Ersis Warmansyah Abbas
Menyimak orang berbicara, apalagi bertengkar dengan argumen hebat sehingga terkesan pintar, hal biasa saja. Banyak orang hebat berbicara. Tetapi, menuliskan apa yang dikatakan atau dibicarakan, tunggu dulu. Untuk yang satu ini, bejibun alasan-alasan lazim dilengketkan.
MALAM semakin dingin. Udaden menarik nafas dalam-dalam, lalu membentangkan tangannya, menggerak-gerakkan jari-jari, mengangkat tangan sembari mengucapkan puji syukur melafaskan Alhamdulillah. Pikirannya terasa ringan, perasaaan lega. Plong. Duh, emak. Nyamannya seusai menulis bagian akhir skripsinya. Dunia terasa begitu indah, nyaman, dan menyamankan.
Bisa jadi, bagi sebagian orang, menulis tugas kuliah —makalah, book
report sampai skripsi— merupakan perjuangan “berdarah-darah.” Menulis
sebagai beban. Pikiran kacau, perasaan galau, makan pun tak enak. Tugas
dari dosen bak beban berkati-kati, berat. Akibatnya, jangankan menulis,
mendengar orang berdiskusi tentang menulis saja bawaannya muntah. Jiwa
dikungkung kekecutan.
Tetapi, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, sekalipun
peruntungan dan penderitaan kita tidak sama, satu hal yang pasti, siapa
pun yang menyelesaikan tugas menulis, atau merampungkan menulis sesuatu
atas keinginannya, dapat dipastikan, yang didapatnya ranah senang dan
menyenangkan; lega, gembira, diri berasa bereksistensi, kehidupan terasa
begitu nyaman, apa-apa yang hendak dilakukan terasa begitu mudah.
Bagaimana tidak. Pada dasarnya apabila kita menyelesaikan suatu
pekerjaan, di diri muncul gelitik hati, yang kalau kita kalimatkan
secara sederhana: “Aku Bisa.” Aku bisa bukan dalam pemaknaan sombong,
tetapi kebersyukuran, bahwa diri mampu menyelesaikan pekerjaan.
Menyelesaikan pekerjaan (menulis) itu yang membuat keberadaan diri
menjadi “ada”, menyelesaikannya menjadi hal sangat menyenangkan, membuat
legaaaaaa. Bandingkan dengan mereka yang menulis satu atau dua alinea,
stop. Kemarin menulis tidak selesai, hari ini menulis tidak tuntas,
besok tidak menjadi, diulangi, dan diulangi lagi. Apa maksudnya
membangun kehebatan menulis tidak tuntas? Jangan-jangan gejala penyakit
jiwa.
Kalau berkehendak untuk mendapatkan kesenangan, kenyamanan, lega
berkepanjangan, mengurangi beban pikiran, ya menulislah. Memangnya
kenapa Mas Bro? Menulis adalah kebebasan, dan dengan kebebasan tersebut
kita dapat menulis beberapa bait puisi, pantun, atau artikel. Bisa pula
menulis penggalan novel atau disertasi. Bila selesai nyaman duh
nyamannya; beban pikiran hengkang.
Pernah menulis skripsi, tesis, atau disertasi? Tidak ada orang yang
mampu menulis bak (dongeng) Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan
dalam semalam. Kita menulis sepenggal demi sepenggal. Ketika satu
penggalan selesai, legaaaa. Suer, setiap menyelesaikan bagian tulisan
yang didapat rasa senang, nyaman, dan bahagia.
Dengan kata lain, menulis menumpuk “kebanggaan diri” dari hari ke
hari. Dengan menulis setiap hari kita bisa mendapatkan berkali-kali
kenyamanan, semakin banyak tulisan diselesaikan semakin bertimbun
kenyamanan ternikmati. Apalagi, kalau tulisan-tulisan tersebut bernilai
finansial ketika dimuat media cetak atau menjadi buku. Sungguh sangat
menyenangkan.
Dalam bahasa provokatif, menulis merupakan ladang kebahagiaan
manakala kita mampu memanfaatkannya. Setidaknya, meminjam istilah
psikologi, menulis sebagai sarana katarsis. Katarsis melalui lakuan yang
hasilnya bukan tidak mungkin bermanfaat bagi orang lain sebagai
inspirasi, teladan, atau apa pun namanya.
Dus, menulis bukan saja memekarkan kelegaan, tetapi terlebih,
menyehatkan. Sebab, dengan menulis beban otak kita berkurang, pikiran
menjadi fresh dan perasaan lempang. Orang-orang bodoh saja yang
menjadikan menulis sebagai hantu yang menyengsarakan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.1) Menulis: Duh Legaaa"
Post a Comment