyoal, dan menyoal (lagi). Menulis buku?

Menyoal dalam arti memberi masukan tentu baik. Tetapi, dalam kaitan menulis, tidak bagus. Bukankah lebih baik menulis atau menerbitkan buku sendiri dibanding menyoal karya orang? Manakala mengembangkan keterampilan menyoal tulisan atau buku orang lain, tentu bukan keterampilan menulis buku hasilnya.

Pengalaman berikutnya, saya menulis satu tulisan adakalanya 10 sampai 15 menit dan biasanya langsung diposting di blog atau facebook. Saya tidak sempat membaca, dan jarang membaca (lagi) apa yang sudah ditulis. Akibatnya, ada hurufnya yang ketinggalan atau tertukar. Ada orang yang sepuluh tahun mempersoalkannya. Saya juga ingin tulisan tidak salah huruf, tetapi waktu terbatas. Perfeksionis bagus, hanya saja tidak cukup waktu.

Pertimbangannya, setelah tulisan menjadi, meminta teman memperbaiki kata-katanya, dan manakala menjadi buku, editor penerbit akan memperbaiki kesalahan. Fakta lainnya, pembaca tulisan saya juga tidak kurang-kurang. Itulah titik lemah sekaligus kekuatan saya dalam menulis. Lagi pula, tidak beralasan. Begitu adanya.
Pembaca maklum. Beres. Lanjutkan menulisnya.
 
Mengakui kelemahan, terus menulis, menulis, dan menulis, bukan menyoal, menyoal, dan menyoal (lagi) hasilnya berbeda. Tulisan semakin subur dan buku-buku semakin banyak. Yang menyoal? Terserah dia sajalah. Menyoal tidak salah, menulis tidak salah. Nah, kalau pilihan menulis disoal, pikir-pikir dulu deh. Hak saya itu.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.7): Menyoal, Menyoal, dan Menyoal (Lagi)"

Post a Comment