Ersis Warmansyah Abbas
Manakala tulisanku dicaci, kalau yang mencaci tidak dikenal, kucuekin saja. Tetapi, bila dilakukan orang dekat, apalagi aku respek kepadanya, membuatku sedih dan membencinya. Jerih payahku tidak dihargai.
TESTIMONI seorang pesharing menulis untunglah tidak membuatnya kapok
menulis sekalipun dampaknya sangat membekas. Rasa sedih dan marah
barulah surut manakala bisa berdamai dengan diriku, dan bersemangat lagi
menulis. Setelah berdamai dengan diri, kemarahan barulah sirna. Biar
bencinya tidak lama dan semangat menulis tidak lumpuh.
Membaca testimoni tersebut, sungguh bagus kalimat ‘berdamai dengan
diri’. Ya, penentu tindakan kita adalah kita sendiri. Orang lain mungkin
bisa mempengaruhi, itu pun kalau kita mengizinkannya ‘masuk’. Kalau
tidak diizinkan tidak ada hal apa pun yang bisa menjadi bagian diri;
pikiran, ide, atau apa pun yang menjadi tindakan kita. Diri seseoranglah
penentu apa yang dilakukannya.
Hal tersiratnya, dari sikap kawan kita ini, penyadaran, bahwa dirinya
yang menentukan. Sakit hati, merasa terhina, atau marah karena dicaci
bukan persoalan orang lain, tetapi diri sendiri. Karena itu ambilan
terbaiknya adalah berdamai dengan diri agar tidak merusak diri itu
sendiri. Apalagi, sampai menyalahkan orang lain yang sebenarnya tidak
berdaya mempengaruhi kalau diri tidak berpengaruh. Sungguh tindakan
bijak dan sangat cerdas.
Saya mempunyai pengalaman, yang katakanlah, kontroversial. Ketika
buku pertama tentang menulis, Menulis Sangat Mudah (Mata Khatulistiwa,
2006) diterbitkan ada yang mengatakan: “Buku apaan? Tulisan yang telah
dipublikasikan di media cetak (Radar Banjarmasin) kok diterbitkan
menjadi buku.” Itu menurutnya.
Padahal, buku tersebut dicetak ulang. Maklum buku tersebut
didistribusikan secara nasional oleh PT Buku Kita. Buat apa marah karena
dicela. Bukan tidak mungkin, gara-gara buku tersebut saya dikenal oleh
banyak anak bangsa negeri ini. Sejak itu, buku-buku seri menulis saya
beruntun diterbitkan. Kiranya jarang orang yang menulis tentang menulis
melebihi dua puluh buku.
Kalau celaan yang dimaksudkan untuk mematikan kehendak menulis
diamini dan semangat menulis tengkurap tentu yang rugi saya, dan mungkin
juga ribuan orang. Misalnya, semangat menulis saya tergerus. Ribuan
pembaca tulisan saya, baik di dunia maya mau pun di dunia nyata tentu
tidak mendapat asupan membaca. Ah, berdamai dengan diri sendiri,
menulis, menulis, dan terus menulis hasilnya, tulisan.
Alhamdulillah, tidak terjerumus celaan dan kemudian mengembangkan
amarah. Kalau bertemu dengan orang yang mencela, saya senyum-senyum
saja, dan mungkin dia lupa atau malah menggerutu dirinya karena tidak
sanggup mematahkan semangat menulis saya he he.
Yaps, menulis adalah refleksi diri. Perkuat diri, bangun benteng diri atas serbuan hal-hal tidak bermanfaat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.2): Dicaci, Berdamailah"
Post a Comment