Ersis Warmansyah Abbas
Hal yang membuat kendurnya semangat saya menulis, karena minder. Hal tersebut diperparah karena gagalnya tulisan saya diterima media cetak. Mengirim tulisan untuk berbagai perlombaan, hasilnya kalah. Masuk nominasi saja tidak. Kira-kira begitu keluhan penulis pemula.
KELUHAN penulis pemula, mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan,
karena itu belum terampil menulis, hal sangat wajar. Mana pula kalau
dihadiahi komentar miring, bahkan oleh orang terdekat sekalipun.
“Tulisanmu tidak ada apa-apanya, tidak memberikan apa-apa kepada
pembaca.” Ampun Datuk.
Perhatikan dengan cermat keluhan kawan kita tersebut. Keinginannya untuk
menulis, bolehlah. Tetapi, pihak luar dirinya belum berterima. Salah?
Bukan disitu masalah pokoknya. Bisa jadi, memang kualitas tulisannya
tergolong jahiliyah. Atau, bisa pula karena terlalu bersemangat,
langsung menjajal kemampuan dengan mengirimkan ke media cetak bergengsi
atau berbagai perlombaan. Ditolak, jadilah minder.
Minder dalam menulis, sesungguhnya tidak ada hubungan dengan hal di
luar diri. Jika seseorang nekad belajar menulis dia akan membangun
mindset menulis. Mindset yang kokoh akan melejitkan potensi sebab
mindset adalah bangunan atas kehendak diri. Kalau demikian adanya,
perasaan minder akan enyah. Berbagai ketakutan akan sirna. Pembelajar
menulis adalah mereka yang menempatkan diri sebagai pembelajar dan
dengan begitu tekadnya hanya satu, belajar, belajar, dan belajar, dalam
hal ini menulis.
Posisi diri sebagai pembelajar menulis tidak akan goyah oleh terpaan
luar diri. Memang, dukungan dari orang terdekat atau lingkungan akan
lebih membangkitkan semangat, tetapi pelajar cerdas tidak akan pernah
menggantungkan harap pada dukungan saja. Sebab, kemauan diri yang lebih
utama.
Ada orang yang terlalu berharap pihak luar diri memberi dukungan,
minimal memberi angin segar. Tetapi, kalau tidak diperoleh, apakah patah
semangat menulis? Tentu tidak. Sebab, apa-apa yang di luar diri
kalaulah tidak berkontribusi positif, lucu saja manakala diharapkan.
Berharaplah pada diri, bukan kepada orang lain.
Lebih radikal, kalau teman atau lingkungan tidak mendukung, tidak
apa-apa. Kenapa menulis dilandaskan pada dukungan? Menulis itu
melakukan, bukan berharap. Menulis mengkongkritkan pikiran dalam bentuk
tulisan. Kalau demikian adanya, aktivitas menulis adalah milik penulis,
sebab yang mempunyai pikiran adalah penulis.
Karena itu, mari jadikan minder sebagai pemicu dan pemacu menulis
dengan melakukan (menulis). Manakala menulis telah atau sedang
dilakukan, mindernya hilang. Begitu juga, jika seseorang menulis, tidak
ada kaitan langsung dengan hal di luar diri, di luar pikiran. Wong yang
ditulis pikiran sendiri. Tepatnya, menulis saja. Bagaimana kalau
dibantai?
Belajarlah dari pembantaian. Pembantaian, seperti juga penilaian,
setelah tulisan menjadi. Minimal kita sudah menulis, menghasilkan
tulisan. Selanjutnya, berusaha meningkatkan tulisan. Begitu
rangkaiannya. Jadi, mari buang minder.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.2): Deraan Minder"
Post a Comment