Friday, 9 December 2016

Menulis (2.3): Berguru, Berguru, dan Berguru (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas
Berguru cara cerdas dalam membangun kemampuan. Dalam pendidikan diistilahkan belajar; membelajarkan diri, manusia pembelajar. Pada manusia pembelajar tercakup ‘kewajiban’ berguru. Artinya, sesuatu dimulai dari diri, niat, lakuan, dan konsekuen memfokus berguru alias selalu membelajarkan diri, long life education.
PEMAKNAAN demikian tidak usah didiskusikan lagi karena sudah jelas dengan sendiri. Dalam diskusi kali ini, dalam kerangka menulis, saya mengetengahkan beberapa contoh bermuatan motivasi dan pencerahan. Berguru bisa jadi lakuan semua orang, tetapi cara bergurunya tidak sama alias berbeda-beda.
 
Dalam pada itu, tidak sedikit mereka yang ingin menulis menyatakan keinginan berguru kepada saya dan ditolak. Kenapa? Saya bukan guru menulis, bukan pendidik menulis. Lagi pula lebih memilih, setiap orang adalah murid sekaligus guru bagi dirinya dalam menulis. Dalam meraup pengetahuan atau pengalaman (orang lain) bolehlah, tetapi tidak pada katup melakukan. Menulis harus dilakukan oleh siapa pun yang berkehendak menulis.

Pada prinsip sedemikian, memulai (belajar) menulis dari diri. Dimulai dari niat, dicukupi syarat atau hal-hal pendukungnya, dan dilakukan oleh siapa yang berkehendak menulis. Artinya, segala sesuatu bermula dari diri.

Setelah pendukung memadai, membangun kemampuan menulis dengan melakukan (menulis). Meraih pengetahuan atau mempelajari teori menulis, dapat dilakukan dengan membaca, meminta petuah atau apa pun istilahnya, tetapi ketika menulis, hanya mungkin dilakukan oleh yang bersangkutan. Dari melakukan (menulis) diperoleh kemampuan. Kemampuan menulis sebagai asahan potensi yang manakala menulisnya dilakukan terus-menerus diperoleh keterampilan menulis.

Melakukan (menulis) terus-menerus bukan pula wajib menafikan berguru. Bahkan, celaka bagi mereka yang sharing atau berguru baru meraup secuil ”pengetahuan” sudah merasa hebat lalu ke lain hati. Baru mendapat motivasi sudah merasa cukup. Pernah membaca cerita silat atau mereka yang belajar kungfu? Pembelajar silat, berguru bukan kepada seorang guru, tetapi ke banyak guru. Kalau jeli, setidaknya ada dua kategori.

Pertama, belajar pada guru tertentu sampai ilmu gurunya terserap dan orang ini akan menjadi pendekar. Lalu, berguru, berguru, dan berguru (lagi) kepada guru lain. Dengan demikian, semakin banyak ilmu yang diserap.

Kedua, ada pula yang berguru kepada seorang guru, baru belajar kuda-kuda, eit pindah ke lain guru. Baru pada tahap mengatur pernafasan, pindah lagi. Berguru, berguru, dan berguru (lagi), tetapi tidak tuntas. Orang semacam ini dijamin tidak paripurna menguasai aliran silat tertentu.

Kalau kita sandingkan dengan ranah menulis sama saja. Jangan pernah berguru ‘setengah matang’. Berguru, berguru, dan berguru (lagi), lalu kembangkan gaya sendiri sebagai hasil dari berguru ke banyak guru. Di atas langit masih ada langit. Pepatah tersebut pantas dijadikan pegangan.

Sebodoh apa pun guru kita, Beliau telah mengajarkan sesuatu. Orang-orang sombong, pongah, dan mungkin terkutuk, melecehkan gurunya. Dia lupa, guru SD berbeda dengan guru SMP, lain dibandingkan guru SMA, tidak sama dengan guru (dosen), apalagi dengan ”guru alam”. Tugasnya meraup pengetahuan.

Jadi, bergurulah kepada apa dan siapa saja yang pantas digurui. Berguru yang bodoh adalah berguru tidak tuntas. Berguru alias belajarnya tidak tuntas ”dituntaskan” dengan menulis tidak tuntas. kalau demikian kapan menghasilkan tulisan?

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.3): Berguru, Berguru, dan Berguru (Lagi)"

Post a Comment