Monday, 12 December 2016

Menulis (3.9): Dikecewakan Lomba Menulis

Ersis Warmansyah Abbas
Bermacam motif seseorang mengikuti lomba menulis. Ada yang ingin mendapatkan hadiah, mencari popularitas, atau menguji kemampuan menulis. Tidak ada yang salah. Halnya mendenda ketika, jangankan menjadi pemenang, pada seleksi admistrasi atau tema, sudah tereliminasi. 
PERNAH menyaksikan American Idol yang kini diadopsi menjadi Indonesian Idol? Banyak penyanyi berbakat yang kemudian mendayung sukses dari ajang pencarian bakat tersebut. Lomba menulis? Lomba menulis dapat menjadi pintu masuk dunia menulis. Diskusi kita fokuskan ketika gagal alias tidak menang dalam lomba menulis.
 
Saya menganjurkan, tidak usah sedih, apalagi putus asa. Mengikuti lomba berarti telah melakukan ritual menulis. Bukankah sebelum menulis kita telah berusaha memahami maksud dan tujuan termasuk persyaratannya? Setelah paham, kita mencari bahan, menganalisis, menuliskannya, mengedit, dan seterusnya. Proses tersebut, terutama bagi pemula, berarti telah melakukan proses menulis. Dalam kalimat edukatifnya, telah proses pembelajaran diri.

Proses pembelajaran tersebut, yang sekali lagi, kalau disadari, adalah kemenangan terbesar. Coba ingat-ingat, betapa bersemangat, sungguh sangat termotivasi, pikiran dan khayalan mendapat tempat sempurna, andaikan memenangkan lomba, duh, sungguh mengasyikkan.


Inga, inga, inga. Semangat, potensi, dan kemauan merealisasikan kehendak menjadikan diri sesungguhnya ketika menulis, berkehendak memenangkan lomba. Sungguh menyenangkan. So amat sangat menyenangkan. Minimal, mendapatkan suasana kebatinan memenangkan peperangan besar melawan kemalasan menulis, menghasilkan tulisan. Hal tersebut yang lebih penting. Tetapi, kalah Pak.

Memangnya apa salahnya kalah dalam lomba menulis? Saya pernah menasehati seseorang ketika mengikuti lomba menulis di blog saya berhadiah jutaan rupiah dan dibukukan menjadi: Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen (Gama Media, 2008). Dari 400 peserta kalau semuanya menang, bisa jadi, rumput tidak bisa bergoyang lagi karena semaput, masyak semua peserta menang. Dalam lomba ada yang menang, tetapi lebih banyak yang kalah suatu keharusan.

Karena itu, kalau belum menang ikuti lagi lomba berikutnya. Kata kuncinya, bersemangat meningkatkan kualitas tulisan. Lomba bukanlah penentu tengkurap atau khatam menulis. Lomba menulis hanyalah secuil etape menulis. Eit, ngemeng-ngemeng Pak EWA pernah ikut lomba menulis? Ngak, tu. Kalau mengadakan lomba sering. Saya memilih menulisnya he he.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.9): Dikecewakan Lomba Menulis"

Post a Comment