Saturday, 10 December 2016

Menulis (3.3): Memerangi Malas

Ersis Warmasyah Abbas
Kendala yang menyakitkan dan mengendurkan semangat menulis adalah tidak ada dukungan dari orang-orang dekat. Sekalipun begitu, sekalipun menyakitkan, saya tetap saja menulis. Semangat boleh tercedera, membuat malas menulis. Tetapi menulisnya tetap dilakukan sekalipun terseok-seok.
ADAKALANYA memang rasa sakit ketika dicederai, tetapi tidak menjadi kendala. Begitu juga adanya kesalahan dan keteledoran dalam menulis, namanya saja belajar menulis. Bukankah kesalahan hal yang manusiawi? Bahkan, ketika didenda sakit yang membutuhkan istirahat pikiran, dimana terpaksa berhenti menulis, tetap saja menulis di otak. Setelah kesehatan pulih menulis lagi, semangat kembali berkibar.
 
Ternyata, begitu yang saya rasakan, yang paling susah justru memerangi rasa malas menulis. Rasa malas menulis merupakan musuh nomor satu yang harus dilenyapkan, apa pun taruhannya. Melawan rasa malas hanya dengan menulis sehingga rasa malas tersebut hengkang. Memerangi malas merupakan perjuangan ”berdarah-darah”.

Testimoni seorang teman sebagaimana dipaparkan di atas, bermuatan makna. Kunci yang menghalangi kita menulis ada di diri masing-masing, terutama rasa malas. Rasa malas semakin mendenda manakala berkeinginan menulis, namun malasnya lebih menguasai diri. Kalau hal tersebut menjadi bagian diri seseorang sungguh susah terapinya. Mereka yang memelihara sikap malas biasanya membentengi diri dengan alasan. Jadilah, Raja Alasan atau Ratu Berkilah. Apa pun dijadikan alasan demi memelihara kemalasannya.


Memang, ada orang yang berharap, orang-orang di sekitar, mereka yang membaca, merespon apa yang ditulis sebagaimana diharapkan. Hanya saja banyak yang lupa, harapan adalah kebutuhan diri, bukan kebutuhan orang di sekitar atau pembaca tulisan kita. Kalau mereka emoh memberi respon positif, lalu mau apa?

Kiat saya, respon atau fulus adalah bonus. Kalau direspon atau diberi salari, Alhamdulillah. Kalau tidak? Ya, tidak apa-apa. Tetapi, kalau menyangkut diri, malas menulis, halnya sangat mendasar. Kalau berkehendak menulis, jinakkan malasnya, buang ke Kutub Utara sehingga tidak menghinggapi diri.

Perjuangan memupus malas memang sangat berat, tetapi bukan tidak mungkin dilakukan. Mereka yang istiqamah menulis tentulah setelah berhasil membuang malas dan kemalasan dari dirinya. Mereka yang beralasan ini-itu, bisa jadi, sekadar membungkus rasa malas. Alasan adalah benteng tangguh bagi pemalas.
Jika Sampeyan lebih mencintai sikap malas, malas menulis, tidak usah menulis. Tidak menulis gak patheken. Sebaliknya, manakala menulis dilakukan, malas dan kemalasan, akan hengkang dengan sendirinya. Bagi yang melakukan (menulis) mana berani malas menggoda. Malas hanya hinggap kepada pencinta malas.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.3): Memerangi Malas"

Post a Comment