Ersis Warmansyah Abbas
Sejujurnya, keluh seseorang, saya baru menulis, tingkat penulis pemula. Keinginan menulis datang dari dalam diri, karena itu berusaha mewujudkannya. Membaca banyak hal sebelum menulis, menganalisis, dan menuliskannya. Saya berjuang untuk menulis.
BAGI mereka yang jago menulis, menulis satu tulisan bisa jadi
bukanlah perkara susah. Tetapi, bagi saya, bukanlah perkara mudah. Niat
dan kemauan menulislah yang menjadikan begitu tabah sehingga menjadi
tulisan. Membaca, mencari bahan dan mengolah hasil bacaan lalu
dituangkan menjadi tulisan, sungguh perjuangan berat. Sudah begitu,
seseorang dengan entengnya berkata: “Tulisan loe buruk”. Perjuangan yang
begitu panjang hanya divonis dengan satu kalimat: “Tulisan loe buruk”.
Sungguh, saya tidak siap menerima ucapan tersebut. Sedih, mengkal,
kesal, marah dan sumpah serapah kekecewaan campur-aduk. Tega-teganya
teman mempurukkan. Tidak dapat tidak mental saya down. Saya tahu,
sebagai penulis pemula tulisan saya memang belum sempurna.
Tetapi, jangan memvonis begitu kejam. Tidak adakah rasa kasihan? Saya
menyadari, tulisan tersebut perlu diperbaiki, namanya juga belajar
menulis, tetapi mbok ya jangan begitu bengis menilai tulisan teman. Duh,
sedih. Sungguh sedih.
Apa boleh buat, tulisan yang dibuat dengan susah payah, dengan segala
kemampuan, hanya dihadiahi ”penghargaan” menyakitkan: Tulisan Loe,
Buruuuuk. Sungguh sangat menyakitkan. Terang saja semangat menulis
anjlok.
Pembaca sekalian. Apa yang dialami teman kita tersebut bukan hal
aneh. Ada orang yang memilih mencaci-maki tulisan temannya dibanding
memberi masukan. Bolehlah tulisan kawan kita jauh dari apa yang
diharapkan, maklumlah baru menulis, penulis pemula, kenapa harus
membantai?
Terlepas dari hal tersebut, apa pun cacian orang terhadap tulisan
kita, hendaknya jangan dijadikan pemati semangat menulis. Mereka berhak
memvonis, siapa pun bebas berpendapat dan menilai. Apalagi, kalau dari
nenek moyangnya memang mengalir DNA sirik. Biasa-biasa saja. Lebih
cerdas memanfaatkan cacian untuk lebih bersemangat menulis. Maksud loe?
Ok, sebagai pemula wajar tulisan belum sempurna. Menyadari hal
tersebut giatkan latihan menulis dengan menulis, menulis, dan terus
menulis. Sebagai keterampilan, menulis harus dilatih, dibiasakan,
difasihkan, bukan dengan berdiskusi atau bersandar penilaian orang,
tetapi dengan melakukan, ya menulis. Sekali lagi, menulis.
Dus, mari tatap diri, tingkatkan kemampuan dan terus menulis, menulis, dan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.6): Tulisan Loe, Buruk"
Post a Comment