Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.2): Menulis: Belajar dan Menyenangkan

Ersis Warmansyah Abbas
”Duh, menulis itu susah dan menyusahkan. Sungguh menyebalkan”, keluh seseorang. ”Saya benci tu sama Pak Dosen yang rajin memberikan tugas menulis”, sergah yang lain. ”Emang ngak ada kerjaan lain?”
MENULIS melegakan? Ya, iyalah. Seperti Sampeyan baca sebelumnya. Menulis melegakan bagi yang tidak jumawa atau bagi yang menulis bukan dengan maksud untuk bersombong-sombong, pastilah. Waduh, jangan berbelit-belit Udaden, langsung saja ke pokok halnya. Sabar, sabar Mas Bro. Orang sabar disayangi Allah SWT.

Begini. Bukan maksud saya bersombong-sombong, faktanya saya tidak ingat lagi berapa banyak tulisan yang dihasilkan baik yang dipublikasi di media cetak maupun media maya, jangankan tulisannya judul buku-buku saya yang diterbitkan saja saya tidak hapal. Tidak sedikit yang bertanya, bagaimana bisa menulis sedemikian banyak? Memangnya kerjaan Sampeyan menulis doang?


Sejujurnya, saya juga heran dengan pertanyaan tersebut. Bagi saya menulis adalah proses belajar, pembelajaran diri. Menulis belajar, pembelajaran diri? Ya, belajar dan pembelajaran diri. Saya tergolong suka membaca. Selagi sempat membaca ya membaca. Tidak peduli potongan koran, majalah bekas, atau buku-buku serius. Pokoknya membaca asal ada kesempatan.

Membaca sesuatu, apalagi kalau bacaan menimbulkan inspirasi, terjadi “komunikasi” di pikiran. Misalnya, membaca tentang Joko Widodo ketika dia belum menjadi presiden sebagai media darling yang kemudian digadang-gadang menjadi calon presiden. Jokowi? Joko Widodo? Apa hebatnya? Kenapa bukan saya (geer loe). Membaca tentang Jokowi memantik mempelajari kait-mengkaitnya. Seterusnya mencari informasi lanjutan tentangnya.

Membaca model demikian untuk menambah pengetahuan dalam kandungan proses belajar. Bisa untuk memenuhi keingintahuan atau menyenangkan pikiran sehingga terjadi dialog pikiran. Kita ”membelajarkan” otak untuk tidak melupakan sesuatu; membaca, mempelajari, dan menuliskannya yang menjadikan kita lebih paham.
Suatu ketika pikiran saya dipantik pertanyaan tentang K.H. Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), terkagum-kagum. Mengamati gerak dakwah Sidin dan menuliskannya, yang semakin dibaca membuat semakin ingin mengetahui, semakin ingin mempelajari tentang kehebatan Sidin.

Tetapi, tidak mudah memang. Mula-mula kagum. Setelah mempelajari kiprah Sidin berhadapan dengan nara sumber yang kesantrian jauh dari yang dibayangkan. Saya harus belajar teks-teks bahasa Arab, istilah-istilah tekstual al-Qur’an, Hadis Rasulullah, dan sebagainya. Keterkaguman terhadap Guru Sekumpul akhirnya dijadikan lahan penelitian untuk disertasi.

Ya, menulis berarti mempelajari sesuatu dan kita belajar dari apa yang kita tulis. Tanpa mempelajari apa yang kita tulis kiranya tidak afdol, sebab bagaimana “menuangkan” apa yang ada di pikiran kalau yang “dituangkan” tidak kita pahami. Bisa jadi, tulisan yang dihasilkannya kalaulah tidak ngawur, ya awut-awutan atau tidak karu-karuan. Hal terbaik manakala menulis ngawur membuat pembaca tersenyum. Itu saja. Perlu ditegaskan: Mungkinkah menulis apa yang tidak kita ketahui? Mustahil.

Karena itu, kalau berkehendak menulis, tidak dapat tidak, wajib membaca atau dalam arti lain belajar, belajar atau mempelajari apa yang tertulis, apa yang tersirat, apa yang ada di alam, mempelajari diri mempelajari pengalaman, dan seterusnya. Kalau demikian adanya, menulis adalah lakuan manusia pembelajar.

Tidak mau belajar, ogah membaca, malas mencermati, menganggap pengetahuan lebih dari cukup, tidak usah berkehendak menulis, apalagi menjadi penulis. Sebaliknya, bila berkeinginan belajar, membelajarkan diri dan menyenangkan diri, ya menulislah. Menulis itu belajar sekaligus menyenangkan diri.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.2): Menulis: Belajar dan Menyenangkan"

Post a Comment