Ersis Warmansyah Abbas
Berguru cara cerdas dalam membangun kemampuan. Dalam pendidikan diistilahkan belajar; membelajarkan diri, manusia pembelajar. Pada manusia pembelajar tercakup ‘kewajiban’ berguru. Artinya, sesuatu dimulai dari diri, niat, lakuan, dan konsekuen memfokus berguru alias selalu membelajarkan diri, long life education.
PEMAKNAAN demikian tidak usah didiskusikan lagi karena sudah jelas
dengan sendiri. Dalam diskusi kali ini, dalam kerangka menulis, saya
mengetengahkan beberapa contoh bermuatan motivasi dan pencerahan.
Berguru bisa jadi lakuan semua orang, tetapi cara bergurunya tidak sama
alias berbeda-beda.
Dalam pada itu, tidak sedikit mereka yang ingin menulis menyatakan
keinginan berguru kepada saya dan ditolak. Kenapa? Saya bukan guru
menulis, bukan pendidik menulis. Lagi pula lebih memilih, setiap orang
adalah murid sekaligus guru bagi dirinya dalam menulis. Dalam meraup
pengetahuan atau pengalaman (orang lain) bolehlah, tetapi tidak pada
katup melakukan. Menulis harus dilakukan oleh siapa pun yang berkehendak
menulis.
Pada prinsip sedemikian, memulai (belajar) menulis dari diri. Dimulai
dari niat, dicukupi syarat atau hal-hal pendukungnya, dan dilakukan
oleh siapa yang berkehendak menulis. Artinya, segala sesuatu bermula dari diri.
Setelah pendukung memadai, membangun kemampuan menulis dengan melakukan
(menulis). Meraih pengetahuan atau mempelajari teori menulis, dapat
dilakukan dengan membaca, meminta petuah atau apa pun istilahnya, tetapi
ketika menulis, hanya mungkin dilakukan oleh yang bersangkutan. Dari
melakukan (menulis) diperoleh kemampuan. Kemampuan menulis sebagai
asahan potensi yang manakala menulisnya dilakukan terus-menerus
diperoleh keterampilan menulis.
Melakukan (menulis) terus-menerus bukan pula wajib menafikan berguru.
Bahkan, celaka bagi mereka yang sharing atau berguru baru meraup secuil
”pengetahuan” sudah merasa hebat lalu ke lain hati. Baru mendapat
motivasi sudah merasa cukup. Pernah membaca cerita silat atau mereka
yang belajar kungfu? Pembelajar silat, berguru bukan kepada seorang
guru, tetapi ke banyak guru. Kalau jeli, setidaknya ada dua kategori.
Pertama, belajar pada guru tertentu sampai ilmu gurunya terserap dan
orang ini akan menjadi pendekar. Lalu, berguru, berguru, dan berguru
(lagi) kepada guru lain. Dengan demikian, semakin banyak ilmu yang
diserap.
Kedua, ada pula yang berguru kepada seorang guru, baru belajar
kuda-kuda, eit pindah ke lain guru. Baru pada tahap mengatur pernafasan,
pindah lagi. Berguru, berguru, dan berguru (lagi), tetapi tidak tuntas.
Orang semacam ini dijamin tidak paripurna menguasai aliran silat
tertentu.
Kalau kita sandingkan dengan ranah menulis sama saja. Jangan pernah
berguru ‘setengah matang’. Berguru, berguru, dan berguru (lagi), lalu
kembangkan gaya sendiri sebagai hasil dari berguru ke banyak guru. Di
atas langit masih ada langit. Pepatah tersebut pantas dijadikan
pegangan.
Sebodoh apa pun guru kita, Beliau telah mengajarkan sesuatu.
Orang-orang sombong, pongah, dan mungkin terkutuk, melecehkan gurunya.
Dia lupa, guru SD berbeda dengan guru SMP, lain dibandingkan guru SMA,
tidak sama dengan guru (dosen), apalagi dengan ”guru alam”. Tugasnya
meraup pengetahuan.
Jadi, bergurulah kepada apa dan siapa saja yang pantas digurui.
Berguru yang bodoh adalah berguru tidak tuntas. Berguru alias belajarnya
tidak tuntas ”dituntaskan” dengan menulis tidak tuntas. kalau demikian
kapan menghasilkan tulisan?
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.3): Berguru, Berguru, dan Berguru (Lagi)"
Post a Comment