Saturday, 10 December 2016

Menulis (2.10): Menulis, Menulis dan Menulis (Lagi)

Ersis Warmansyah Abbas
Percaya atau tidak, resep jitu mamasihkan menulis, ya dengan menulis. Antitesis dari berbagai masalah menulis, sebagaimana didiskusikan pada bagian terdahulu, adalah melakukan alias menulis. Menulis sejatinya kita membelajarkan diri, ya dengan menulis.
MENULIS dalam arti membangun keterampilan (menulis) bukan dengan membaca atau mempelajari teori (saja), sebab ranahnya ranah pratikal. Dari praktiklah kita menjadi terampil. Bahwa pengetahuan penting, bahwa wawasan penting, bahwa teori menulis penting, sudah jelas dengan sendirinya. Tetapi, manakala menulisnya tidak dilakukan yang penting-penting tersebut tidak ada hasilnya.
 
Dalam melakukan (menulis), manakala pengetahuan kurang, wawasan tidak memadai, atau tidak memahami teori, potensi akan menagih. Sebaliknya, fokus meraup pengetahuan, memperluas wawasan, dan mempelajari segala teori menulis, akan menjadi sia-sia. Sebab, kalau tidak menulis tidak akan ada tulisan. Lebih baik berpengetahuan, berwawasan, dan menguasai teori, dan aktivitas menulisnya sepadan. Belajar OK, tulisan OK.

Kalau tidak, bisa jadi akan kecewa dengan kemampuan diri. Lalu, iri atau cemburu dengan mereka yang berpengetahuan sekadaranya, berwawasan seadanya, dan tidak paham teori menulis, dan menghajar tulisan orang. Diri yang tidak mampu orang lain yang menjadi korban.

Sebaliknya, jika menulis dilakukan, dapat merasakan betapa menulis perjuangan tidak mudah, dan menerbitkan buku betapa rumitnya, apalagi memasarkan agar tidak sekadar diterbitkan. Dia tidak akan semena-mena menuntut kualitas pemula, tidak membandingkan tulisan anak SMP dengan kualitas penulis ternama. Menulis ada tahapannya.

Kalau tidak melakukan menulis, hanya menasehati, hanya menilai, hanya menghujat, tidak akan paham bagaimana mewujudkan tulisan, dan dengan mudah mencemeeh. Tidak mampu menulis buku, cerewet menilai buku orang. Belum pernah menerbitkan buku, merasa sangat hebat. Bagaimana logikanya, diri terbukti tidak mampu menulis, apalagi menerbitkan buku, merasa hebat dari yang menulis.

Ibarat seseorang naskah bukunya enggan diterbitkan penerbit ”kacangan”, namun seenak udel mencaci maki buku yang diterbitkan penerbit berkualitas.
 
Ya, menulis adalah pembuktian diri. Menulis sebagai aktualisasi diri sebenarnya tidak memerlukan kampanye, saya hebat, saya berpengetahuan, saya berpengalaman, atau apa begitu. Sebab, tulisan akan menampakkan tentang siapa penulisnya.

Kembali ke pokok diskusi kita, dan dalam mengakhiri bab ini, segala hal pendukung menulis diperlukan manakala kita bermaksud menulis, menjadi penulis. Tetapi, yang paling penting adalah melakukannya. Tanpa melakukan (menulis), tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Tulisan buah melakukan, dan dalam melakukan tersebutlah dibangun kualitas tulisan.
 
Mari menulis, menulis, dan menulis (lagi).

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.10): Menulis, Menulis dan Menulis (Lagi)"

Post a Comment