Ersis Warmansyah Abbas
Bukan tidak mungkin manakala Sampeyan memperlihatkan tulisan kepada seseorang, apalagi dipublikasikan, bukan masukan yang didapat, tetapi caci-maki. Padahal, Sang Pencaci menulisnya letoy. Gaya mencaci profesional, karya tulis nol koma nol. Tidak jujur diri, sombong dengan perilaku menyakitkan. Kacien dech loe.
SEORANG pesharing menulis bertanya: “Apa modal seseorang agar bisa
menjadi penulis?” Sejujurnya, saya tidak terlalu paham dengan pertanyaan
tersebut. Apa yang dimaksudnya dengan modal? Tetapi, saya tak hendak
bersoal. Lagi pula, pelatihan menulis untuk mahasiswa tahun pertama kali
ini lebih kepada memotivasi dan melakukan menulis.
“Mbak”, kata saya. “Pernah membaca tentang andromeda? Paham tentang Big Bang atau Solar System?” Dia menjawab dengan tersenyum. Yaps, jangan menulis sesuatu yang tidak dipahami. Hal tersebut dari
pemahaman bahwa sebelum menulis kita tahu diri, tahu kemampuan, alias
jujur. Jujur pada diri. Jujur dalam artian, tahu mana yang diketahui
mana yang tidak.
Ketika peserta lain menyulang, sebagai mahasiswa tahun pertama
pengetahuannya belum seberapa langsung saya tembak: “Menurut Sampeyan,
ketika saya lahir apa memakai baju?” Ruangan geeeeeer. Mahasiswa
cerdas-cerdas, tetapi ketika pelatihan dimulai sikap mereka luma-luma,
maaf maksud saya malu-malu.
“OK, setelah kita jujur diri, mari belajar. Masih ingat firman Allah
SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW?” Spontan dijawab oleh
hampir semua peserta ”Iqra’, iqra’, iqra.” Kelas gegap gempita.
Asyiiiik.
Menempatkan diri sebagai Si Bodoh akan memotivasi kita untuk belajar,
dan akan lebih mengasyikkan dan sangat menyenangkan, kalau dalam proses
belajar tersebut kita menulis. Tepatnya, menuliskan apa yang kita
pelajari. Belajar sembari menulis, menulis sembari belajar.
Halnya akan berbeda bila diri dianggap serba tahu, apalagi paling
hebat. Pintu belajar tertutup dan apabila membaca karya orang ada
bisikan: “Ah, tulisan biasa saja tu.” Kalau sudah demikian, akan
berkesusahan menulis. Apa sebab?
Perhatikan orang di sekeliling Sampeyan yang hobi berkomentar, atau
mencela karya orang. Dipastikan, dia susah berkarya. Kalau pun mampu
menulis —sikit-sikit— duh centang prenang, dan kalau pun memaksa diri
memasihkan menulis, dia memaki dan mencela karya orang. Karyanya?
Bagaimana mau berkarya, kalau dari dalam diri dan dari pikirannya
dorongan hasil pupukannya, menghujat, mencela, dan sok hebat?
Jujur diri, diri ini bukanlah orang hebat, kalaupun berpengetahuan
atau berpengalaman menyadari, barulah secuil, Insya Allah akan
melejitkan kemampuan dalam pengembangan potensi. Tidak usah sombong
diri, tidak usah memupuk kepongahan, sebab, ibarat kata, di atas langit
masih ada langit.
Lagi pula, manakala jujur diri, pikiran akan lempang saja kalau karya
kita biasa-biasa saja. Sebagaimana apungan introduksi tulisan ini, kita
tahu diri, menulis itu belajar, belajar itu menulis alias pembelajaran
diri. Dengan demikian, lakuan akan terformulasi dalam bingkai belajar.
Bagi pelajar hal paling menyenangkan adalah proses pembelajaran, apalagi
kalau hasilnya menyenangkan.
Karena itu, dalam praktik pelatihan sering saya sampaikan bahwa saya
lebih hepi melakukan pelatihan bersama mereka yang tahu diri, jujur
diri. Bodoh bukan sesuatu yang harus dicela, sebab bodoh berarti belum
paham. Nah, pendidikan dan pelatihan dimaksudkan agar kita tahu. Jadi,
mari entengkan saja. Belajar kok disusah-susahkan.
Kalau demikian adanya dipastikan lakuan menulis adalah lakuan
menyenangkan. Jujur diri sangat menyenangkan, menulis berjujurria sangat
menyenangkan, dan manakala kita melakukan hal-hal menyenangkan masyak
sih kita menuai hal menyakitkan? Mustahillah yaw.
Mari menulis, mari jujur diri. Kesenangan dari kejujuran abadi adanya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.5): Menulis: Jujur, Menyenangkan Diri"
Post a Comment