Ersis Warmansyah Abbas
Alkisah, suatu ketika perasaan saya betul-betul tersakiti. Sungguh menyakitkan. Ide cerita, setelah melalui proses sebagaimana layaknya karya sineas, ditayangkan di TV. tetapi, tidak diakui sebagai ide saya. Bahkan, diberitahu saja tidak. Sungguh mengesalkan. Berhenti menulis? Tidak.
SAYA berhenti bekerjasama dengan orang yang yang mempecundangi saya.
Prinsip saya, rezeki tidak kemana. Sungguh senang membaca testimoni
teman kita yang satu ini. Ide ceritanya, yang layak jual, buktinya
ditayangkan di TV, tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kalau orang
biasa, bisa jadi, sudah patah arang menulis. Kawan kita ini mengambil
langkah cerdas, terus melakukan aktivitas menulis dan berhenti
bekerjasama dengan orang yang mencurangi. Great.
Satu dari sekian kekuatan penulis adalah ketika dia dicurangi atau
karyanya dirampok dia kesal atau marah sekadarnya. Kesal dan marah
pertanda masih manusia. Tetapi, tidak berlarut-larut dengan kekesalan
dan kemarahan. Marah berlarut-larut merugikan diri sendiri. Bagaimana
kalau terlarut?
Pasti rugi. Pikiran dan perasaan terbawa arusnya. Akibatnya,
jangankan melakukan aktivitas menulis, menjinakkan pikiran dan perasaan
bukanlah perkara mudah dan memerlukan pikiran dan energi tidak sedikit.
Yang membuat kesal dan marah, cuek bebek saja. Sementara, yang tertimpa
kesal bergelut melayani akibatnya. Apalagi, kalau sampai berhenti
menulis. Rugi dan kerugian yang diderita bisa sangat sempurna. Alias,
bukanlah tindakan cerdas. Lalu?
Yang lalu biarlah berlalu. Minimal kita dipertemukan dengan orang
curang, dan seperti tindakan cerdas teman kita, kita belajar. Artinya,
tidak mau bekerjasama lagi. Masyak mau terus-menerus merugikan diri
sendiri. Kalau sudah demikian, pecuranglah yang rugi. Dia menutup pintu
rezekinya melalui kita, penulis.
Pengalaman saya, setelah buku saya diterbitkan dan dijual oleh satu
penerbit, jangankan penerbit tersebut mengirim royalti, memberitahu
berapa buku yang laku saja enggan. Ditanya beberapa kali, selesai.
Maksudnya? Tidak ditanyakan lagi dan diniatkan sebagai sedekah. Saya
memilih menulis, menulis, dan terus menulis. Hasilnya?
Buku-buku saya semakin banyak. Penerbit lain, yang lebih menghargai,
menerbitkan buku saya. Bayangkan kalau masih bermitra dengan penerbit
tersebut, tidak akan mendapatkan mitra baru. Kalau demikian bisa
mendatangkan kerugian lebih besar.
Bisa jadi, dicurangi adalah cara Allah SWT menunjukkan agar kita
lebih berhati-hati. Yang tidak kalah pentingnya, kita mendapatkan
pengalaman. Tidak ada yang menjual pengalaman yang kita alami bukan?
Kalau pengalaman orang lain bisa kita baca dari karyanya. Pengalaman
kita dapatkan dari apa yang kita lakukan atau yang mendera kita.
Itulah balikan positifnya. Ada kata bijak, the experience the best
teacher. Orang bodoh adalah mereka yang meluluhkan dirinya dalam
kekesalan dan kemarahan yang merugikan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.5): Ketika Ide Dicuri"
Post a Comment