Ersis Warmansyah Abbas
Ah, Teori! Masih ingat ungkapan iklan tersebut? Jangan melecehkan teori, dan jangan mau dibodohi teori. Khusus bagi pemula, pengetahuan teoritis dikembangkan bersamaan dengan menulis bisa jadi menyenangkan. Tidak percaya? Buktikan saja.
TEORI. Banyak bahasan, atau lebih kerennya, teori menulis. Saking
beragamnya teori menulis, kalau rajin membacanya, bisa berakibat pusing
untuk memahami. Kalau memahaminya saja pusing bagaimana
mempraktikkannya. Membaca beragam teori menulis tentu bagus, tetapi
perlu ditanya: “Sampeyan mau belajar teori menulis atau menulis?’’
Teori (menulis) itu kan penting. Tentu saja penting. Pertanyaannya,
Sampeyan mau belajar teori menulis atau menulis? Saya membaca (sambilan
saja) teori menulis setelah menulis puluhan buku tentang menulis. Apa
sebab? Teori dibangun atas pemikiran atau pengalaman (orang lain).
Bukankah sejak belajar di Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi,
guru-guru telah memberi kunci pembukanya, membaca dan menulis?
Karena itu saya memilih memperbanyak membaca, yang tertulis atau
belum tertulis, tersurat dan tersirat, lalu, kalau bisa ditulis. Banyak
yang telah dipelajari, pengalaman pun tidak kurang-kurang, nah untuk
menuliskannya gunakan ”cara kampung”, tidak ribet, “tuangkan” menjadi
tulisan. Jangan jadikan pikiran pusing dengan teori ini-itu. Dari
menulis itu kita belajar, dan kalau perlu bangun teori baru, semisal
Ersis Writing Theory he he.
Banyak orang terpedaya dongeng-dongeng tentang menulis, hingga waktu
habis untuk memikirkannya. Menulis itu harus begini-begana, dan segudang
hal lainnya. Bukan soal hal tersebut tidak penting, tetapi kalau belum
menguasai teori bagaimana? Tidak menulis to?
Jangan sampai terjerat hal sedemikian. Saya, Ersis Warmansyah Abbas
membangun Ersis Writing Theoey (EWT) berbasis menulis (melakukan). Dari
melakukan itulah belajar menulis. Ingat, sehebat apa pun pengetahuan
teoritis Sampeyan tentang menulis, kalau tidak menulis tidak akan
dihasilkan tulisan. Apalagi, kalau hanya mengantang angan-angan tentang
menulis yang hebat itu begini-begana. Lalu, kapan menulis Bro?
Jadi, terutama bagi pemula, jangan ganggu proses belajar, dengan
melakukan menulis, dengan dongeng-dongeng tentang kesalahan menulis.
Tulis dulu, setelah selesai ditulis dibaca, disigi kesalahannya, lalu
perbaiki. Logika jangan dibalik, mengantang teori ini-itu, tetapi
tulisannya tidak ada. Apa yang mau diperbaiki?
Mari lupakan teori menulis barang sejenak. Jangan nilai baikkah atau
burukkah tulisan saya, direspon ataukah akan di-cuekin, mendapat honor
atau dikembalikan redaktur media cetak. Lupakan hal tersebut. Fokus
menulis, belajar menulis dengan menulis. Jangan becandalah, tulisannya
belum ada, tetapi diskusi tentang tulisan yang belum ada tersebut lebih
ramai dari Pasar Malam.
Kalau mau menulis, begitu lazim nasihat yang kita terima, mantapkan
tujuannya, tentukan temanya, apa misinya, lengkapi bahannya, dan
bla-bla. Tidak salah memang. Tetapi, coba dibalik. Jangan pikirkan apa
yang akan ditulis, tuliskan yang ada di pikiran. Ruang diskusi di otak
ditutup. Tidak usah lagi “bicara” tema, setting, alur, atau apalah
begitu. Apalagi soal mood-mood segala rupa. Tulis saja. Setelah menjadi
tulisan hal-hal tersebut akan terpindai.
Mula-mula mungkin terasa janggal. Aneh saja begitu. Namun, pengalaman
saya membuktikan lain. Saya pernah meminta pelibat pelatihan EWT
mengingat satu kata, dan dari kata itu menulis tentang menulis. Menulis
tanpa persiapan berdarah-darah, santai saja.
Seperti dikemukakan terdahulu, sebenarnya di pikiran kita sudah
banyak bahan. Tugas kita menenun, menjadikan puzzle tulisan yang indah.
Bahan-bahan yang akan ditulis sudah bersemayam di otak, di pikiran kita.
Apa pun yang kita pikirkan, begitu otak dioperasikan, apalagi merespon
hal di luar diri, proses menulis di otak telah terjadi.
Kalau begitu, menulis itu mudah dong. Yes. Siapa bilang susah. Dan
ini yang tidak kalah penting, menulis itu menyenangkan. Bagaimana kalau
tulisan belum bagus? Banyak editor di negeri ini.
Lupakan sejenak teori, dan mari menulis tanpa beban, menulis bersenang-senang, menulis menyenangkan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (2.7): Lupakan Sejenak Teori"
Post a Comment