Friday, 9 December 2016

Menulis (1.4): Menindas Kebiasaan Buruk

Ersis Warmansyah Abbas
Sejak mempublis tulisan di dunia maya,  menerbitkan buku-buku tentang menulis, sharing menulis di banyak tempat, dan mendirikan GPM, satu hal kebiasaan buruk penulis pemula yang terpindai, menulis tidak tuntas. Tepatnya, menulis sealinea mandek alias tidak dituntaskan. Sungguh kebiasaan buruk.
PERNAH, suatu kali, saya memeriksa files komputer seseorang, duh mak, isinya tulisan sepersepuluh, atau paling bagus, tulisan setengah jadi. Ada tulisan tentang politik, pendidikan, wisata, sepotong-sepotong. Sungguh heran, orang ini mau menulis atau membiasakan menulis sepotong-sepotong?
 
Oh My God. Tempo hari dia menulis sealinea, tulisan tidak tuntas. Besok diulangi, besok lagi diulangi lagi, begitu seterusnya. Sadar atau tidak, dia membangun kebiasaan buruk, menulis tidak tuntas. Kalau otak dilatih menulis tidak tuntas, akan terbentuk kebiasaan menulis tidak tuntas. Coba saja, sekali-kali menulis sampai selesai, otak akan bingung dan protes: “Kenapa nih ”Bos” menulis sampai selesai. Ini keluar pakem yang dibangun selama ini.” Nah, lho.

Untuk menindasnya, menulislah sampai tuntas. Kalau satu tulisan belum selesai jangan beralih menulis yang lain. Apa pun kendalanya atasi. Pokoknya selesai. Kalau satu tulisan belum selesai otak akan mengingatkan: “Bos, selesaikan dulu tulisan ini, baru ke ‘lain hati’. Nah, lho. Suer, saya jarang menulis ‘tergantung’. Kalau kira-kira tidak sanggup menyelesaikan, dihapus. Tidak dipikirkan lagi. Menyerah. Kemudian menulis yang lain sampai selesai.

Tulisan selesai tersebutlah yang dapat dikategorikan tulisan. Tulisan tidak selesai lebih buruk dari sampah karena mendenda diri. Tepatnya, penulis yang produktif menulis karena tulisannya selesai. Tulisan-tulisan selesai tersebut yang menggunung dan jelas adanya. Berbeda dengan penulis setengah jadi, menjadi tulisan yang bukan tulisan.

Cara melatihnya tidak sulit. Manakala menulis jangan pernah berhenti kalau belum selesai. Kalaupun mengagntung pelajari dan kerahkan kemampuan untuk menyelesaikannya. Proses demikian dinamakan melatih diri, berlatih menulis. Sebaliknya, memfasilitasi menulis tidak tuntas, berarti membangun cara buruk menulis.

Apalagi kalau terbentuk mindset menulis tidak tuntas. Bisa-bisa menjadi penyakit dimana apabila menulis tidak tuntas ada rasa puas diri. Bahkan, bangga. Buktinya, demikian banyak tulisan tidak selesai. Diulangi, diulangi, dan diulangi lagi. Logikanya, tidak mungkin seseorang melakukan hal berulang karena tidak senang. Secara psikologis, seseorang mengulangi perilaku karena senang, menyenangi perbuatannya.

Karena ini, kalau berkehendak menulis, mari tindas menulis tidak tuntas dengan menyelesaikan tulisan. Membangun kemapuan menulis tidak tuntas, disamping tidak bagus bagi hasilan menulis, juga tidak konstruktif dalam membangun tekad; dalam membangun mindset menulis.

Halnya menjadi lain kalau bermaksud mempersiapkan sakit jiwa, menyenangi hal yang tidak disenangi. Memilih mempersiapkan sakit jiwa bisa jadi merupakan hak asasi. Hanya saja, kalau ingin melatih kemampuan menulis, anjuran saya, menulislah sampai selesai. Menulis tuntas. Untuk itu haruslah ditinggalkan kebiasaan buruk tidak menyelesaikan tulisan. Tulisan yang tidak selesai mencederai ide, gagasan, dan pikiran.

Karena itu, mari menulis tuntas. Menulis tuntas berarti tulisan yang menjadi. Tulisan menjadi, bukan saja membangun kepercayaan diri, tetapi akan beranak-pinak karena satu tulisan akan ”menghimbau” tulisan berikutnya.
 
Selamat menulis tuntas.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (1.4): Menindas Kebiasaan Buruk"

Post a Comment