Ersis Warmasyah Abbas
Banyak cara untuk memanjakan diri. Mengumpulkan mobil mewah dari jenis Alpard sampai Lomborgini, misalnya, lalu menghadiahkan kepada yang disukai. Tentu saja hal tersebut memerlukan dana tidak sedikit. Memanjakan diri dengan menulis, sebaliknya; berbiaya murah, mudah dilakukan, dan lebih penting, halal.
ALKISAH seorang sahabat mengolok-olok (mahapak) dengan memfoto mobil
Hummer-nya yang di parkir bersebelahan dengn mobil saya. Hasil jepreten
tersebut dikirim ke HP saya. Tentu saja tidak bisa menerima karena
fasilitas HP saya hanya untuk berteleponan dan SMS. Satu nol.
Si teman, seorang pengusaha sukses dan (mantan) murid saya. Dia
membawa saya ke Tanah Suci, membantu aktivitas saya dalam banyak hal
kecuali untuk satu hal: mobil. Saya menolak. Mobil kijang tahun 1996
adalah mobil sangat bersejarah. Teman saya yang lain, kini Kepala
Daerah, memberi mobil tersebut. Hanya saja, setelah beberapa bulan saya
bayar dengan harga pertemanan, sekalipun katanya, tidak usah, pakai
saja, ya saya beli. Mobil tersebut mempunyai andil dalam kehidupan saya.
Kedua-duanya pernah meminta agar mobil tersebut diganti dengan mobil
baru —dalam kegeeran saya berandai-andai dibelikan— tetapi saya tolak.
Kepada seorang teman yang lain, yang menawarkan mobil (baru) dengan
membayar kapan sanggup, saya katakan: “Terima kasih.” Saya agak
disusahkan finansial setelah menyelesaikan kuliah doktoral. Tabungan
terkuras sementara keperluan tidak kurang-kurang. Mobil belum menjadi
prioritas. Sembari geleng-geleng mobil saya diistilahkannya mobil
tetanus. “Lalu, apa prioritasmu, sobat?”.
“Menerbitkan buku”, kata saya tanpa ekspresi. Buku, sebagai hasil
menulis alias dari pekerjaan menyenangkan, kalau dibantu untuk
diterbitkan sungguh menyenangkan. Membantu teman pun harus pandai-pandai
he he.
Saya suka membaca suka menulis. Bisa jadi, tingkat kepuasaan didapat
ketika tulisan menjadi yang dikembangkan dari ide yang ”bermain” di
pikiran. Tentu lebih menyenangkan manakala (kumpulan) tulisan tersebut
diterbitkan. Menerbitkan buku tentu memerlukan biaya. Bagi saya, teman
yang membantu menerbitkan buku adalah teman tercerdas. Mengapa?
Saya bukan tidak berkehendak memiliki mobil baru. Hal pokoknya, ingin
membeli mobil dengan hasil bekerja sebagai doktor, bukan diberi-beri
atau hasil memalak, apalagi dengan memaksa mahasiswa membeli buku saya.
Penghasilan sebagai doktor belum memungkinkan. Sabar. Mana tahu nanti
bisa membeli helikopter he he.
Hal paling menyenangkan saat ini, menulis ”tanpa menuntut apa pun”
yang memberi kesenangan dan “tanpa memberi beban apa pun.” Menulis
sebagai hal yang pasti menyenangkan. Membeli mobil? Sebagai PNS
bergolongan IV, dengan mendatangi koperasi kampus atau perusahaan
pembiayaan, dalam satu jam kiranya mendapatkan mobil baru melalui sistem
kredit. Mudah saja.
Halnya adalah, kalau mampu bersenang-senang dengan lakuan
menyenangkan, mengapa harus memusingkan pikiran, membuat kepala puyeng?
Dalam kasus saya, mobil Kijang “tetanus” masih ”gagah” mengantar kemana
saja saya mau. Dengan kata lain, jangan pernah menukar hal yang
pasti-pasti mendatangkan kesenangan dan menyenangkan dengan bayangan
atau angan-angan. Yang pasti-pasti sajalah.
Begitu pula dalam menulis. Berkaca dirilah. Kalau kemampuan baru
sebatas menulis diari, dan itu menyenangkan, lakukan. Jangan berlagak
bak penulis hebat menulis hal yang bermakna “setinggi Pegunungan
Himalaya” atau “sedalam Lautan Atlantik.” Menulis cerpen saja
berlepotan, apalagi menulis novel, tetapi berlaku bak “Iblis” dengan
menghujat (mahapak) novel orang.
Dengan kata lain, buktikan kemampuan dengan karya, dengan tulisan.
Ya, mari menulis, mari menumpuk kesenangan, kesenangan murah meriah,
dengan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.3): Menulis: Menumpuk Kesenangan"
Post a Comment