Ersis Warmansyah Abbas
Saya pernah ‘dicurigai’ teman sekelas karena senyum-senyum. Jelas-jelas saya hadir, diperintahkan menandatangani absensi. Didiskusikan bukannya dinalar, eit disalahkan. Argumennya, karena keturunan he he.
HADIR. Seseorang marah besar, dia merasa tersentil gara-gara saya menulis dengan satire tentang pemaknaan dan pemakaian kata ‘absen’. Gara-gara itu pula, berulang kali menulis tema absen. Ada kebiasaan jelek saya. Kalau lagi bersantai, karena malas ke luar rumah, membuka kamus, glosarium atau ensiklopedi. Membaca kata absen, pikiran bekerja, dan terperangah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 4) absen artinya: tidak masuk (sekolah, kerja, dan sebagainya); tidak hadir. Absensi, ketidakhadiran. Menurut Kamus Inggris Indonesia, John M. Echols dan Hasan Shadily (2005: 3) absence berarti: 1. kemangkiran, 2. ketidakhadiran, 3. ketiadaan, ketidakadaan, 4. kekurangan. Absent: mangkir, tidak hadir.
Perhatikan serius atau ingat-ingat penggunaan kata absen oleh guru.“Silakan tandatangani absen.” Atau, tandatangani absensi. Maksudnya, siapa yang hadir menadatangani tanda kehadirannya. Tidak hadir diminta menandatangani ketidakhadiran tentulah bercanda.
Logikanya, untuk melaksanakan perintah tersebut, perlu dicari dulu yang tidak hadir, diminta hadir untuk menandai kehadirannya dengan menandatangani presensi alias daftar hadir, daftar kehadiran. Hadir juga dong kalau begitu. Rada-rada lucu memang.
Menandatangani absensi mustahil dilakukan pemangkir. Si Guru memangkiri logika berbahasa. Asyik sih asyik mempunyai guru-guru lucu. Lebih lucu, siapa yang hadir diperintahkan untuk menandatangani ketidakhadiran (absesnsi). Hadir, ‘dibuktikan’ dengan mangkir pada tanda kehadiran. Hal lucu membuat kita berpikir dan menyadarkan betapa mengasyikkanya. Bila direnungkan tengah malam, dipastikan tersenyum. Tapi, jangan sering-sering nanti ada yang mengira ‘sudah setengah’.
Saya pernah mencandai seorang pejabat: ”Bos, kayaknya salah deh Sampeyan. Pegawai yang hadir kok diperintahkan menandatangani ketidakhadiran, absensi. Apa sih susahnya menggunakan istilah yang tepat, presensi? Daftar hadir”. Mau tahu reaksinya? Cemberut. Sewot.
Saya pernah ‘dicurigai’ seorang teman sekelas karena senyum-senyum. Betapa tidak tersenyum. Jelas-jelas saya hadir, diperintahkan menandatangani absensi. Didiskusikan bukannya dinalar, eit disalahkan. Apa sebab? Argumennya, sejak zaman Nabi Adam sudah demikian. Hayya.
Konon, ada yang lebih sadis dan sangat lucu. Menandatangani absensi sebulan pada penataran seminggu. Berjamaah merampok uang negara. Selama penataran tidak mengabaikan kewajiban agama, doa dilantunkan sembari cengengesan memanipulasi absensi, berjingkrak-jingkrak meraup fulus untuk menghidupi keluarga. Tetapi, ya itu tadi, memanipulasi kehadiran.
Eit, ngemeng-ngemeng, kalau begitu soal absensi hal serius ya. Begitulah kalau dipikirkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.6): Lucu-Lucuan Melulu"
Post a Comment