Thursday, 8 December 2016

Menulis (2.7): Lupakan Sejenak Teori

Ersis Warmansyah Abbas
Ah, Teori! Masih ingat ungkapan iklan tersebut? Jangan melecehkan teori, dan jangan mau dibodohi teori. Khusus bagi pemula, pengetahuan teoritis dikembangkan bersamaan dengan menulis bisa jadi menyenangkan. Tidak percaya? Buktikan saja.
TEORI. Banyak bahasan, atau lebih kerennya, teori menulis. Saking beragamnya teori menulis, kalau rajin membacanya, bisa berakibat pusing untuk memahami. Kalau memahaminya saja pusing bagaimana mempraktikkannya. Membaca beragam teori menulis tentu bagus, tetapi perlu ditanya: “Sampeyan mau belajar teori menulis atau menulis?’’

Teori (menulis) itu kan penting. Tentu saja penting. Pertanyaannya, Sampeyan mau belajar teori menulis atau menulis? Saya membaca (sambilan saja) teori menulis setelah menulis puluhan buku tentang menulis. Apa sebab? Teori dibangun atas pemikiran atau pengalaman (orang lain). Bukankah sejak belajar di Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi, guru-guru telah memberi kunci pembukanya, membaca dan menulis?

Karena itu saya memilih memperbanyak membaca, yang tertulis atau belum tertulis, tersurat dan tersirat, lalu, kalau bisa ditulis. Banyak yang telah dipelajari, pengalaman pun tidak kurang-kurang, nah untuk menuliskannya gunakan ”cara kampung”, tidak ribet, “tuangkan” menjadi tulisan. Jangan jadikan pikiran pusing dengan teori ini-itu. Dari menulis itu kita belajar, dan kalau perlu bangun teori baru, semisal Ersis Writing Theory he he.


Banyak orang terpedaya dongeng-dongeng tentang menulis, hingga waktu habis untuk memikirkannya. Menulis itu harus begini-begana, dan segudang hal lainnya. Bukan soal hal tersebut tidak penting, tetapi kalau belum menguasai teori bagaimana? Tidak menulis to?

Jangan sampai terjerat hal sedemikian. Saya, Ersis Warmansyah Abbas membangun Ersis Writing Theoey (EWT) berbasis menulis (melakukan). Dari melakukan itulah belajar menulis. Ingat, sehebat apa pun pengetahuan teoritis Sampeyan tentang menulis, kalau tidak menulis tidak akan dihasilkan tulisan. Apalagi, kalau hanya mengantang angan-angan tentang menulis yang hebat itu begini-begana. Lalu, kapan menulis Bro?

Jadi, terutama bagi pemula, jangan ganggu proses belajar, dengan melakukan menulis, dengan dongeng-dongeng tentang kesalahan menulis. Tulis dulu, setelah selesai ditulis dibaca, disigi kesalahannya, lalu perbaiki. Logika jangan dibalik, mengantang teori ini-itu, tetapi tulisannya tidak ada. Apa yang mau diperbaiki?

Mari lupakan teori menulis barang sejenak. Jangan nilai baikkah atau burukkah tulisan saya, direspon ataukah akan di-cuekin, mendapat honor atau dikembalikan redaktur media cetak. Lupakan hal tersebut. Fokus menulis, belajar menulis dengan menulis. Jangan becandalah, tulisannya belum ada, tetapi diskusi tentang tulisan yang belum ada tersebut lebih ramai dari Pasar Malam.

Kalau mau menulis, begitu lazim nasihat yang kita terima, mantapkan tujuannya, tentukan temanya, apa misinya, lengkapi bahannya, dan bla-bla. Tidak salah memang. Tetapi, coba dibalik. Jangan pikirkan apa yang akan ditulis, tuliskan yang ada di pikiran. Ruang diskusi di otak ditutup. Tidak usah lagi “bicara” tema, setting, alur, atau apalah begitu. Apalagi soal mood-mood segala rupa. Tulis saja. Setelah menjadi tulisan hal-hal tersebut akan terpindai.

Mula-mula mungkin terasa janggal. Aneh saja begitu. Namun, pengalaman saya membuktikan lain. Saya pernah meminta pelibat pelatihan EWT mengingat satu kata, dan dari kata itu menulis tentang menulis. Menulis tanpa persiapan berdarah-darah, santai saja.

Seperti dikemukakan terdahulu, sebenarnya di pikiran kita sudah banyak bahan. Tugas kita menenun, menjadikan puzzle tulisan yang indah. Bahan-bahan yang akan ditulis sudah bersemayam di otak, di pikiran kita. Apa pun yang kita pikirkan, begitu otak dioperasikan, apalagi merespon hal di luar diri, proses menulis di otak telah terjadi.

Kalau begitu, menulis itu mudah dong. Yes. Siapa bilang susah. Dan ini yang tidak kalah penting, menulis itu menyenangkan. Bagaimana kalau tulisan belum bagus? Banyak editor di negeri ini.

Lupakan sejenak teori, dan mari menulis tanpa beban, menulis bersenang-senang, menulis menyenangkan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (2.7): Lupakan Sejenak Teori"

Post a Comment