Saturday, 10 December 2016

Menulis (2.8): Merajuk, Merajuk dan Merajuk (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas
Saya menyadari bahwa saya sangat ingin menulis, tetapi begitu dilakukan dan tulisan saya menjadi, kekecewaan hasilnya. Teman-teman menghina tulisan tersebut. Saya memang tidak berbakat menulis. Nyatanya, tulisan saya jelek. Lalu, apa yang harus saya lakukan? 
KIRANYA, penulis pemula yang tidak tahan banting bukan saja mengeluh, rupanya ada juga yang merajuk. Merajuk karena tidak direspon atau dikritik sungguh tidak konstruktif dalam belajar dan memasihkan menulis. Kalau sikap merajuk dipelihara, dipastikan, jangankan menjadi penulis, menulis hal-hal sederhana saja akan berkesulitan.
 
Misalnya, Sampeyan menulis cerpen, harapan yang dipancang, direspon gegap gempita oleh pembaca, tetapi yang terjadi, dibaca saja tidak, lalu merajuk. Merajuk? Siapa yang mau peduli. Berharap dibujuk? Yang peduli saja tidak ada apalagi yang membujuk. Menulis bukanlah lakuan anak ingusan, menulis bak menjajakan barang agar pembaca tertarik untuk membaca dan kalau perlu kecanduan.

Ada pula yang tulisannya dikritik lalu merajuk. Memangnya setelah merajuk ada yang membujuk? Jangan harap. Banyak penulis pemula ‘terkapar’ karena tulisannya dikritik, lalu marah dan merajuk. Setelah itu? Yang mengkritik, setelah mengumbar birahi mengkritiknya melupakan. Nafsunya tersalurkan dan betapa bodohnya kalau direspon dengan merajuk. Bisa-bisa yang mengkritik tertawa bangga. Maksudnya mematahkan semangat Sampeyan menulis berhasil.

Dapat dipastikan, penulis tangguh tidak tergadai semangat menulisnya karena dikritik atau dicemooh, apalagi merajuk. Merajuk adalah urusan seseorang dengan dirinya. Segala respon minus terhadap aktivitas menulis selayaknya dijadikan penguat semangat. “Oke, silakan loe mengkritik. Gua bertekad belajar menulis dengan menulis. Pada saatnya nanti loe akan membaca tulisan bagus gue.”

Sebaliknya, meminta uang untuk membeli bacaan kepada orang dan orang tua belum mempunyai duit lalu merajuk, ya tidak eloklah. Ke perpustakaan mencari referensi, buku-buku di perpustakaan peninggalan ”Abad Pertengahan” lalu merajuk, bakalan tidak mendapatkan referensi.

Komputer keluarga yang hanya satu perangkat dipakai bergantian, ada kehendak menulis, komputer dipakai adik, lalu merajuk, ya menulisnya tidak menjadi. Merajuk, merajuk, dan merajuk (lagi). Kalau demikian kapan menulisnya.

Menulis me-manage diri, me-manage situasi dan kondisi, dan me-manage bla-bla. Menulis adalah kemampuan mengatasi berbagai kendala, bahkan tulisan adalah solusi bagi banyak hal. Merajuk? Menambah-nambah masalah saja. Hidup ini sudah sangat sarat masalah dan dengan merajuk masalah semakin kompleks.

Jadi, hindari merajuk. Mengatasi masalah sulitnya menulis, mengatasi masalah diri sampai memberi solusi atas berbagai masalah adalah hakikat menulis. Dengan menulis banyak masalah, setidaknya gagasan mengatasi masalah, bisa dikembangkan. Merajuk sebaliknya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.8): Merajuk, Merajuk dan Merajuk (Lagi)"

Post a Comment