Thursday, 8 December 2016

Menulis (3.3): Memilih Bersoal atau Menulis?

Ersis Warmansyah Abbas
Mendengar orang berbicara, ‘bertengkar’ dengan argumen hebat terlihat hebat, hal biasa dalam kehidupan. Banyak orang hebat berargumen. Sekalipun demikian, memilih menulis kiranya tidak salah bukan?
OMDO. Berdebat, berdiskusi, bertengkar, adu pendapat, bersoal atau mempersoalkan sesuatu hal biasa saja dalam kehidupan. Pada praktiknya, terkadang saya suka adu argumen mendiskusikan sesuatu. Mendiskusikan sesuatu dengan ”sikap’’ bodoh, tidak paham, atau berlagak paling mengerti agar didebat untuk mendapat “kepastian” sebagai bahan untuk ditulis.

Kalau bertemu teman baru, apalagi teman lama, suka mendiskusikan sesuatu. Adakalanya “tembak langsung” dalam artian menyalahkan yang berakibat Si Teman memberi argumen sehebat mungkin, lalu meramunya, dan jadilah tulisan. Adakalanya, diam sembari mengangguk-anggukkan kepala. Ada teman yang paham: “Hati-hati, EWA lagi nyadap tu, bisa-bisa besok muncul di koran.”

Terkadang, merasa bersalah juga dengan perilaku iseng tersebut. Pernah, saya digurui oleh seorang teman tentang penelitian kualitatif. Saking dia “berlagak” hebat, dia lupa bahwa sebelum melakukan penelitian (kualitatif) untuk disertasi, saya telah membaca puluhan buku, dibimbing Prof. Dr. yang berkeahlian akademik. Sebagai dosen pengampu mata kuliah penelitian. Artinya, punyalah sedikit pengetahuan teoritik penelitian kualitatif.

Hayya, sekalipun argumennya cenderung ngawur, saya mengangguk-angguk saja. Minimal mendapat gambaran betapa seorang yang menggambarkan dirinya hebat, ternyata begitu dungunya. Dapat deh gua bahan tulisan sekaligus introspeksi diri, berlagak hebat itu bak tong kosong nyaring bunyinya. Lebih penting, menjadi bahan tulisan he he.

Itu pulalah sebabnya, saya lebih memilih menulis dibanding bertengkar, apalagi sekadar memperlihatkan kehebatan dengan omong doang. Kata teman-teman, saya cenderung bicara apa adanya, tanpa basa-basi, kasar, dan tanpa unggah-ungguh, tidak mempertimbangkan perasaan orang lain. Entahlah.

Apa pun itu, saya lebih memilih menulis. Saya kagum dengan mereka yang retorikanya hebat atau terheran-heran dengan mereka yang hebat berbicara, tidaklah menjadikan saya Si Jago Bicara. Berteman dengan mereka yang hebat berbicara berarti dibentangkan jalan untuk menulis. Cerna apa yang dibicarakan, rakit, poles, dan jadilah tulisan.
Pada tingkat lebih menggelikan, pernah pula seseorang mengomentari tulisan saya dengan semangat membantai, setelah memuji kehebatan membantainya saya anjurkan: “Mas, kalau apa yang Sampeyan bicarakan tersebut ditulis, bisa jadi puluhan ribu pembaca juga akan beruntung.”

Mereka yang piawai “mendongeng”, apalagi pencela, biasanya mengalami ejakulasi dini menulis. Kalau iseng lagi muncul saya anjurkan, tulis apa yang Sampeyan bicarakan tersebut dan mari kita edit bersama. Saya pastikan, hasilnya bagus.”

Jago omong bila diajak menulis biasanya membentengi diri dengan beragam alasan. Kalau didesak, dia akan minta izin karena ada hal penting yang harus dikerjakannya. Tukang omong galibnya menghasilkan polusi kata-kata.

Sebaliknya, apabila mengambil jalan menulis, bukanlah pekerjaan mudah. Kecuali, apabila Sampeyan mau menempatkan diri sebagai Si Bodoh. Si Bodoh dalam arti orang yang mau belajar dan membelajarkan diri sepanjang waktu. Dalam katup demikian, menulis adalah proses belajar, pembelajaran diri.

Sebab, sebelum menulis, pada proses menulis, bahkan setelah tulisan menjadi, kita menggali informasi, mengolah, dan mengevaluasi. Manakala membusungkan dada sembari bersikukuh, saya Si Hebat, maka proses pembelajaran terhenti. Kalau demikian adanya, proses pembelajaran mengalami involusi, dan kemudian menulisnya mandek.
Jadi, mari tinggalkan berdebat, setidaknya mengurangi bersoal, apalagi mencela. Tempatkan diri sebagai pembelajar, pembelajar menulis. Hasilnya dapat dipastikan, tulisan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (3.3): Memilih Bersoal atau Menulis?"

Post a Comment