Ersis Warmansyah Abbas
Teaterisasi Mahasiswa UIN Malang untuk puisi saya “Surat Buat Yang Mahakasih” sungguh mengharu biru. Malam hening bening berbalut bulir-bulir air mata. Teman-teman di masjid Salman ITB, dan kampus-kampus lain melakukan hal yang sama. Pak Slamet Rahardjo dari TIM Jakarta, minta izin puisi saya dijadikan bacaan lomba puisi tingkat DKI Jakarta. Alhamdulillah. Saya senang.
TERIMA KASIH. Bukan sekali dua kali saya mengucapkan terima kasih
kepada pelayan restoran ketika dia mengatakan: “Pak, bill Bapak sudah
dibayarkan.” Saya pun tidak peduli, kenapa harus berterima kasih
kepadanya sebab bukankah yang membayarkan tagihan makanan saya orang
lain. Toh, berterima kasih bukanlah lakuan yang salah.
Adakalanya di Bandara, pada berbagai seminar, atau di luar negeri
mendapatkan ucapan: “Pak, saya senang berkenalan dengan Bapak. Selama
ini hanya mengenal Bapak melalui tulisan Bapak, yang gimana gitu. Saya
termotivasi untuk menulis.” Atau, ”Pak, maaf, sebentar. Bolehkan berfoto
dengan Bapak?” (Emang gua artis kok pakai minta foto bareng segala).
Hal-hal tersebut sebagai bonus aktivitas menulis. Ketika menulis
senang sembari menyalurkan dan menangguk kesenangan, setelah tulisan
menjadi mendapatkan kesenangan karena pembaca senang. Senang menulis dan
mendapatkan kesenangan setelah tulisan menjadi, sungguh sangat
menyenangkan. Apakah aktivitas menulis selalu mendatangkan kesenangan?
Tentu saja tidak. Gara-gara menulis, saya pernah di sidang oleh Senat
Fakultas —seorang teman menakut-nakuti, ntar loe dipecat. Hayya,
merekrut dosen saja susah, apalagi memecat dosen Mas Bro.
Tetapi, dalam tulisan ini saya tidak membahas hal tersebut. Seorang
teman, beberapa hari lalu, dalam satu seminar, dan ini yang kesekian
kali disampaikannya: “EWA saya heran, kenapa Sampeyan tidak dianggap
sebagai sastrawan?” Huaha ha ha saya ngakak.
Saya tidak pernah menobatkan diri sebagai sastrawan, budayawan, atau
selevelnya. Kalau menulis, paling suka mencantumkan identitas sebagai
petambak ikan. Itu pula sebabnya saya tidak aktif dalam organisasi
kesenian dan sejenisnya. Setidaknya ada dua alasan.
Pertama, bagi saya, puisi, cerpen, novel atau katakanlah karya sastra
atau seni sebagai puncak intelektualitas. Nah, saya pasti tidak sanggup
menggapainya. Ilmu, pengalaman, dan posisi saya tidak akan pernah layak
merengkuhnya.
Kalau pun mengaitkan diri dengan sastra paling-paling sebagai
“Pecandu Sastra”. Bahwa saya menulis puluhan cerpen, ratusan puisi,
sampai novel, begitulah faktanya. Bahwa, banyak orang terinspirasi dan
saya harus memberi pengantar untuk belasan buku karena itu, benar
adanya. Tetapi, saya bukanlah sastrawan. Saya terlalu kerdil untuk
menyandang “pangkat” tersebut.
Kedua, karena hanya penulis ”kacangan” tidak sepantasnya menjadi juri
atau “Tuhan” yang menentukan karyas sastra si Anu bermutu atau tidak.
Coba cermati tulisan-tulisan saya. Dipastikan tidak ada yang mencela
atau menghukum karya (sastra) orang lain. Untuk sekadar berkomentar
saja, dari kecil sudah dinasehati: Hai Ersis, kalau kamu belum mampu
menulis, jangan pernah mengkritik tulisan orang lain. Karena itu, hal
aneh bagi saya kalau belum menulis novel memblejeti novel orang. Sesuatu
yang jauh dari pikiran saya. Lalu?
Sebagai pecandu sastra saya membaca sebanyak mungkin karya sastra.
Saya mengoleksi ratusan karya sastra dari karya orang-orang yang saya
motivasi menulis puisi atau cerpen sampai karya penulis dunia. Sungguh
sangat banyak. Sebab saya menghargai mereka yang menulis.
Dengan kata lain, saya ingin menekankan, manakala senang menulis,
lakukan dan tidak usah memburu kesenangan untuk diakui. Lebih celaka,
minta diakui-akui. Yakini saja, karya akan “berbicara” tanpa harus
diminta “berbicara.”
Musuh yang membelenggu aktivitas menulis adalah nafsu untuk diakui.
Tulis saja apa yang hendak ditulis, nikmati sensasinya, selesai. Tulis,
tulis, dan tulis lagi sembari kita menikmati, menumpuk kesenangan, dan
mengembangkan kesenangan.
Bagaimana menurut Sampeyan
0 Comment to "Menulis (2.4): Menulis: Memaksakan Pengakuan"
Post a Comment