Monday, 12 December 2016

Menulis (4.2): Dicaci, Berdamailah

Ersis Warmansyah Abbas
Manakala tulisanku dicaci, kalau yang mencaci tidak dikenal, kucuekin saja. Tetapi, bila dilakukan orang dekat, apalagi aku respek kepadanya, membuatku sedih dan membencinya. Jerih payahku tidak dihargai.
TESTIMONI seorang pesharing menulis untunglah tidak membuatnya kapok menulis sekalipun dampaknya sangat membekas. Rasa sedih dan marah barulah surut manakala bisa berdamai dengan diriku, dan bersemangat lagi menulis. Setelah berdamai dengan diri, kemarahan barulah sirna. Biar bencinya tidak lama dan semangat menulis tidak lumpuh.
 
Membaca testimoni tersebut, sungguh bagus kalimat ‘berdamai dengan diri’. Ya, penentu tindakan kita adalah kita sendiri. Orang lain mungkin bisa mempengaruhi, itu pun kalau kita mengizinkannya ‘masuk’. Kalau tidak diizinkan tidak ada hal apa pun yang bisa menjadi bagian diri; pikiran, ide, atau apa pun yang menjadi tindakan kita. Diri seseoranglah penentu apa yang dilakukannya.

Hal tersiratnya, dari sikap kawan kita ini, penyadaran, bahwa dirinya yang menentukan. Sakit hati, merasa terhina, atau marah karena dicaci bukan persoalan orang lain, tetapi diri sendiri. Karena itu ambilan terbaiknya adalah berdamai dengan diri agar tidak merusak diri itu sendiri. Apalagi, sampai menyalahkan orang lain yang sebenarnya tidak berdaya mempengaruhi kalau diri tidak berpengaruh. Sungguh tindakan bijak dan sangat cerdas.

Saya mempunyai pengalaman, yang katakanlah, kontroversial. Ketika buku pertama tentang menulis, Menulis Sangat Mudah (Mata Khatulistiwa, 2006) diterbitkan ada yang mengatakan: “Buku apaan? Tulisan yang telah dipublikasikan di media cetak (Radar Banjarmasin) kok diterbitkan menjadi buku.” Itu menurutnya.

Padahal, buku tersebut dicetak ulang. Maklum buku tersebut didistribusikan secara nasional oleh PT Buku Kita. Buat apa marah karena dicela. Bukan tidak mungkin, gara-gara buku tersebut saya dikenal oleh banyak anak bangsa negeri ini. Sejak itu, buku-buku seri menulis saya beruntun diterbitkan. Kiranya jarang orang yang menulis tentang menulis melebihi dua puluh buku.

Kalau celaan yang dimaksudkan untuk mematikan kehendak menulis diamini dan semangat menulis tengkurap tentu yang rugi saya, dan mungkin juga ribuan orang. Misalnya, semangat menulis saya tergerus. Ribuan pembaca tulisan saya, baik di dunia maya mau pun di dunia nyata tentu tidak mendapat asupan membaca. Ah, berdamai dengan diri sendiri, menulis, menulis, dan terus menulis hasilnya, tulisan.

Alhamdulillah, tidak terjerumus celaan dan kemudian mengembangkan amarah. Kalau bertemu dengan orang yang mencela, saya senyum-senyum saja, dan mungkin dia lupa atau malah menggerutu dirinya karena tidak sanggup mematahkan semangat menulis saya he he.

Yaps, menulis adalah refleksi diri. Perkuat diri, bangun benteng diri atas serbuan hal-hal tidak bermanfaat.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (4.2): Dicaci, Berdamailah"

Post a Comment