Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.3): Menulis: Menumpuk Kesenangan

Ersis Warmasyah Abbas
Banyak cara untuk memanjakan diri. Mengumpulkan mobil mewah dari jenis Alpard sampai Lomborgini, misalnya, lalu menghadiahkan kepada yang disukai. Tentu saja hal tersebut memerlukan dana tidak sedikit. Memanjakan diri dengan menulis, sebaliknya; berbiaya murah, mudah dilakukan, dan lebih penting, halal.
ALKISAH seorang sahabat mengolok-olok (mahapak) dengan memfoto mobil Hummer-nya yang di parkir bersebelahan dengn mobil saya. Hasil jepreten tersebut dikirim ke HP saya. Tentu saja tidak bisa menerima karena fasilitas HP saya hanya untuk berteleponan dan SMS. Satu nol.

Si teman, seorang pengusaha sukses dan (mantan) murid saya. Dia membawa saya ke Tanah Suci, membantu aktivitas saya dalam banyak hal kecuali untuk satu hal: mobil. Saya menolak. Mobil kijang tahun 1996 adalah mobil sangat bersejarah. Teman saya yang lain, kini Kepala Daerah, memberi mobil tersebut. Hanya saja, setelah beberapa bulan saya bayar dengan harga pertemanan, sekalipun katanya, tidak usah, pakai saja, ya saya beli. Mobil tersebut mempunyai andil dalam kehidupan saya.

Kedua-duanya pernah meminta agar mobil tersebut diganti dengan mobil baru —dalam kegeeran saya berandai-andai dibelikan— tetapi saya tolak. Kepada seorang teman yang lain, yang menawarkan mobil (baru) dengan membayar kapan sanggup, saya katakan: “Terima kasih.” Saya agak disusahkan finansial setelah menyelesaikan kuliah doktoral. Tabungan terkuras sementara keperluan tidak kurang-kurang. Mobil belum menjadi prioritas. Sembari geleng-geleng mobil saya diistilahkannya mobil tetanus. “Lalu, apa prioritasmu, sobat?”.
“Menerbitkan buku”, kata saya tanpa ekspresi. Buku, sebagai hasil menulis alias dari pekerjaan menyenangkan, kalau dibantu untuk diterbitkan sungguh menyenangkan. Membantu teman pun harus pandai-pandai he he.

Saya suka membaca suka menulis. Bisa jadi, tingkat kepuasaan didapat ketika tulisan menjadi yang dikembangkan dari ide yang ”bermain” di pikiran. Tentu lebih menyenangkan manakala (kumpulan) tulisan tersebut diterbitkan. Menerbitkan buku tentu memerlukan biaya. Bagi saya, teman yang membantu menerbitkan buku adalah teman tercerdas. Mengapa?

Saya bukan tidak berkehendak memiliki mobil baru. Hal pokoknya, ingin membeli mobil dengan hasil bekerja sebagai doktor, bukan diberi-beri atau hasil memalak, apalagi dengan memaksa mahasiswa membeli buku saya. Penghasilan sebagai doktor belum memungkinkan. Sabar. Mana tahu nanti bisa membeli helikopter he he.

Hal paling menyenangkan saat ini, menulis ”tanpa menuntut apa pun” yang memberi kesenangan dan “tanpa memberi beban apa pun.” Menulis sebagai hal yang pasti menyenangkan. Membeli mobil? Sebagai PNS bergolongan IV, dengan mendatangi koperasi kampus atau perusahaan pembiayaan, dalam satu jam kiranya mendapatkan mobil baru melalui sistem kredit. Mudah saja.

Halnya adalah, kalau mampu bersenang-senang dengan lakuan menyenangkan, mengapa harus memusingkan pikiran, membuat kepala puyeng? Dalam kasus saya, mobil Kijang “tetanus” masih ”gagah” mengantar kemana saja saya mau. Dengan kata lain, jangan pernah menukar hal yang pasti-pasti mendatangkan kesenangan dan menyenangkan dengan bayangan atau angan-angan. Yang pasti-pasti sajalah.

Begitu pula dalam menulis. Berkaca dirilah. Kalau kemampuan baru sebatas menulis diari, dan itu menyenangkan, lakukan. Jangan berlagak bak penulis hebat menulis hal yang bermakna “setinggi Pegunungan Himalaya” atau “sedalam Lautan Atlantik.” Menulis cerpen saja berlepotan, apalagi menulis novel, tetapi berlaku bak “Iblis” dengan menghujat (mahapak) novel orang.

Dengan kata lain, buktikan kemampuan dengan karya, dengan tulisan. Ya, mari menulis, mari menumpuk kesenangan, kesenangan murah meriah, dengan menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.3): Menulis: Menumpuk Kesenangan"

Post a Comment