Ersis Warmansyah Abbas
Menulis hal keseharian bisa jadi dianggap lakuan hebat atau sebagai hal remeh-temeh. Biar saja, menulislah sesuai kemampuan. Artinya, dalam menulis jangan berdusta, mendustai diri.
DUSTA. Menulis aktivitas sangat mudah. Arswendo Atmowiloto membahasakan dengan: Menulis itu gampang. Pengalaman sharing menulis dengan banyak orang berujung dua katup bertentangan; mereka yang kesulitan menulis heran kenapa ada orang begitu mudah menulis, sementara yang terbiasa menulis, heran kenapa ada orang yang susah menulis. Bagaimana halnya?
Tahun 2007 saya menerbitkan buku Menulis Sangat Mudah yang telah dicetak ulang. Menulis mudah? Ya, iyalah. Menulis itu mudah manakala yang ditulis apa yang ada di pikiran, apa yang dipikirkan. Menulis itu mudah apabila yang ditulis yang dialami. Misalnya seseorang belajar nasionalisme hingga paham apa itu nasionalisme lalu menuliskannya sebagaimana ia pahami, ya mudahlah.
Ya, apa yanng ditulis yang ada di pikirannya, apa yang dipikirkan. Menulis, sebenarnya mengetik apa yang ada di pikiran sungguh sangat mudah. Manakala seseorang sedih atau gembira, wilayah perasaan, pastilah mudah menuliskannya. Apalagi menuliskan apa yang dilakukan, dialami. Contohnya serial menulis liburan yang Sampeyan baca ini sebagai bab khusus prihal menulis. Mudah ditulis karena ditulis dari apa yang dilakukan. Bahkan, bukan mudah lagi, sangat mudah malahan. Lalu, kenapa menulis menjadi susah?
Saya suka mencontohkan hal konkret, katakanlah kemandulan dosen dan guru menuliskan apa yang diajarkan tiap semester, berlaku dari tahun ke tahun. Pertanyaannya kenapa begitu susah menuliskan yang didongengkan dari tahun ke tahun? Jawaban reflektifnya: Apa yang didongengkan dosen dan guru —yang tidak berkemampuan menulis buku ajar, padahal didongengkan puluhan tahun— adalah karena apa yang ada di pikirannya adalah pikiran orang lain. Buku orang, teori orang, penelitian orang, bahkan ‘cara berpikir’ orang.
Halnya akan berbeda manakala pikiran, penelitian, pengalaman orang lain ‘dicerna’ dan dijadikan pengetahuan baru di ranah otak dengan formulasi sendiri. Membaca dan menghapal pikiran orang lain lalu menyampaikan sebagaimana orang tersebut berpikir, ya susah manakala ditulis.
Contoh sederhananya, pada buku-buku ditulis penemu benua Amerika adalah Christoper Columbus, sekalipun dia membaca dan mengetahui penemunya Americo Peppusi (salah eja kali he he), tetap saja didongengkan Columbus. Begitu menurut buku, begitu menurut guru terdahulu. Susah merubahnya. Memapan di pikiran. Begitu didongengkan guru. Masyak guru salah. Percaya pada guru, please.
Menulis serial tulisan liburan keluarga sebagaimana dibaca terdahulu, bagi saya soal sederhana saja. Kenapa? Menulis apa yang dialami, dan atau, pantikan pikiran dari apa yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan. Menulis apa yang ada di diri, pengalaman diri, ya mudahlah. Lakuan menulis sangat mudah.
Dalamnya terkandung, apabila menulis berkelebihan atau banyak dustanya, imajinasi lebih menguasai dibanding fakta (apa yang dialami) tentu berbuah kesulitan. Tapi, manakala ‘apa adanya’, ya mudahlah.
Orang-orang bodoh menulis adalah mereka yang mengangankan apa yang jauh di luar jangkauannya. Menulis apa yang diketahui ibarat kencing. Begitu kandung kemih menuntut cur, pergi ke WC air kencing lancar. Mudah.
Bayangkan kesusahan seorang mahasiswa memaknai Kekhalifahan Turky Usmani atau kenapa Pluto dikeluarkan dari anggota planet oleh astronom di Praha, pada 24 Agustus 2006, ya karena pengetahuan tentang itu belum cukup. Membaca banyak tulisan tentang Aristoteles, Socrates, Rene Descartes, Marx, sampai Huntington yang ditulis para pemula, terkadang menimbulkan tertawa. Pengetahuan belum cukup kok nekat.
Karena itulah, dalam menulis tulislah apa yang dipahami, setidaknya sebagaimana dipahami, menulis apa yang dialami.
Biar saja dianggap bukan penulis hebat —dan memang begitu— sebab hanya menulis hal-hal yang dialami. Bagaimana saya menulis ‘pengetahuan’ Albert Einstein atau ‘pengalaman’ Susilo Bambang Yudhoyono wong tidak paham? Kalau menulis apa yang dialami atau yang dipelajari, ya mudahlah.
Menulis hal keseharian bisa jadi dianggap orang-orang hebat sebagai menulis remeh-temeh. Biar saja, sesuai kemampuan. Misalnya kepada saya dituntut menulis sehebat Robert T. Kiyosaki atau Gunawan Mohammad, tentu tidak mungkin. Kenapa Kiyosaki atau Mas Gun begitu bagus menulis? Ya, karena sesuai dirinya, sesuai kemampuannya.
Artinya, dalam menulis jangan berdusta, mendustai diri. Punya pengalaman berpacaran? Tulis. Mana tahu menarik untuk dibaca orang karena bermuatan pelajaran dan hikmah. Tulis saja, pasti bisa. Pengalaman sendiri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (3.5) : Menuliskan Pengalaman"
Post a Comment