Ersis Warmansyah Abbas
”Duh, menulis itu susah dan menyusahkan. Sungguh menyebalkan”, keluh seseorang. ”Saya benci tu sama Pak Dosen yang rajin memberikan tugas menulis”, sergah yang lain. ”Emang ngak ada kerjaan lain?”
MENULIS melegakan? Ya, iyalah. Seperti Sampeyan baca sebelumnya.
Menulis melegakan bagi yang tidak jumawa atau bagi yang menulis bukan
dengan maksud untuk bersombong-sombong, pastilah. Waduh, jangan
berbelit-belit Udaden, langsung saja ke pokok halnya. Sabar, sabar Mas
Bro. Orang sabar disayangi Allah SWT.
Begini. Bukan maksud saya bersombong-sombong, faktanya saya tidak
ingat lagi berapa banyak tulisan yang dihasilkan baik yang dipublikasi
di media cetak maupun media maya, jangankan tulisannya judul buku-buku
saya yang diterbitkan saja saya tidak hapal. Tidak sedikit yang
bertanya, bagaimana bisa menulis sedemikian banyak? Memangnya kerjaan
Sampeyan menulis doang?
Sejujurnya, saya juga heran dengan pertanyaan tersebut. Bagi saya
menulis adalah proses belajar, pembelajaran diri. Menulis belajar,
pembelajaran diri? Ya, belajar dan pembelajaran diri. Saya tergolong
suka membaca. Selagi sempat membaca ya membaca. Tidak peduli potongan
koran, majalah bekas, atau buku-buku serius. Pokoknya membaca asal ada
kesempatan.
Membaca sesuatu, apalagi kalau bacaan menimbulkan inspirasi, terjadi
“komunikasi” di pikiran. Misalnya, membaca tentang Joko Widodo ketika
dia belum menjadi presiden sebagai media darling yang kemudian
digadang-gadang menjadi calon presiden. Jokowi? Joko Widodo? Apa
hebatnya? Kenapa bukan saya (geer loe). Membaca tentang Jokowi memantik
mempelajari kait-mengkaitnya. Seterusnya mencari informasi lanjutan
tentangnya.
Membaca model demikian untuk menambah pengetahuan dalam kandungan
proses belajar. Bisa untuk memenuhi keingintahuan atau menyenangkan
pikiran sehingga terjadi dialog pikiran. Kita ”membelajarkan” otak untuk
tidak melupakan sesuatu; membaca, mempelajari, dan menuliskannya yang
menjadikan kita lebih paham.
Suatu ketika pikiran saya dipantik pertanyaan tentang K.H. Muhammad
Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), terkagum-kagum. Mengamati gerak
dakwah Sidin dan menuliskannya, yang semakin dibaca membuat semakin
ingin mengetahui, semakin ingin mempelajari tentang kehebatan Sidin.
Tetapi, tidak mudah memang. Mula-mula kagum. Setelah mempelajari
kiprah Sidin berhadapan dengan nara sumber yang kesantrian jauh dari
yang dibayangkan. Saya harus belajar teks-teks bahasa Arab,
istilah-istilah tekstual al-Qur’an, Hadis Rasulullah, dan sebagainya.
Keterkaguman terhadap Guru Sekumpul akhirnya dijadikan lahan penelitian
untuk disertasi.
Ya, menulis berarti mempelajari sesuatu dan kita belajar dari apa
yang kita tulis. Tanpa mempelajari apa yang kita tulis kiranya tidak
afdol, sebab bagaimana “menuangkan” apa yang ada di pikiran kalau yang
“dituangkan” tidak kita pahami. Bisa jadi, tulisan yang dihasilkannya
kalaulah tidak ngawur, ya awut-awutan atau tidak karu-karuan. Hal
terbaik manakala menulis ngawur membuat pembaca tersenyum. Itu saja.
Perlu ditegaskan: Mungkinkah menulis apa yang tidak kita ketahui?
Mustahil.
Karena itu, kalau berkehendak menulis, tidak dapat tidak, wajib
membaca atau dalam arti lain belajar, belajar atau mempelajari apa yang
tertulis, apa yang tersirat, apa yang ada di alam, mempelajari diri
mempelajari pengalaman, dan seterusnya. Kalau demikian adanya, menulis
adalah lakuan manusia pembelajar.
Tidak mau belajar, ogah membaca, malas mencermati, menganggap
pengetahuan lebih dari cukup, tidak usah berkehendak menulis, apalagi
menjadi penulis. Sebaliknya, bila berkeinginan belajar, membelajarkan
diri dan menyenangkan diri, ya menulislah. Menulis itu belajar sekaligus
menyenangkan diri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.2): Menulis: Belajar dan Menyenangkan"
Post a Comment