Ersis Warmansyah Abbas
Ketika tulisan saya diposting dan dicaci-maki seseorang tentu saja saya marah. Tetapi, saya menyadari mengumbar marah merugikan diri sendiri. Karena itu, marah bukan diarahkan kepada yang mencaci-maki, melainkan untuk membuktikan, bahwa saya tidak sehina dan seburuk caciannya.
KELUHAN sekaligus kesadaran seorang teman yang sharing menulis patut
diacungi jempol. Apalagi, galibnya, orang yang hobi mencaci tulisan
orang lain dia belum tentu bisa menulis. Kalau tidak berkemampuan
menulis, dia tidak mengerti bagaimana susahnya membuat tulisan. Bukti
karyanya nihil.
Si Pencaci menilai dalam pandangan buruk bukan untuk memperbaiki. Berkarya? Tidak semudah mencaci.
Si Pencaci menilai dalam pandangan buruk bukan untuk memperbaiki. Berkarya? Tidak semudah mencaci.
Karena itu mari jadikan caci-maki
pelecut semangat untuk membuktikan bahka kita mampu menulis. Si Pencaci
bisa saja memicu marah dan amarah kita, tetapi kalau kita terbawa
arusnya rugi sendiri. Pikiran dan perasaan akan terganggu dan Si
pencaci, pemicu amarah akan tertawa terbahak-bahak, kena dech loe.
Ya, ada orang yang kalau tulisannya dicaci pikiran dan perasaannya
terganggu. Uring-uringan. Lebih celaka, marahnya menyebar kemana-mana.
Orang serumahan terkena dampaknya. Bahkan, kucing yang ribut karena
bersetubuh pun dijadikan sasaran kemarahannya. Kalau sudah demikian, apa
pun yang dilakukan, tidak karu-karuan. Marah dan amarah merugikan.
Alangkah bodohnya mereka yang membesar-besarkan amarahnya.
Eit, ngomong-ngomong, Ersis pernah dicaci-maki? Onde mandeh, bukan
pernah lagi, tetapi sering. Terkadang tergoda juga. Ini orang apa
maunya. Saya menulis ini salah, menulis itu salah. Salah melulu. Tetapi,
itu dulu. Sekarang? Tidak lagi. Mungkin sudah kebal.
Saya tidak mau diganggu atau terganggu gara-gara hal tersebut. Dia
tidak menulis bisanya mencaci. Kira-kira, logikanya, yang baik itu tidak
menulis, sedangkan saya berpendapat, menulis lebih baik dari tidak
menulis. Karena tidak menulis, tentu dia tidak akan pernah salah dan
tulisannya tidak akan pernah dicaci. Wong tulisannya saja tidak ada
bagaimana akan mencaci he he. Curang itu. Lalu bagaimana dengan marah?
Buat apa marah atau mengembangkan marah karena tidak ada gunanya.
Lebih bijak, menanam tekad, akan menulis lebih bagus, lebih berkualitas.
Marah bukanlah persoalan pencaci, tetapi diri sendiri. Ya, sudah,
maafkan saja, dan terus menulis. Pikiran lega perasaan nyaman.
Hal demikianlah yang menjadikan aktivitas menulis tidak terganggu.
Dicaci atau dipuji adalah respon atas tulisan. Merespon respon atas
respon, pilih-pilih saja. Dipuji, kalau bermanfaat, monggo. Dicaci,
balikan menjadi kebermanfaatan untuk melecut diri agar menulis lebih
bagus. Tidak usahlah melarutkan diri atau mengumbar dan mengembangkan
marah. Tidak ada untungnya. Masyak sih maunya menangguk rugi.
Mari memenej diri kita, memenej marah dan amarah, dan memilih aktivitas menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.1): Marah Merugikan Kehendak"
Post a Comment