Thursday, 8 December 2016

Menulis (3.7) : Menyahabati Diri

Ersis Warmansyah Abbas
Keterampilan dan pengalaman didapat dari melakukan. Berkeinginan menjadi penulis handal hanya dengan satu jalan, melakukan, menulis. Menulis dengan menyahabati diri.
BERDAMAI. Bersahabat dengan diri (sendiri) adalah landasan untuk mampu bersahabat dengan hal luar diri. Mereka yang bersahabat dengan dirinya dimulai dengan mengenal diri. Siapa yang mampu mengenal dirinya akan mengenal penciptanya. Masyak sih memusuhi diri sendiri?

Sekalipun demikian coba dipikir-pikir. Seseorang yang menginginkan kehidupan lebih baik namun tidak mengimbangi dengan usaha, mustahil mendapatkan kehidupan lebih baik. Kehendak untuk hidup lebih baik dimakan malas. Jelas saja perbaikan kehidupan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ada orang yang berkehendak menulis ini-itu, tetapi malas melakukannya. Apa susahnya menulis satu tulisan setiap hari?

Jangan menguatkan alasan-alasan untuk tidak menulis. Tidak berbakatlah, tidak mempunyai waktulah, tidak mempunyai pengalaman menulis. Padahal, berdamai dengan keinginan diri sangat sederhana, sangat mudah. Masyak?

Lakukan menulis. Pasti hasilnya tulisan. Pada tahap awal mungkin agak susah, tetapi karena dilakukan terus menerus, dari melakukan dan hasilnya (tulisan) didapat pengalaman.

Sadar atau tidak, ada orang mempurukkan dirinya pada ‘pertentangan diri’. Keinginan menulis mengubun-ubun, tetapi malas membaca, tidak melatih keterampilan menulis. Saya tidak terbiasa menulis, tidak berpengalaman menulis. Kebiasaan atau pengalaman didapat dari mana? Apa ada yang menjual di toko serba ada? Never.

Keterampilan dan pengalaman didapat dari melakukan. Berkeinginan menulis, berkehendak menjadi penulis handal hanya dengan satu jalan, melakukan, menulis. Orang-orang bodoh adalah mereka yang menanamkan pertentangan dalam dirinya. Berkehendak meraih predikat akademis sarjana, tetapi malas kuliah. Kalau culas tertanam di diri cukup dengan membeli ijazah.

Menulis adalah keterampilan yang tidak memerlukan persyaratan formal. Kalau belajar pengetahuan, misalnya belajar secara formal kebahasaan mendapat pengetahuan kebahasaan. Pengetahuan dan keterampilan dua hal yang berbeda. Yang pertama didapat dengan belajar yang kedua dengan melakukan.

Membangun kemampuan menulis dimulai dari bersahabat dengan diri. Pelajari dan pahami kemampuan diri, pahami posisi diri. Berkeinginan menulis namun belum terbiasa, belum fasih, lakukan menulisnya agar didapat pengalaman dan darinya belajar, memperbaiki tulisan, memperbaiki diri.

Apabila terbangun mindset memusuhi diri, orang lain pun dimusuhi. Keterampilan terbaik mengomentari tulisan orang, namun lagaknya bak penulis hebat. Keterampilan paling hebat menulis komentar. Dengan berkomentar merasa menjadi penulis hebat. Kasihan memang.

Mari menulis, mensahabati diri, dan bersahabat dengan membina silaturahmi. Menulis bersilaturahmi.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.7) : Menyahabati Diri"

Post a Comment