Saturday, 10 December 2016

Menulis (3.5): Ketika Ide Dicuri

Ersis Warmansyah Abbas
Alkisah, suatu ketika perasaan saya betul-betul tersakiti. Sungguh menyakitkan. Ide cerita, setelah melalui proses sebagaimana layaknya karya sineas, ditayangkan di TV.  tetapi, tidak diakui sebagai ide saya. Bahkan, diberitahu saja tidak. Sungguh mengesalkan. Berhenti menulis? Tidak.
SAYA berhenti bekerjasama dengan orang yang yang mempecundangi saya. Prinsip saya, rezeki tidak kemana. Sungguh senang membaca testimoni teman kita yang satu ini. Ide ceritanya, yang layak jual, buktinya ditayangkan di TV, tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kalau orang biasa, bisa jadi, sudah patah arang menulis. Kawan kita ini mengambil langkah cerdas, terus melakukan aktivitas menulis dan berhenti bekerjasama dengan orang yang mencurangi. Great.
 
Satu dari sekian kekuatan penulis adalah ketika dia dicurangi atau karyanya dirampok dia kesal atau marah sekadarnya. Kesal dan marah pertanda masih manusia. Tetapi, tidak berlarut-larut dengan kekesalan dan kemarahan. Marah berlarut-larut merugikan diri sendiri. Bagaimana kalau terlarut?

Pasti rugi. Pikiran dan perasaan terbawa arusnya. Akibatnya, jangankan melakukan aktivitas menulis, menjinakkan pikiran dan perasaan bukanlah perkara mudah dan memerlukan pikiran dan energi tidak sedikit. Yang membuat kesal dan marah, cuek bebek saja. Sementara, yang tertimpa kesal bergelut melayani akibatnya. Apalagi, kalau sampai berhenti menulis. Rugi dan kerugian yang diderita bisa sangat sempurna. Alias, bukanlah tindakan cerdas. Lalu?

Yang lalu biarlah berlalu. Minimal kita dipertemukan dengan orang curang, dan seperti tindakan cerdas teman kita, kita belajar. Artinya, tidak mau bekerjasama lagi. Masyak mau terus-menerus merugikan diri sendiri. Kalau sudah demikian, pecuranglah yang rugi. Dia menutup pintu rezekinya melalui kita, penulis.

Pengalaman saya, setelah buku saya diterbitkan dan dijual oleh satu penerbit, jangankan penerbit tersebut mengirim royalti, memberitahu berapa buku yang laku saja enggan. Ditanya beberapa kali, selesai. Maksudnya? Tidak ditanyakan lagi dan diniatkan sebagai sedekah. Saya memilih menulis, menulis, dan terus menulis. Hasilnya?

Buku-buku saya semakin banyak. Penerbit lain, yang lebih menghargai, menerbitkan buku saya. Bayangkan kalau masih bermitra dengan penerbit tersebut, tidak akan mendapatkan mitra baru. Kalau demikian bisa mendatangkan kerugian lebih besar.

Bisa jadi, dicurangi adalah cara Allah SWT menunjukkan agar kita lebih berhati-hati. Yang tidak kalah pentingnya, kita mendapatkan pengalaman. Tidak ada yang menjual pengalaman yang kita alami bukan? Kalau pengalaman orang lain bisa kita baca dari karyanya. Pengalaman kita dapatkan dari apa yang kita lakukan atau yang mendera kita.

Itulah balikan positifnya. Ada kata bijak, the experience the best teacher. Orang bodoh adalah mereka yang meluluhkan dirinya dalam kekesalan dan kemarahan yang merugikan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.5): Ketika Ide Dicuri"

Post a Comment