Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.1) Menulis: Duh Legaaa

Ersis Warmansyah Abbas
Menyimak orang berbicara, apalagi bertengkar dengan argumen hebat sehingga terkesan pintar, hal biasa saja. Banyak orang hebat berbicara. Tetapi, menuliskan apa yang dikatakan atau dibicarakan, tunggu dulu. Untuk yang satu ini, bejibun alasan-alasan lazim dilengketkan.

MALAM semakin dingin. Udaden menarik nafas dalam-dalam, lalu membentangkan tangannya, menggerak-gerakkan jari-jari, mengangkat tangan sembari mengucapkan puji syukur melafaskan Alhamdulillah. Pikirannya terasa ringan, perasaaan lega. Plong. Duh, emak. Nyamannya seusai menulis bagian akhir skripsinya. Dunia terasa begitu indah, nyaman, dan menyamankan.

Bisa jadi, bagi sebagian orang, menulis tugas kuliah —makalah, book report sampai skripsi— merupakan perjuangan “berdarah-darah.” Menulis sebagai beban. Pikiran kacau, perasaan galau, makan pun tak enak. Tugas dari dosen bak beban berkati-kati, berat. Akibatnya, jangankan menulis, mendengar orang berdiskusi tentang menulis saja bawaannya muntah. Jiwa dikungkung kekecutan.


Tetapi, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, sekalipun peruntungan dan penderitaan kita tidak sama, satu hal yang pasti, siapa pun yang menyelesaikan tugas menulis, atau merampungkan menulis sesuatu atas keinginannya, dapat dipastikan, yang didapatnya ranah senang dan menyenangkan; lega, gembira, diri berasa bereksistensi, kehidupan terasa begitu nyaman, apa-apa yang hendak dilakukan terasa begitu mudah. Bagaimana tidak. Pada dasarnya apabila kita menyelesaikan suatu pekerjaan, di diri muncul gelitik hati, yang kalau kita kalimatkan secara sederhana: “Aku Bisa.” Aku bisa bukan dalam pemaknaan sombong, tetapi kebersyukuran, bahwa diri mampu menyelesaikan pekerjaan.

Menyelesaikan pekerjaan (menulis) itu yang membuat keberadaan diri menjadi “ada”, menyelesaikannya menjadi hal sangat menyenangkan, membuat legaaaaaa. Bandingkan dengan mereka yang menulis satu atau dua alinea, stop. Kemarin menulis tidak selesai, hari ini menulis tidak tuntas, besok tidak menjadi, diulangi, dan diulangi lagi. Apa maksudnya membangun kehebatan menulis tidak tuntas? Jangan-jangan gejala penyakit jiwa.

Kalau berkehendak untuk mendapatkan kesenangan, kenyamanan, lega berkepanjangan, mengurangi beban pikiran, ya menulislah. Memangnya kenapa Mas Bro? Menulis adalah kebebasan, dan dengan kebebasan tersebut kita dapat menulis beberapa bait puisi, pantun, atau artikel. Bisa pula menulis penggalan novel atau disertasi. Bila selesai nyaman duh nyamannya; beban pikiran hengkang.

Pernah menulis skripsi, tesis, atau disertasi? Tidak ada orang yang mampu menulis bak (dongeng) Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan dalam semalam. Kita menulis sepenggal demi sepenggal. Ketika satu penggalan selesai, legaaaa. Suer, setiap menyelesaikan bagian tulisan yang didapat rasa senang, nyaman, dan bahagia.

Dengan kata lain, menulis menumpuk “kebanggaan diri” dari hari ke hari. Dengan menulis setiap hari kita bisa mendapatkan berkali-kali kenyamanan, semakin banyak tulisan diselesaikan semakin bertimbun kenyamanan ternikmati. Apalagi, kalau tulisan-tulisan tersebut bernilai finansial ketika dimuat media cetak atau menjadi buku. Sungguh sangat menyenangkan.

Dalam bahasa provokatif, menulis merupakan ladang kebahagiaan manakala kita mampu memanfaatkannya. Setidaknya, meminjam istilah psikologi, menulis sebagai sarana katarsis. Katarsis melalui lakuan yang hasilnya bukan tidak mungkin bermanfaat bagi orang lain sebagai inspirasi, teladan, atau apa pun namanya.

Dus, menulis bukan saja memekarkan kelegaan, tetapi terlebih, menyehatkan. Sebab, dengan menulis beban otak kita berkurang, pikiran menjadi fresh dan perasaan lempang. Orang-orang bodoh saja yang menjadikan menulis sebagai hantu yang menyengsarakan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.1) Menulis: Duh Legaaa"

Post a Comment