Ersis Warmansyah Abbas
Bermacam motif seseorang mengikuti lomba menulis. Ada yang ingin mendapatkan hadiah, mencari popularitas, atau menguji kemampuan menulis. Tidak ada yang salah. Halnya mendenda ketika, jangankan menjadi pemenang, pada seleksi admistrasi atau tema, sudah tereliminasi.
PERNAH menyaksikan American Idol yang kini diadopsi menjadi
Indonesian Idol? Banyak penyanyi berbakat yang kemudian mendayung sukses
dari ajang pencarian bakat tersebut. Lomba menulis? Lomba menulis dapat
menjadi pintu masuk dunia menulis. Diskusi kita fokuskan ketika gagal
alias tidak menang dalam lomba menulis.
Saya menganjurkan, tidak usah sedih, apalagi putus asa. Mengikuti lomba
berarti telah melakukan ritual menulis. Bukankah sebelum menulis kita
telah berusaha memahami maksud dan tujuan termasuk persyaratannya?
Setelah paham, kita mencari bahan, menganalisis, menuliskannya,
mengedit, dan seterusnya. Proses tersebut, terutama bagi pemula, berarti
telah melakukan proses menulis. Dalam kalimat edukatifnya, telah proses
pembelajaran diri.
Proses pembelajaran tersebut, yang sekali lagi, kalau disadari,
adalah kemenangan terbesar. Coba ingat-ingat, betapa bersemangat,
sungguh sangat termotivasi, pikiran dan khayalan mendapat tempat
sempurna, andaikan memenangkan lomba, duh, sungguh mengasyikkan.
Inga, inga, inga. Semangat, potensi, dan kemauan merealisasikan
kehendak menjadikan diri sesungguhnya ketika menulis, berkehendak
memenangkan lomba. Sungguh menyenangkan. So amat sangat menyenangkan.
Minimal, mendapatkan suasana kebatinan memenangkan peperangan besar
melawan kemalasan menulis, menghasilkan tulisan. Hal tersebut yang lebih
penting. Tetapi, kalah Pak.
Memangnya apa salahnya kalah dalam lomba menulis? Saya pernah
menasehati seseorang ketika mengikuti lomba menulis di blog saya
berhadiah jutaan rupiah dan dibukukan menjadi: Menulis Mudah: Dari Babu
Sampai Pak Dosen (Gama Media, 2008). Dari 400 peserta kalau semuanya
menang, bisa jadi, rumput tidak bisa bergoyang lagi karena semaput,
masyak semua peserta menang. Dalam lomba ada yang menang, tetapi lebih
banyak yang kalah suatu keharusan.
Karena itu, kalau belum menang ikuti lagi lomba berikutnya. Kata
kuncinya, bersemangat meningkatkan kualitas tulisan. Lomba bukanlah
penentu tengkurap atau khatam menulis. Lomba menulis hanyalah secuil
etape menulis. Eit, ngemeng-ngemeng Pak EWA pernah ikut lomba menulis?
Ngak, tu. Kalau mengadakan lomba sering. Saya memilih menulisnya he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.9): Dikecewakan Lomba Menulis"
Post a Comment