Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.6): Me-Manage Takut Bersenang-Senang Menulis

Ersis Warmansyah Abbas
Dapat dipastikan setiap orang mempunyai rasa takut, entah takut kepada apa, dimana, atau kapan. Pada ketikanya takut itu akan muncul yang kalau tidak di-manage akan berakibat buruk. Apalagi, kalau hidup dalam ketakutan. Menulis satu diantara cara mensiasati takut.
TAKUT. Takut tulisan tidak bagus, takut tidak ada orang yang mau membaca, takut akibat tulisan tersebut, dan beragam ketakutan lainnya menjadikan mereka yang sebelumnya bersemangat menulis akhirnya terperangkap takut. Hasilnya, tidak ada tulisan yang menjadi.

Perlu ditekankan, takut adalah hal manusiawi. Siapa pun pasti pernah takut. Misalnya saya, (agak) ketakutan naik pesawat terbang. Padahal, sejak zaman pesawat baling-baling senang naik pesawat. Dari Padang ke Jakarta, dapat melihat Bukit Barisan yang indah dan “mantan” gunung Krakatau. Sungguh menyenangkan.Kesenangan tersebut berubah ketika suatu kali ke Jakarta untuk menemani seorang kawan yang kepala daerah.

Sekalipun saya meminta dibelikan tiket pesawat Anu, oleh ajudan dibelikan tiket pesawat Atu. Wualah, lima menit setelah lepas landas pesawat nyot-nyotan. Para penumpang melantunkan doa-doa terbaik. Pesawat memutar dan landing. Terasa berjam-jam, padahal hanya sepuluh menit. Asap membuat formasi dari mesin pesawat. Alhamdulillah selamat. Tetapi, sejak itu saya (agak) takut naik pesawat.

Takut naik pesawat karena trauma tentu wajar saja. Dalam pada itu, saya harus bepergian. Pernah, tahun 2002 ke Padang mengendarai mobil pribadi menempuh tiga pulau menyeberangi dua pemisah laut. Capek deh. Naik pesawat tetap pilihan tercepat. Resepnya berserah total pada Allah SWT.

Bahwa, kiat paling aman berserah diri kepada Allah SWT sudah pasti dengan sendirinya. Soal takut, soal lain lagi he he. Atau dalam kalimat ngelesnya, berserah diri sudah pasti, namun sebagai manusia tentu wajar saja takut. Nah, kiatnya dengan pengalihan. Untuk mengelola atau tepatnya “menjinakkan” takut naik pesawat, sejak era laptop menemukan solusinya. Apa itu? Menulis. Menulis selama perjalanan atau memainkan games.
 
Biasanya, setelah take off dan awak pesawat mengumumkan penumpang boleh melepaskan ikat pinggang, laptop saya aktifkan. Jari-jari bereaksi. Kalau ke Jakarta, satu atau dua tulisan menjadi. Kalau ke Kuala Lumpur bisa lima tulisan. Kalau ke Surabaya, satu tulisan saja cukup. Asyik menulis di ‘langit’.

Apabila bosan menulis beralih memainkan games. Titan Chess kesukaan saya. Asyiknya memainkan Titan Chess misalnya ketika membidik Perdana Menteri, Si Titan chess kiranya mempunyai jurus skak. Kalau sudah demikian tibalah saatnya melatih kejujuran. Undo?
 
Kalau mempergunakan fasilitas undo berarti tidak konsisten dan tidak melatih diri untuk bermain catur yang benar. Kalau demikian, ujung-ujungnya gagal melatih diri. Pilihan tersebut tentu tidak konstruktif dalam berjujur diri. Kenapa harus malu mengakui kekalahan dari mesin?

Seperti juga menulis latihan menulis bukan untuk menang. Biar saja ada yang mengatakan tulisan kita jelek atau jorok. Ibarat main catur dengan mesin kita melatih diri, bercanda dengan diri, senang ketika berhasil dan introspeksi ketika kalah. Mengasyikkan bukan?
 
Eit, maaf, awak pesawat mengumandangkan pemberitahuan bahwa sebentar lagi pesawat mendarat. Alhamdulillah, satu tulisan selesai ditulis. Ya, tulisan ini. Mana tahu menjadi bagian buku, dan akan sangat bermanfaat tentunya manakala ada yang termotivasi menulis karenanya.

Yaps, mari mengganti takut dan ketakutan menjadi kesenangan dengan menulis, menulis bersenang-senang, bersenang-senang dengan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.6): Me-Manage Takut Bersenang-Senang Menulis"

Post a Comment