Ersis Warmansyah Abbas
Sejarah ditulis bermuatan pembelajaran. Menulis merekam aktivitas, makna dan hikmah aktivitas. Mereka yang aktif menulis, menjadi aktivis menulis, bisa jadi pengawal kebudayaan.
PENGALAMAN. Kehidupan adalah isian aktivitas keseharian. Beragam hal kita lakukan tiada henti. Ada yang tidak berbekas dalam artian tidak bermuara karya, misalnya berbicara atau ngerumpi. Ada yang menambah pengetahuan atau kenangan yang kalau diolah di rumah pikiran bisa menjadi hal-hal bermanfaat. Ada pula yang langsung bersasaran karya, misalnya menulis, menjadi tulisan.
Keseluruhan aktivitas tersebut terekam di memori terlepas bisa hilang atau terlupakan. Pengalaman non-kolektif, seistimewa apa pun, hanyalah menjadi milik pribadi. Orang lain tidak mungkin mengambil manfaat atau belajar darinya. Karena itu pengalaman yang sifatnya pribadi sebaiknya ditulis agar orang lain dapat mengambil hikmahnya.
Hal-hal tersebut kalau ditulis tentu lain ceritanya. Banyak hal atau pelajaran yang kita peroleh dari pengalaman orang lain. Informasi yang ditulis, berupa pengetahuan, ilmu, atau pengalaman banyak kita peroleh dari bacaan. Dari bacaan kita belajar. Bacaan yang karena ada yang menuliskannya.
Pada katup demikian menulis menjadi teramat penting. Pengalaman umat manusia sejak zaman baheula kalau tidak ditulis bisa jadi akan menguap. Dari mana belajar rangkaian DNA atau komposisi air? Bukan dari melakukan penelitian atau percobaan yang rumit, tetapi membaca dari penelitian atau percobaan orang lain yang ditulis. Belajar dari apa yang ditulis. Belajar menjadi ringkas.
Tulisan ini bersengaja menajamkan aktivitas, positif atau negatif. Adolf Hitler ditabalkan sebagai tiran teramat kejam. Praktik kolonialisme dan imperialisme Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, dan negara-negara penjajah lainnya yang tidak berpihak kemanusiaan karena ditulis kita bisa belajar dari praktik ‘binatangisme’ penjajahan. Sebaliknya, simak keagungan pribadi Rasulullah, kesantunan Gandhi, atau kebijakan Kong Hu Cu. Dari hal-hal baik yang mereka lakukan kita mengambil pelajaran.
Sejarah ditulis bermuatan pembelajaran. Menulis bukan saja merekam aktivitas, tetapi makna dan hikmah aktivitas. Dus, para penulis sangat diperlukan. Mereka yang aktif menulis, menjadi aktivis menulis, bisa jadi pengawal kebudayaan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.8) : Menuliskan Aktivitas"
Post a Comment