Saturday, 10 December 2016

Menulis (3.2): Deraan Minder

Ersis Warmansyah Abbas
Hal yang membuat kendurnya semangat saya menulis, karena minder. Hal tersebut diperparah karena gagalnya tulisan saya diterima media cetak. Mengirim tulisan untuk berbagai perlombaan, hasilnya kalah. Masuk nominasi saja tidak. Kira-kira begitu keluhan penulis pemula.
KELUHAN penulis pemula, mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan, karena itu belum terampil menulis, hal sangat wajar. Mana pula kalau dihadiahi komentar miring, bahkan oleh orang terdekat sekalipun. “Tulisanmu tidak ada apa-apanya, tidak memberikan apa-apa kepada pembaca.” Ampun Datuk.
 
Perhatikan dengan cermat keluhan kawan kita tersebut. Keinginannya untuk menulis, bolehlah. Tetapi, pihak luar dirinya belum berterima. Salah? Bukan disitu masalah pokoknya. Bisa jadi, memang kualitas tulisannya tergolong jahiliyah. Atau, bisa pula karena terlalu bersemangat, langsung menjajal kemampuan dengan mengirimkan ke media cetak bergengsi atau berbagai perlombaan. Ditolak, jadilah minder.

Minder dalam menulis, sesungguhnya tidak ada hubungan dengan hal di luar diri. Jika seseorang nekad belajar menulis dia akan membangun mindset menulis. Mindset yang kokoh akan melejitkan potensi sebab mindset adalah bangunan atas kehendak diri. Kalau demikian adanya, perasaan minder akan enyah. Berbagai ketakutan akan sirna. Pembelajar menulis adalah mereka yang menempatkan diri sebagai pembelajar dan dengan begitu tekadnya hanya satu, belajar, belajar, dan belajar, dalam hal ini menulis.


Posisi diri sebagai pembelajar menulis tidak akan goyah oleh terpaan luar diri. Memang, dukungan dari orang terdekat atau lingkungan akan lebih membangkitkan semangat, tetapi pelajar cerdas tidak akan pernah menggantungkan harap pada dukungan saja. Sebab, kemauan diri yang lebih utama.

Ada orang yang terlalu berharap pihak luar diri memberi dukungan, minimal memberi angin segar. Tetapi, kalau tidak diperoleh, apakah patah semangat menulis? Tentu tidak. Sebab, apa-apa yang di luar diri kalaulah tidak berkontribusi positif, lucu saja manakala diharapkan. Berharaplah pada diri, bukan kepada orang lain.

Lebih radikal, kalau teman atau lingkungan tidak mendukung, tidak apa-apa. Kenapa menulis dilandaskan pada dukungan? Menulis itu melakukan, bukan berharap. Menulis mengkongkritkan pikiran dalam bentuk tulisan. Kalau demikian adanya, aktivitas menulis adalah milik penulis, sebab yang mempunyai pikiran adalah penulis.

Karena itu, mari jadikan minder sebagai pemicu dan pemacu menulis dengan melakukan (menulis). Manakala menulis telah atau sedang dilakukan, mindernya hilang. Begitu juga, jika seseorang menulis, tidak ada kaitan langsung dengan hal di luar diri, di luar pikiran. Wong yang ditulis pikiran sendiri. Tepatnya, menulis saja. Bagaimana kalau dibantai?

Belajarlah dari pembantaian. Pembantaian, seperti juga penilaian, setelah tulisan menjadi. Minimal kita sudah menulis, menghasilkan tulisan. Selanjutnya, berusaha meningkatkan tulisan. Begitu rangkaiannya. Jadi, mari buang minder.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.2): Deraan Minder"

Post a Comment