Ersis Warmansyah Abbas
Apabila kita memposting tulisan atau menerbitkan buku ada orang yang menyoal sebenarnya hal biasa saja. Setiap orang mempunyai persepsi. Sangat wajar persepsi tentang tulisan pun bermacam-macam, sebanyak pembacanya. Disoal? Hal biasa saja.
SAYA paparkan contoh sederhana. Ketika seseorang memilih judul
tulisan, judul buku, atau sampul buku ada yang menyoal judulnya atau
sampulnya tidak keren, kurang menjual. Menurut Si Penyoal. Menurut yang
menulis, sebaliknya, sangat keren. Bahkan, ada yang sampai
bersoal-soalan seputar hal dimaksud. Ini termasuk menyoal karya orang.
Sampul buku saya, Menulis Mari Menulis (2006) pernah dikatakan seseorang
bak sampul buku anak-anak. Marah? Buat apa marah, memangnya tidak ada
pekerjaan lain? Sampul buku tersebut dibuat oleh penerbit.
Penerbit
mempunyai hak menentukan sampul yang dikonsultasikan dengan penulis. Si
Penyoal ngotot menjadikan pendapatnya paling benar. Saya yang menulis
buku tersebut tidak menyoal. Saya serahkan kepada penerbit.
Setahun kemudian, setelah saya menulis beberapa buku ikutannya, dia
masih mempersoalkan sampul buku tersebut. Padahal, buku tersebut sudah
beranak dan laku di pasaran. Dia masih menyoal. Saya kagum dengan
kegigihannya mengemukakan pendapat. Sungguh sangat gigih. Masalahnya,
kalau demikian, kapan dia menulis ya? Sibuk menyoal, menyoal, dan
menyoal (lagi). Menulis buku?
Menyoal dalam arti memberi masukan tentu baik. Tetapi, dalam kaitan
menulis, tidak bagus. Bukankah lebih baik menulis atau menerbitkan buku
sendiri dibanding menyoal karya orang? Manakala mengembangkan
keterampilan menyoal tulisan atau buku orang lain, tentu bukan
keterampilan menulis buku hasilnya.
Pengalaman berikutnya, saya menulis satu tulisan adakalanya 10 sampai
15 menit dan biasanya langsung diposting di blog atau facebook. Saya
tidak sempat membaca, dan jarang membaca (lagi) apa yang sudah ditulis.
Akibatnya, ada hurufnya yang ketinggalan atau tertukar. Ada orang yang
sepuluh tahun mempersoalkannya. Saya juga ingin tulisan tidak salah
huruf, tetapi waktu terbatas. Perfeksionis bagus, hanya saja tidak cukup
waktu.
Pertimbangannya, setelah tulisan menjadi, meminta teman memperbaiki
kata-katanya, dan manakala menjadi buku, editor penerbit akan
memperbaiki kesalahan. Fakta lainnya, pembaca tulisan saya juga tidak
kurang-kurang. Itulah titik lemah sekaligus kekuatan saya dalam menulis.
Lagi pula, tidak beralasan. Begitu adanya.
Pembaca maklum. Beres. Lanjutkan menulisnya.
Mengakui kelemahan, terus menulis, menulis, dan menulis, bukan menyoal,
menyoal, dan menyoal (lagi) hasilnya berbeda. Tulisan semakin subur dan
buku-buku semakin banyak. Yang menyoal? Terserah dia sajalah. Menyoal
tidak salah, menulis tidak salah. Nah, kalau pilihan menulis disoal,
pikir-pikir dulu deh. Hak saya itu.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.7): Menyoal, Menyoal, dan Menyoal (Lagi)"
Post a Comment