Ersis Warmansyah Abbas
“Pak”, begitu seseorang memulai pertanyaannya, “sangat banyak yang ingin saya tulis, tetapi susah memulainya. Saya susah membangun kerangka dan ceritanya. Kalau bercerita lancar-lancar saja, sangat lancar. Tetapi, begitu sulit menuliskan apa yang dapat diceritakan.”
SAYA tertawa membaca keluhan teman yang satu ini. Tertawa? Menghina
ya? Bukan begitu. Kawan kita ini terperangkap teori menulis. Membuat
kerangka tulisan atau mendisain alur tulisan tentu bagus. Tidak ada yang
salah. Kalau untuk menulis akademis, saya pun melakukannya, tetapi
tidak untuk menulis umum. Kalau membuat kerangka tulisan, bisa-bisa
waktu tersedot untuk itu. Lalu kenapa tertawa?
Katanya, dia hebat bercerita. Sangat lancar. Terang saja lancar
bercerita, dia tidak memikirkan kerangka dan alurnya sehingga mengalir
begitu saja. Padahal, dapat dipastikan sebelum bercerita, dalam hitungan
sepersekian detik, dia telah berpikir terlebih dahulu. Kalau dikaji
lebih dalam, jangan-jangan sebelum bercerita dia telah membuat kerangka
dan alur sangat hebat. Hanya saja karena otaknya begitu cepat beraksi,
seolah-olah hanya bercerita.
Pada pilahan menulis, karena sebelum menulis otaknya menagih kerangka
dan alur, itu yang dipikirkannya. Belum lagi memikirkan ini-itu. Energi
otak tersedot untuk memikirkan kerangka, alur, diksi dan segala
macamnya. Kalau demikian adanya, kapan menulisnya?
Saya tidak memikirkan apa itu kerangka apa itu alur. Saya lebih
memilih mengeluarkan apa yang ada di pikiran, bukan memikirkan apa yang
akan ditulis. Begitu juga persyaratan atau hal-hal yang harus disiapkan
sebelum menulis. Saya memilih menulisnya. Kalau berbicara, toh apa yang
akan dibicarakan, telah diperhitungkan dalam sepersekian detik. Otak
sudah terlatih, ini pantas itu tidak. Ini baik itu tabu. Sesekali
terpeleset, itu pertanda kita masih manusia. Begitu juga menulis.
Sebelum menulis kita sudah berpikir. Kita telah mengasup pengetahuan,
meraup pengalaman, dan telah belajar bagaimana menganalisis sesuatu.
Kini waktunya untuk menuliskannya. Tidak berbeda sebagaimana kita
berbicara. Ketika berbicara tidak menjeratkan kepada kerangka atau alur,
tetapi ketika menulis, kok dipaksakan harus memikirkannya. Aneh bukan?
Saya tidak memikirkan kerangka atau alur, akan memilih diksi apa,
atau bahkan, judul tulisan. Pokoknya tulis saja dulu. Setelah tulisan
menjadi, judul datang sendiri. Buat apa memikirkan judul bertahun-tahun,
kalau tulisannya tidak ada. Lebih baik, menulis dan setelah menjadi,
judul disesuaikan.
Percaya atau tidak, itulah yang menjadikan tulisan saya berlimpah
ruah. Menulis dengan kemerdekaan dan memerdekakan pikiran, bukan
menjeratkannya pada kerangka atau alaur. Hasilnya, ya seperti Sampeyan
baca. Baik-baik saja kok.
Bagaimana menurut Sampeyan?”
0 Comment to "Menulis (3.1): Jebakan Kerangka"
Post a Comment