Ersis Warmansyah Abbas
Dapat dipastikan setiap orang mempunyai rasa takut, entah takut kepada apa, dimana, atau kapan. Pada ketikanya takut itu akan muncul yang kalau tidak di-manage akan berakibat buruk. Apalagi, kalau hidup dalam ketakutan. Menulis satu diantara cara mensiasati takut.
TAKUT. Takut tulisan tidak bagus, takut tidak ada orang yang mau
membaca, takut akibat tulisan tersebut, dan beragam ketakutan lainnya
menjadikan mereka yang sebelumnya bersemangat menulis akhirnya
terperangkap takut. Hasilnya, tidak ada tulisan yang menjadi.
Perlu ditekankan, takut adalah hal manusiawi. Siapa pun pasti pernah
takut. Misalnya saya, (agak) ketakutan naik pesawat terbang. Padahal,
sejak zaman pesawat baling-baling senang naik pesawat. Dari Padang ke
Jakarta, dapat melihat Bukit Barisan yang indah dan “mantan” gunung
Krakatau. Sungguh menyenangkan.Kesenangan tersebut berubah ketika suatu
kali ke Jakarta untuk menemani seorang kawan yang kepala daerah.
Sekalipun saya meminta dibelikan tiket pesawat Anu, oleh ajudan
dibelikan tiket pesawat Atu. Wualah, lima menit setelah lepas landas
pesawat nyot-nyotan. Para penumpang melantunkan doa-doa terbaik. Pesawat
memutar dan landing. Terasa berjam-jam, padahal hanya sepuluh menit.
Asap membuat formasi dari mesin pesawat. Alhamdulillah selamat. Tetapi,
sejak itu saya (agak) takut naik pesawat.
Takut naik pesawat karena trauma tentu wajar saja. Dalam pada itu,
saya harus bepergian. Pernah, tahun 2002 ke Padang mengendarai mobil
pribadi menempuh tiga pulau menyeberangi dua pemisah laut. Capek deh.
Naik pesawat tetap pilihan tercepat. Resepnya berserah total pada Allah
SWT.
Bahwa, kiat paling aman berserah diri kepada Allah SWT sudah pasti
dengan sendirinya. Soal takut, soal lain lagi he he. Atau dalam kalimat
ngelesnya, berserah diri sudah pasti, namun sebagai manusia tentu wajar
saja takut. Nah, kiatnya dengan pengalihan. Untuk mengelola atau
tepatnya “menjinakkan” takut naik pesawat, sejak era laptop menemukan
solusinya. Apa itu? Menulis. Menulis selama perjalanan atau memainkan
games.
Biasanya, setelah take off dan awak pesawat mengumumkan penumpang boleh
melepaskan ikat pinggang, laptop saya aktifkan. Jari-jari bereaksi.
Kalau ke Jakarta, satu atau dua tulisan menjadi. Kalau ke Kuala Lumpur
bisa lima tulisan. Kalau ke Surabaya, satu tulisan saja cukup. Asyik
menulis di ‘langit’.
Apabila bosan menulis beralih memainkan games. Titan Chess kesukaan
saya. Asyiknya memainkan Titan Chess misalnya ketika membidik Perdana
Menteri, Si Titan chess kiranya mempunyai jurus skak. Kalau sudah
demikian tibalah saatnya melatih kejujuran. Undo?
Kalau mempergunakan fasilitas undo berarti tidak konsisten dan tidak
melatih diri untuk bermain catur yang benar. Kalau demikian,
ujung-ujungnya gagal melatih diri. Pilihan tersebut tentu tidak
konstruktif dalam berjujur diri. Kenapa harus malu mengakui kekalahan
dari mesin?
Seperti juga menulis latihan menulis bukan untuk menang. Biar saja
ada yang mengatakan tulisan kita jelek atau jorok. Ibarat main catur
dengan mesin kita melatih diri, bercanda dengan diri, senang ketika
berhasil dan introspeksi ketika kalah. Mengasyikkan bukan?
Eit, maaf, awak pesawat mengumandangkan pemberitahuan bahwa sebentar
lagi pesawat mendarat. Alhamdulillah, satu tulisan selesai ditulis. Ya,
tulisan ini. Mana tahu menjadi bagian buku, dan akan sangat bermanfaat
tentunya manakala ada yang termotivasi menulis karenanya.
Yaps, mari mengganti takut dan ketakutan menjadi kesenangan dengan
menulis, menulis bersenang-senang, bersenang-senang dengan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.6): Me-Manage Takut Bersenang-Senang Menulis"
Post a Comment