Ersis Warmansyah Abbas
Penyakit menahun yang dipelihara beberapa orang yang hendak menulis, dan disampaikan kepada saya: “Pak saya akan menulis anu, anu, dan anu”. Karena terlalu sering, adakalanya dicuekin. Dianjurkan langsung menulis malah didebat, susah memulainya. Orang ini mau menulis atau mau apa?
KALAU ”Filsafat Akan” yang akan diperdalam sampai kiamat pun Sampeyan
tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Kalau ”Filsafat Menulis” yang
dianut, begitu selesai menulis pasti hasilnya tulisan. Melakukan
aktivitas menulis mustahil hasilnya roti bakar, oseng-oseng atau
karedok.
Atau, cermati contoh pernyataan berikut. “Pak, saya ingin ke rumah
Sampeyan, ingin melihat perpustakaan Sampeyan.” Sapaan di inbox tersebut
dijawab: “Mau datang, berbeda dengan datang; dua hal berbeda lho.”
Alhamdulillah, dia paham. Keinginan atau kemauan saja tidak cukup untuk
mewujudkan sesuatu. Ada kehendak menulis, tetapi mendendangkan akan atau
kebiasaan beralasan, pastilah orang tersebut tidak akan menghasilkan
tulisan.
Pada satu sharing menulis, seorang peserta bertanya: “Pak, saya
heran, tulisan Sampeyan begitu banyak. Bagaimana cara menulisnya?” Saya
jawab: “Saya menulis.” Sungguh sangat sederhana. Saya tidak menyanjung
kehebatan akan, tetapi melakukan (menulis). Soal tulisan saya tidak
bermutu, begitu adanya. Yang pasti tulisannya menjadi, dan bukan akan.
Ya, bukan akan menulis.
Saudara-saudara sebangsa dan saudara-saudara sedunia. Musuh besar
menulis adalah akan menulis dan beralasan untuk menulis. Hal paling baik
membuktikan menulis, ya dengan menulis. Kalau menulisnya dilakukan,
menulis apa pun, alasan apa pun untuk tidak menulis, sirna dengan
sendirinya. Tidak perlu teori ini-itu, manakala menulis segala hal
penghalang menulis lenyap.
Ada orang yang menghabiskan waktunya, bahkan sampai bergelar doktor,
dan tentu dia menguasai teori, teknik, gaya atau apa pun istilahnya
seputar menulis, kalau tidak menulis pasti tidak menghasilkan tulisan.
Sehebat apa pun seseorang menasehati orang lain tentang menulis yang
baik, kalau dia tidak menulis dan yang dinasehati tidak menulis,
keduanya tidak menghasilkan tulisan.
Perhatikan ribuan orang yang berpengetahuan hebat tentang menulis, mampu
memindai seketika kekurangan tulisan orang, mempunyai segudang resep
atau kiat menulis hebat, hebat mempengaruhi, tetapi kalau tulisannya
tidak ada, ya tetap saja bukan penulis. Menulis buah melakukan, bukan
hasil teori atau pameran pengetahuan menulis.
Kalau Sampeyan berkehendak menulis, berkehendak menghasilkan karya
tulis, apa pun bentuknya, lakukan menulisnya. Bisa jadi, pada awal
menulis berbagai kekurangan terjadi, dari tema yang tidak kuat, paparan
tidak tertata, atau logika tulisan yang belum pas, ya tidak mengapa,
namanya juga belajar, belajar menulis, membiasakan menulis.
Hal mendasarkan melakukan (menulis). Hal tersebut berbeda dengan
menggantang segudang angan, akan, akan, dan akan menulis anu, menulis
ini, menulis ane, dan menulis itu. Selama akan dijadikan sandaran
pemikiran, dipastikan tidak menghasilkan tulisan. Karena itu, kalau
terbetik kehendak menulis, bila sudah terkonsep, langsung tulis. Atau,
kalau konsep belum ”matang” lakukan ”pematangan” dan tulis.
Banyak lho, mereka yang tidak kuliah menjadi penulis hebat karena
melakukan (menulis) dan membelajarkan dirinya menulis. Sebaliknya,
mereka yang tergolong orang sekolahan, kalau tidak menulis, ya tidak ada
tulisannya.
Menulis bukan akan. Kalau mau mengembangkan kehebatan melamun, silakan memperkokoh ‘Filsafat Akan’.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.1): Akan Menulis, Akan dan Akan (Lagi)"
Post a Comment