Friday, 9 December 2016

Menulis (2.1): Akan Menulis, Akan dan Akan (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas
Penyakit menahun yang dipelihara beberapa orang yang hendak menulis, dan disampaikan kepada saya: “Pak saya akan menulis anu, anu, dan anu”. Karena terlalu sering, adakalanya dicuekin. Dianjurkan langsung menulis malah didebat, susah memulainya. Orang ini mau menulis atau mau apa?
KALAU ”Filsafat Akan” yang akan diperdalam sampai kiamat pun Sampeyan tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Kalau ”Filsafat Menulis” yang dianut, begitu selesai menulis pasti hasilnya tulisan. Melakukan aktivitas menulis mustahil hasilnya roti bakar, oseng-oseng atau karedok.

Atau, cermati contoh pernyataan berikut. “Pak, saya ingin ke rumah Sampeyan, ingin melihat perpustakaan Sampeyan.” Sapaan di inbox tersebut dijawab: “Mau datang, berbeda dengan datang; dua hal berbeda lho.” Alhamdulillah, dia paham. Keinginan atau kemauan saja tidak cukup untuk mewujudkan sesuatu. Ada kehendak menulis, tetapi mendendangkan akan atau kebiasaan beralasan, pastilah orang tersebut tidak akan menghasilkan tulisan.


Pada satu sharing menulis, seorang peserta bertanya: “Pak, saya heran, tulisan Sampeyan begitu banyak. Bagaimana cara menulisnya?” Saya jawab: “Saya menulis.” Sungguh sangat sederhana. Saya tidak menyanjung kehebatan akan, tetapi melakukan (menulis). Soal tulisan saya tidak bermutu, begitu adanya. Yang pasti tulisannya menjadi, dan bukan akan. Ya, bukan akan menulis.

Saudara-saudara sebangsa dan saudara-saudara sedunia. Musuh besar menulis adalah akan menulis dan beralasan untuk menulis. Hal paling baik membuktikan menulis, ya dengan menulis. Kalau menulisnya dilakukan, menulis apa pun, alasan apa pun untuk tidak menulis, sirna dengan sendirinya. Tidak perlu teori ini-itu, manakala menulis segala hal penghalang menulis lenyap.

Ada orang yang menghabiskan waktunya, bahkan sampai bergelar doktor, dan tentu dia menguasai teori, teknik, gaya atau apa pun istilahnya seputar menulis, kalau tidak menulis pasti tidak menghasilkan tulisan. Sehebat apa pun seseorang menasehati orang lain tentang menulis yang baik, kalau dia tidak menulis dan yang dinasehati tidak menulis, keduanya tidak menghasilkan tulisan.
 
Perhatikan ribuan orang yang berpengetahuan hebat tentang menulis, mampu memindai seketika kekurangan tulisan orang, mempunyai segudang resep atau kiat menulis hebat, hebat mempengaruhi, tetapi kalau tulisannya tidak ada, ya tetap saja bukan penulis. Menulis buah melakukan, bukan hasil teori atau pameran pengetahuan menulis.

Kalau Sampeyan berkehendak menulis, berkehendak menghasilkan karya tulis, apa pun bentuknya, lakukan menulisnya. Bisa jadi, pada awal menulis berbagai kekurangan terjadi, dari tema yang tidak kuat, paparan tidak tertata, atau logika tulisan yang belum pas, ya tidak mengapa, namanya juga belajar, belajar menulis, membiasakan menulis.

Hal mendasarkan melakukan (menulis). Hal tersebut berbeda dengan menggantang segudang angan, akan, akan, dan akan menulis anu, menulis ini, menulis ane, dan menulis itu. Selama akan dijadikan sandaran pemikiran, dipastikan tidak menghasilkan tulisan. Karena itu, kalau terbetik kehendak menulis, bila sudah terkonsep, langsung tulis. Atau, kalau konsep belum ”matang” lakukan ”pematangan” dan tulis.

Banyak lho, mereka yang tidak kuliah menjadi penulis hebat karena melakukan (menulis) dan membelajarkan dirinya menulis. Sebaliknya, mereka yang tergolong orang sekolahan, kalau tidak menulis, ya tidak ada tulisannya.
 
Menulis bukan akan. Kalau mau mengembangkan kehebatan melamun, silakan memperkokoh ‘Filsafat Akan’.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.1): Akan Menulis, Akan dan Akan (Lagi)"

Post a Comment