Monday, 12 December 2016

Menulis (3.6): Tulisan Loe, Buruk

Ersis Warmansyah Abbas
Sejujurnya, keluh seseorang, saya baru menulis, tingkat penulis pemula. Keinginan menulis datang dari dalam diri, karena itu berusaha mewujudkannya. Membaca banyak hal sebelum menulis, menganalisis, dan menuliskannya. Saya berjuang untuk menulis.
BAGI mereka yang jago menulis, menulis satu tulisan bisa jadi bukanlah perkara susah. Tetapi, bagi saya, bukanlah perkara mudah. Niat dan kemauan menulislah yang menjadikan begitu tabah sehingga menjadi tulisan. Membaca, mencari bahan dan mengolah hasil bacaan lalu dituangkan menjadi tulisan, sungguh perjuangan berat. Sudah begitu, seseorang dengan entengnya berkata: “Tulisan loe buruk”. Perjuangan yang begitu panjang hanya divonis dengan satu kalimat: “Tulisan loe buruk”.
 
Sungguh, saya tidak siap menerima ucapan tersebut. Sedih, mengkal, kesal, marah dan sumpah serapah kekecewaan campur-aduk. Tega-teganya teman mempurukkan. Tidak dapat tidak mental saya down. Saya tahu, sebagai penulis pemula tulisan saya memang belum sempurna.

Tetapi, jangan memvonis begitu kejam. Tidak adakah rasa kasihan? Saya menyadari, tulisan tersebut perlu diperbaiki, namanya juga belajar menulis, tetapi mbok ya jangan begitu bengis menilai tulisan teman. Duh, sedih. Sungguh sedih.

Apa boleh buat, tulisan yang dibuat dengan susah payah, dengan segala kemampuan, hanya dihadiahi ”penghargaan” menyakitkan: Tulisan Loe, Buruuuuk. Sungguh sangat menyakitkan. Terang saja semangat menulis anjlok.

Pembaca sekalian. Apa yang dialami teman kita tersebut bukan hal aneh. Ada orang yang memilih mencaci-maki tulisan temannya dibanding memberi masukan. Bolehlah tulisan kawan kita jauh dari apa yang diharapkan, maklumlah baru menulis, penulis pemula, kenapa harus membantai?

Terlepas dari hal tersebut, apa pun cacian orang terhadap tulisan kita, hendaknya jangan dijadikan pemati semangat menulis. Mereka berhak memvonis, siapa pun bebas berpendapat dan menilai. Apalagi, kalau dari nenek moyangnya memang mengalir DNA sirik. Biasa-biasa saja. Lebih cerdas memanfaatkan cacian untuk lebih bersemangat menulis. Maksud loe?

Ok, sebagai pemula wajar tulisan belum sempurna. Menyadari hal tersebut giatkan latihan menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Sebagai keterampilan, menulis harus dilatih, dibiasakan, difasihkan, bukan dengan berdiskusi atau bersandar penilaian orang, tetapi dengan melakukan, ya menulis. Sekali lagi, menulis.

Dus, mari tatap diri, tingkatkan kemampuan dan terus menulis, menulis, dan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.6): Tulisan Loe, Buruk"

Post a Comment