Ersis Warmansyah Abbas
Saya, kisah seseorang, sungguh tidak dihargai oleh guru bahasa Indonesia yang memberi tugas menulis. Berhari-hari mencari dan mengolah bahan tulisan, begitu menjadi tulisan, hanya sekadar diparaf. Tanpa dikomentari, tanpa diberi arahan, dan tanpa diberi nilai. Diparaf dan selesai.
\SESEORANG yang lain, memendam amarah. Apa pasal? Tulisannya dihadiahi
catatan merah bergaris tebal-tebal tanpa memberi keterangan
kenapa-kenapanya. Padahal, dia berharap, ada solusi agar tulisannya
membaik. Namanya juga pelajar yang sedang belajar menulis.
Pada contoh yang lain, ini masih tentang guru yang menyebalkan,
menyalahkan apa yang ditulis muridnya, dan tanpa keterangan. Pokoknya
salah. Mana pula, ditugaskan menulis puisi atau cerpen, dan setelah itu
”dibantai”. Salah melulu.
Kalau hal sedemikian di-sharing-kan kepada saya, akan dianjurkan: “Minta
contoh tulisan yang baik hasil karya gurumu.” Guru-guru yang tidak
bisa, tidak terbiasa menulis akan kelimpungan. Kalau membandingkan
tulisan pembelajar menulis dengan cerpenis atau novelis hebat, kodok pun
bisa.
Begitu istilah sarkastisnya. Yang susah dengan contoh. Alangkah
baiknya guru memberi contoh dengan karyanya agar dapat diteladani
murid-muridnya. Sungguh konyol membandingkan puisi karya siswa dengan
puisi Taufik Ismail atau cerpen siswa dengan cerpen Hamsad Rangkuti.
Dalam memahami kasus sebagaimana terpapar, saya tidak terlalu
tertarik membahasnya. Saya mempunyai pengalaman lebih seru. Bayangkan,
orang yang tidak piawai menulis ”membantai” dengan teramat sadis. Mulai
dari tulisanmu tidak bermutu sampai yang ditulis berbahan sampah. Bukan
sarjana bahasa kok bergiat memotivasi menulis. Marah?
Saya berpikir sebaliknya, memahami dan memaafkan. Kalau orang seperti
saya saja bisa menulis ribuan tulisan tentang menulis, puluhan buku
tentang menulis, diundang ke berbagai kampus atau sebagai nara sumber di
banyak tempat, tentu kalau yang sarjana bahasa lebih hebat. Kalau, ini
kalau lagi, buku-buku saya diterbitkan berbagai penerbit, dari penerbit
biasa-biasa saja sampai penerbit ternama, tulisan saya dimuat media
paling bergengsi di republik, apa salah saya?
Berkarya kok salah. Kalau tidak menulis, apalagi sarjana bahasa,
tulisannya diemohi media cetak, bukunya enggan diterbitkan, atau tidak
diundang sebagai nara sumber, hal tersebut perlu dipertanyakan. Dan,
masyak sih yang giat menulis dipatahkan oleh yang terbukti tidak menulis
alias letoy menulis. Ah, yang benar saja, Bro.
Jadi, kalau berkehendak menulis, jangan hiraukan yang mematikan semangat.
Sebab, menulis itu belajar, pembelajaran diri. Mulai dari belajar
tentang ide, mengumpulkan bahan, mengolah, dan menjadikan tulisan,
sampai bagaimana agar tulisan terpublikasikan, dan bermanfaat bagi
sesama. Prinsip tersebut sebagai penjaga semangat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.4) Dihajar Guru"
Post a Comment