Thursday, 8 December 2016

Menulis (3.4): Tak Tamat SD Tak Mengapa

Ersis Warmansyah Abbas
Susah mencari orang yang pernah bersekolah tetapi tidak mengenal (nama) Taufik Ismail. Kenapa Taufik Ismail terkenal? Karena dia menulis. Taufik Ismail alumnus IPB, tetapi sangat hebat menulis puisi. Taufik Ismail menulis puisi yang baik, bukan (hanya) mempelajari teorinya.
DOKTOR. Pada suatu sharing menulis, seorang peserta menyoal, setengah protes setengah meminta penjelasan: “Bagi Bapak tentu tidak susah menulis. Bapak dosen, Doktor pula. Kami kan baru menjadi mahasiswa”.

Pertanyaan-pertanyaan sedemikian dalam berbagai sharing menulis, atau pada berbagai kesempatan lain, dengan bahasa berbeda sangat sering disampaikan kepada saya. Sampai-sampai pertanyaan tersebut saya pertanyakan: Kenapa ada pertanyaan sedemikian? Ya, apa hubungan paten antara dosen dengan menulis? Karena seseorang menjadi dosen lalu mudah menulis, menjadi penulis? Atau, karena seseorang bergelar doktor lalu mudah menulis, menjadi penulis?

Perhatikan dosen-dosen, atau bagi yang tidak kuliah, guru-guru Sampeyan? Memang, antara profesi dosen dengan aktivitas menulis sangat erat kaitannya. Kalau seorang dosen tidak menulis (ilmiah) mustahil dia naik pangkat karena tidak mendapatkan cum. Begitu juga guru, banyak guru yang tidak bisa naik pangkat karena tidak didukung karya ilmiah. Tetapi, apakah semua dosen menulis (buku ajar) materi mata kuliah yang diajarkannya?

Dipastikan kebanyakan tidak. Berbagai alasan tersedia sebagai pembenarnya. Tetapi, hal tersebut bukanlah pokok pembahasan tulisan ini. Kalau berkehendak menulis, tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan atau gelar akademik.

Saya mempunyai pengalaman lucu. Suatu kali saya dipanggil petinggi kampus dan ditugaskan sebagai editor untuk buku yang digadang-gadang sebagai penanda hebat para Doktor menulis. Tidak lupa disodorkan kepada saya konsep dasar buku tersebut, dan ini hebatnya, tema telah ditentukan dan siapa menulis apa pun telah ditentukan. Sebagai orang yang suka menulis semangat saya terpantik. Wuaw, sungguh perencanaan bagus dalam lakuan menulis bersama. Lancar?

No, way. Petinggi kampus yang berambisi menampilkan karya para dosen yang bergelar doktor, sebagai penghargaan sekaligus ‘pamer’ bahwa banyak doktor ‘dimiliki’ kampus, eit kecele. Apa hendak dikata, sekitar separoh saja yang mengirim tulisan, lebih banyak yang mengirim alasan. Itu pun petinggi kampus sebagai penggagas telah bertindak bak debt collector sekaligus bak pengemis. Ternyata tidak mudah.

Pencapaian (gelar) akademik secara teoritik menjadikan peraihnya lebih mudah dan lebih kreatif menulis. Tetapi, kenyataan empirik tidak harus seirama dengan teoritik bukan? Tanyakan kepada para penulis hebat, mereka menulis, apalagi menulisnya sebelum mendapatkan gelar apa pun, tidak menyangkutpautkan menulis dengan perolehan gelar. Tidak sedikit penulis hebat yang bukan lulusan pendidikan (formal), apalagi bergelar ini-itu.

Seorang teman, mengapresiasi ketika temannya menulis di media cetak tanpa memakai gelar akademik. Katanya, ada teman yang memakai gelar-gelarnya ketika menulis di media cetak, eit logikanya rancu. Saya tidak menanggapi, karena berprinsip, lebih penting menulisnya.

Lagi pula, saya menulis bukan setelah mendapatkan gelar Doktor. Sejak kelas lima SR (Sekolah Rakyat), telah menulis dengan model anak SR (SD). Menulis karena ada pantikan pikiran, oi kalau ditulis bagus tu.

Simpulannya, kalau berkehendak menulis, ya menulis. Tulis. Tidak usah disangkut-sangkutkan dengan gelar, umur, tinggal dimana, atau anak siapa. Menulis kalau dilakukan hasilnya tulisan. Titik.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.4): Tak Tamat SD Tak Mengapa"

Post a Comment