Ersis Warmasyah Abbas
Kendala yang menyakitkan dan mengendurkan semangat menulis adalah tidak ada dukungan dari orang-orang dekat. Sekalipun begitu, sekalipun menyakitkan, saya tetap saja menulis. Semangat boleh tercedera, membuat malas menulis. Tetapi menulisnya tetap dilakukan sekalipun terseok-seok.
ADAKALANYA memang rasa sakit ketika dicederai, tetapi tidak menjadi
kendala. Begitu juga adanya kesalahan dan keteledoran dalam menulis,
namanya saja belajar menulis. Bukankah kesalahan hal yang manusiawi?
Bahkan, ketika didenda sakit yang membutuhkan istirahat pikiran, dimana
terpaksa berhenti menulis, tetap saja menulis di otak. Setelah kesehatan
pulih menulis lagi, semangat kembali berkibar.
Ternyata, begitu yang saya rasakan, yang paling susah justru memerangi
rasa malas menulis. Rasa malas menulis merupakan musuh nomor satu yang
harus dilenyapkan, apa pun taruhannya. Melawan rasa malas hanya dengan
menulis sehingga rasa malas tersebut hengkang. Memerangi malas merupakan
perjuangan ”berdarah-darah”.
Testimoni seorang teman sebagaimana dipaparkan di atas, bermuatan
makna. Kunci yang menghalangi kita menulis ada di diri masing-masing,
terutama rasa malas. Rasa malas semakin mendenda manakala berkeinginan
menulis, namun malasnya lebih menguasai diri. Kalau hal tersebut menjadi
bagian diri seseorang sungguh susah terapinya. Mereka yang memelihara
sikap malas biasanya membentengi diri dengan alasan. Jadilah, Raja
Alasan atau Ratu Berkilah. Apa pun dijadikan alasan demi memelihara
kemalasannya.
Memang, ada orang yang berharap, orang-orang di sekitar, mereka yang
membaca, merespon apa yang ditulis sebagaimana diharapkan. Hanya saja
banyak yang lupa, harapan adalah kebutuhan diri, bukan kebutuhan orang
di sekitar atau pembaca tulisan kita. Kalau mereka emoh memberi respon
positif, lalu mau apa?
Kiat saya, respon atau fulus adalah bonus. Kalau direspon atau diberi
salari, Alhamdulillah. Kalau tidak? Ya, tidak apa-apa. Tetapi, kalau
menyangkut diri, malas menulis, halnya sangat mendasar. Kalau
berkehendak menulis, jinakkan malasnya, buang ke Kutub Utara sehingga
tidak menghinggapi diri.
Perjuangan memupus malas memang sangat berat, tetapi bukan tidak
mungkin dilakukan. Mereka yang istiqamah menulis tentulah setelah
berhasil membuang malas dan kemalasan dari dirinya. Mereka yang
beralasan ini-itu, bisa jadi, sekadar membungkus rasa malas. Alasan
adalah benteng tangguh bagi pemalas.
Jika Sampeyan lebih mencintai sikap malas, malas menulis, tidak usah
menulis. Tidak menulis gak patheken. Sebaliknya, manakala menulis
dilakukan, malas dan kemalasan, akan hengkang dengan sendirinya. Bagi
yang melakukan (menulis) mana berani malas menggoda. Malas hanya hinggap
kepada pencinta malas.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.3): Memerangi Malas"
Post a Comment