Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.5): Menulis: Jujur, Menyenangkan Diri

Ersis Warmansyah Abbas
Bukan tidak mungkin manakala Sampeyan memperlihatkan tulisan kepada seseorang, apalagi dipublikasikan, bukan masukan yang didapat, tetapi caci-maki. Padahal, Sang Pencaci menulisnya letoy. Gaya mencaci profesional, karya tulis nol koma nol. Tidak jujur diri, sombong dengan perilaku menyakitkan. Kacien dech loe.
SEORANG pesharing menulis bertanya: “Apa modal seseorang agar bisa menjadi penulis?” Sejujurnya, saya tidak terlalu paham dengan pertanyaan tersebut. Apa yang dimaksudnya dengan modal? Tetapi, saya tak hendak bersoal. Lagi pula, pelatihan menulis untuk mahasiswa tahun pertama kali ini lebih kepada memotivasi dan melakukan menulis.

“Mbak”, kata saya. “Pernah membaca tentang andromeda? Paham tentang Big Bang atau Solar System?” Dia menjawab dengan tersenyum. Yaps, jangan menulis sesuatu yang tidak dipahami. Hal tersebut dari pemahaman bahwa sebelum menulis kita tahu diri, tahu kemampuan, alias jujur. Jujur pada diri. Jujur dalam artian, tahu mana yang diketahui mana yang tidak.

Ketika peserta lain menyulang, sebagai mahasiswa tahun pertama pengetahuannya belum seberapa langsung saya tembak: “Menurut Sampeyan, ketika saya lahir apa memakai baju?” Ruangan geeeeeer. Mahasiswa cerdas-cerdas, tetapi ketika pelatihan dimulai sikap mereka luma-luma, maaf maksud saya malu-malu.
“OK, setelah kita jujur diri, mari belajar. Masih ingat firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW?” Spontan dijawab oleh hampir semua peserta ”Iqra’, iqra’, iqra.” Kelas gegap gempita. Asyiiiik.


Menempatkan diri sebagai Si Bodoh akan memotivasi kita untuk belajar, dan akan lebih mengasyikkan dan sangat menyenangkan, kalau dalam proses belajar tersebut kita menulis. Tepatnya, menuliskan apa yang kita pelajari. Belajar sembari menulis, menulis sembari belajar.

Halnya akan berbeda bila diri dianggap serba tahu, apalagi paling hebat. Pintu belajar tertutup dan apabila membaca karya orang ada bisikan: “Ah, tulisan biasa saja tu.” Kalau sudah demikian, akan berkesusahan menulis. Apa sebab?

Perhatikan orang di sekeliling Sampeyan yang hobi berkomentar, atau mencela karya orang. Dipastikan, dia susah berkarya. Kalau pun mampu menulis —sikit-sikit— duh centang prenang, dan kalau pun memaksa diri memasihkan menulis, dia memaki dan mencela karya orang. Karyanya? Bagaimana mau berkarya, kalau dari dalam diri dan dari pikirannya dorongan hasil pupukannya, menghujat, mencela, dan sok hebat?

Jujur diri, diri ini bukanlah orang hebat, kalaupun berpengetahuan atau berpengalaman menyadari, barulah secuil, Insya Allah akan melejitkan kemampuan dalam pengembangan potensi. Tidak usah sombong diri, tidak usah memupuk kepongahan, sebab, ibarat kata, di atas langit masih ada langit.

Lagi pula, manakala jujur diri, pikiran akan lempang saja kalau karya kita biasa-biasa saja. Sebagaimana apungan introduksi tulisan ini, kita tahu diri, menulis itu belajar, belajar itu menulis alias pembelajaran diri. Dengan demikian, lakuan akan terformulasi dalam bingkai belajar. Bagi pelajar hal paling menyenangkan adalah proses pembelajaran, apalagi kalau hasilnya menyenangkan.

Karena itu, dalam praktik pelatihan sering saya sampaikan bahwa saya lebih hepi melakukan pelatihan bersama mereka yang tahu diri, jujur diri. Bodoh bukan sesuatu yang harus dicela, sebab bodoh berarti belum paham. Nah, pendidikan dan pelatihan dimaksudkan agar kita tahu. Jadi, mari entengkan saja. Belajar kok disusah-susahkan.

Kalau demikian adanya dipastikan lakuan menulis adalah lakuan menyenangkan. Jujur diri sangat menyenangkan, menulis berjujurria sangat menyenangkan, dan manakala kita melakukan hal-hal menyenangkan masyak sih kita menuai hal menyakitkan? Mustahillah yaw.

Mari menulis, mari jujur diri. Kesenangan dari kejujuran abadi adanya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.5): Menulis: Jujur, Menyenangkan Diri"

Post a Comment