Ersis Warmansyah Abbas
Saya sungguh tidak menyangka pengalaman seseorang, perempuan yang baru belajar menulis, penulis pemula, begitu buruknya. Begitu tulisannya dipublikasikan, bukan sekadar dicela, tetapi dicaci-maki. Tidak cukup sampai disitu, menurutnya sampai ditulis dengan tulisan besar: ”Demi Allah, Gue ngak suka”.
SAYA geleng-geleng kelapa, eit sori, geleng-geleng kepala, kok sampai
begitu ya. Untungnya perempuan tangguh tersebut cuek. Prinsipnya bagus,
terus menulis. Tidak peduli dikucilkan atau dijelek-jelekan.
Disadarinya, apa yang ditulis, sekalipun benar menurutnya, kalau menurut
orang lain salah, apa boleh buat. Menulis di group menulis, tulisannya
dihapus oleh admin, karena berbeda pandangan.
Kata-kata pokoknya saya tidak suka bukanlah hal baru. Kata-kata tersebut
terbetik dari seseorang yang tidak suka dengan seseorang dan apa pun
yang ditulisnya. Jangankan tulisan yang salah, tulisan yang benar pun
tidak disukainya. Masalah suka atau tidak suka sebenarnya hal lazim
saja, tetapi kalau menjadi benci, ya tidak mengenal benar atau salah,
baik atau buruk, bermanfaat atau tidak.
Ketika menulis tulisan ini, seorang teman bercerita, betapa
segerombolan orang tidak menyukai kami. Apa sebab? Kami dekat dengan
seseorang yang ingin didekati oleh banyak orang. Kira-kira mereka iri
atau hasad. Hebatnya kami, apa pun isu yang ditimpakan, cuek bebek saja.
Berakrab-akrab mana bisa dipaksa-paksa.
Dalam aktivitas menulis, ada orang yang tidak menyukai lebih aneh
lagi. Bertemu belum tidak pernah, bekerjasama belum pernah, apalagi
merugikannya. Suatu hari, karena dibawa temannya dia berbicara dengan
saya. Wong temannya saya traktir. Tanpa basa-basa saya ‘tembak’ dia.
“Mas, Sampeyan ini aneh juga ya. Apa tulisan saya pernah menyinggung
Sampeyan?” Dia gagap. “Pak, menurut Si Anu Sampeyan itu begini-begitu”.
Nah lho. Saya tidak menuliskan lanjutan testimoninya.
Saya geli mendengar pengakuannya. Setelah berbincang, dia menjadi
pecandu tulisan saya. Suatu kali saya goda: “Nah, loe. Dulu membaca
tulisan saya sembunyi-sembunyi kini membaca dengan pikiran bebas dari
prasangka. Mana yang nyaman?” Dia tertawa masam saja. Kena loe?
Siapa pun berhak tidak menyukai kita, tetapi jangan terganggu dengan
ketidaksukaan. Siapa pun berhak menilai tulisan kita, tetapi jangan
sampai karena itu semangat menulis tiarap. Menulis adalah wilayah
merdeka semerdeka orang menyukai atau tidak menyukai.
Tidak suka atau menjadi pecandu tulisan seseorang atau orangnya,
urusan masing-masing. Tidak ada paksa-paksaan. Menulis pun demikian.
Bebas. Yang penting menulis he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.3): Gue Ngak Suka"
Post a Comment