Ersis Warmansyah Abbas
Sejak mempublis tulisan di dunia maya, menerbitkan buku-buku tentang menulis, sharing menulis di banyak tempat, dan mendirikan GPM, satu hal kebiasaan buruk penulis pemula yang terpindai, menulis tidak tuntas. Tepatnya, menulis sealinea mandek alias tidak dituntaskan. Sungguh kebiasaan buruk.
PERNAH, suatu kali, saya memeriksa files komputer seseorang, duh mak,
isinya tulisan sepersepuluh, atau paling bagus, tulisan setengah jadi.
Ada tulisan tentang politik, pendidikan, wisata, sepotong-sepotong.
Sungguh heran, orang ini mau menulis atau membiasakan menulis
sepotong-sepotong?
Oh My God. Tempo hari dia menulis sealinea, tulisan tidak tuntas. Besok
diulangi, besok lagi diulangi lagi, begitu seterusnya. Sadar atau tidak,
dia membangun kebiasaan buruk, menulis tidak tuntas. Kalau otak dilatih
menulis tidak tuntas, akan terbentuk kebiasaan menulis tidak tuntas.
Coba saja, sekali-kali menulis sampai selesai, otak akan bingung dan
protes: “Kenapa nih ”Bos” menulis sampai selesai. Ini keluar pakem yang
dibangun selama ini.” Nah, lho.
Untuk menindasnya, menulislah sampai tuntas. Kalau satu tulisan belum
selesai jangan beralih menulis yang lain. Apa pun kendalanya atasi.
Pokoknya selesai. Kalau satu tulisan belum selesai otak akan
mengingatkan: “Bos, selesaikan dulu tulisan ini, baru ke ‘lain hati’.
Nah, lho. Suer, saya jarang menulis ‘tergantung’. Kalau kira-kira tidak
sanggup menyelesaikan, dihapus. Tidak dipikirkan lagi. Menyerah.
Kemudian menulis yang lain sampai selesai.
Tulisan selesai tersebutlah yang dapat dikategorikan tulisan. Tulisan
tidak selesai lebih buruk dari sampah karena mendenda diri. Tepatnya,
penulis yang produktif menulis karena tulisannya selesai.
Tulisan-tulisan selesai tersebut yang menggunung dan jelas adanya.
Berbeda dengan penulis setengah jadi, menjadi tulisan yang bukan
tulisan.
Cara melatihnya tidak sulit. Manakala menulis jangan pernah berhenti
kalau belum selesai. Kalaupun mengagntung pelajari dan kerahkan
kemampuan untuk menyelesaikannya. Proses demikian dinamakan melatih
diri, berlatih menulis. Sebaliknya, memfasilitasi menulis tidak tuntas,
berarti membangun cara buruk menulis.
Apalagi kalau terbentuk mindset menulis tidak tuntas. Bisa-bisa
menjadi penyakit dimana apabila menulis tidak tuntas ada rasa puas diri.
Bahkan, bangga. Buktinya, demikian banyak tulisan tidak selesai.
Diulangi, diulangi, dan diulangi lagi. Logikanya, tidak mungkin
seseorang melakukan hal berulang karena tidak senang. Secara psikologis,
seseorang mengulangi perilaku karena senang, menyenangi perbuatannya.
Karena ini, kalau berkehendak menulis, mari tindas menulis tidak
tuntas dengan menyelesaikan tulisan. Membangun kemapuan menulis tidak
tuntas, disamping tidak bagus bagi hasilan menulis, juga tidak
konstruktif dalam membangun tekad; dalam membangun mindset menulis.
Halnya menjadi lain kalau bermaksud mempersiapkan sakit jiwa,
menyenangi hal yang tidak disenangi. Memilih mempersiapkan sakit jiwa
bisa jadi merupakan hak asasi. Hanya saja, kalau ingin melatih kemampuan
menulis, anjuran saya, menulislah sampai selesai. Menulis tuntas. Untuk
itu haruslah ditinggalkan kebiasaan buruk tidak menyelesaikan tulisan.
Tulisan yang tidak selesai mencederai ide, gagasan, dan pikiran.
Karena itu, mari menulis tuntas. Menulis tuntas berarti tulisan yang
menjadi. Tulisan menjadi, bukan saja membangun kepercayaan diri, tetapi
akan beranak-pinak karena satu tulisan akan ”menghimbau” tulisan
berikutnya.
Selamat menulis tuntas.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (1.4): Menindas Kebiasaan Buruk"
Post a Comment