Saturday, 10 December 2016

Menulis (3.4) Dihajar Guru

Ersis Warmansyah Abbas
Saya, kisah seseorang, sungguh tidak dihargai oleh guru bahasa Indonesia yang memberi tugas menulis. Berhari-hari mencari dan mengolah bahan tulisan, begitu menjadi tulisan, hanya sekadar diparaf. Tanpa dikomentari, tanpa diberi arahan, dan tanpa diberi nilai. Diparaf dan selesai.

\SESEORANG yang lain, memendam amarah. Apa pasal? Tulisannya dihadiahi catatan merah bergaris tebal-tebal tanpa memberi keterangan kenapa-kenapanya. Padahal, dia berharap, ada solusi agar tulisannya membaik. Namanya juga pelajar yang sedang belajar menulis.
 
Pada contoh yang lain, ini masih tentang guru yang menyebalkan, menyalahkan apa yang ditulis muridnya, dan tanpa keterangan. Pokoknya salah. Mana pula, ditugaskan menulis puisi atau cerpen, dan setelah itu ”dibantai”. Salah melulu.
 
Kalau hal sedemikian di-sharing-kan kepada saya, akan dianjurkan: “Minta contoh tulisan yang baik hasil karya gurumu.” Guru-guru yang tidak bisa, tidak terbiasa menulis akan kelimpungan. Kalau membandingkan tulisan pembelajar menulis dengan cerpenis atau novelis hebat, kodok pun bisa.

Begitu istilah sarkastisnya. Yang susah dengan contoh. Alangkah baiknya guru memberi contoh dengan karyanya agar dapat diteladani murid-muridnya. Sungguh konyol membandingkan puisi karya siswa dengan puisi Taufik Ismail atau cerpen siswa dengan cerpen Hamsad Rangkuti.

Dalam memahami kasus sebagaimana terpapar, saya tidak terlalu tertarik membahasnya. Saya mempunyai pengalaman lebih seru. Bayangkan, orang yang tidak piawai menulis ”membantai” dengan teramat sadis. Mulai dari tulisanmu tidak bermutu sampai yang ditulis berbahan sampah. Bukan sarjana bahasa kok bergiat memotivasi menulis. Marah?

Saya berpikir sebaliknya, memahami dan memaafkan. Kalau orang seperti saya saja bisa menulis ribuan tulisan tentang menulis, puluhan buku tentang menulis, diundang ke berbagai kampus atau sebagai nara sumber di banyak tempat, tentu kalau yang sarjana bahasa lebih hebat. Kalau, ini kalau lagi, buku-buku saya diterbitkan berbagai penerbit, dari penerbit biasa-biasa saja sampai penerbit ternama, tulisan saya dimuat media paling bergengsi di republik, apa salah saya?

Berkarya kok salah. Kalau tidak menulis, apalagi sarjana bahasa, tulisannya diemohi media cetak, bukunya enggan diterbitkan, atau tidak diundang sebagai nara sumber, hal tersebut perlu dipertanyakan. Dan, masyak sih yang giat menulis dipatahkan oleh yang terbukti tidak menulis alias letoy menulis. Ah, yang benar saja, Bro.
 
Jadi, kalau berkehendak menulis, jangan hiraukan yang mematikan semangat.

Sebab, menulis itu belajar, pembelajaran diri. Mulai dari belajar tentang ide, mengumpulkan bahan, mengolah, dan menjadikan tulisan, sampai bagaimana agar tulisan terpublikasikan, dan bermanfaat bagi sesama. Prinsip tersebut sebagai penjaga semangat.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.4) Dihajar Guru"

Post a Comment