Friday, 9 December 2016

Menulis (1.3): Menjinakkan Kesombongan

Ersis Warmansyah Abbas

Suatu kali saya mendapat pasien, gimana gitu. Berkali-kali dia mengutarakan kehendak menulis, berkali-kali berkonsultasi, dan tetap tidak menulis. “Mbak, Sampeyan perbanyak membaca, rajin bepergian, dan amati apa yang dilihat. Untuk pemerolehan kosakata, beli Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Anjuran saya tidak diindahkannya.

TIDAK dapat tidak, orang ini sombong. Bagaimana tidak. Pengetahuannya cekak, diminta membaca buku anu buku itu, tidak dilakukan. Disuruh membeli KBBI agar penguasaan kosakata memadai, yang diutarakannya alasan. Kalau alasan yang ditegakkan berarti dia menutup diri untuk belajar. Tidak mau belajar. Kalau demikian, pasti mengembangan kemampuan mandek menulis. Basik menulis adalah pengetahuan.
 
Si Mbak, karena tidak mau belajar berarti menganggap dirinya hebat alias sombong. Tidak kontributif bagi pengembangan kemampuan menulis. Ada orang yang tidak sadar sombong diri dan melawan esensi menulis dengan keinginan menulis tetapi menafikannya sebagai proses pembelajaran. “Gua ini sarjana, lho?”.

Waduh, tentu dia tidak paham. Tidak ada signifikansi korelasional antara gelar akademik dengan karya tulisan. Mereka yang pengetahuannya cekak, mereka yang berpengetahuan luas dan sarat pengalaman kalau tidak melakukan (menulis) tidak akan fasih menulis. Dalam melakukan tersebut proses pembelajaran berlangsung. Profesor dan doktor sekalipun kalau tidak menulis tidak akan menghasilkan tulisan.
 
Bayangkan, orang berpengetahuan cekak sombong, tidak mau belajar, bagaimana dia akan berhasil memenuhi kehendak menulisnya? Mustahil. Padahal, dari apa yang kita tulis kita belajar. Oh, tulisanku kurang ini kurang itu, bahannya kurang, logikanya tidak benar. Karena itu, gua harus memperbanyak belajar. Begitu seharusnya. Begitu sikap pembelajar.

Esensi menulis belajar. Ketika seseorang geram melihat libido sementara orang untuk korupsi, dia ingin menulis, apakah sekadar untuk menumpahkan kegeraman atau menawarkan ide agar korupsi tidak semakin merajalela. Untuk itu dia membaca referensi, apa itu definisi korupsi, kenapa digemari, bagaimana solusinya, dan bla-bla.

Setelah pengetahuannya memadai, otaknya didayagunakan, dan hasil pendayagunaan otak tersebut dituliskan. Tulisan tersebut dibaca dan ditimbang, yang kurang ditambahi, yang lebih dikurangi hingga menjadi tulisan bermanfaat. Proses demikian pembelajaran diri.

Atau contoh yang lebih ringan. Seseorang ingin menulis buku, tetapi tidak fasih menggunakan komputer, ya harus belajar menggunakan komputer. Kecuali, kalau dia mau menulis memakai pensil atau pena, namun penerbit sekarang mana mau menerima naskah tulisan tangan. Kalau tidak mau belajar, membelajarkan dirinya, ya penerbit pasti enggan menerima. Sombong dengan kemampuan diri yang apa adanya ujung-ujungnya merugikan diri sendiri. Bukan ciri penulis.

Begitulah. Dari hulu sampai ke hilir, kalau berkehendak menulis, apalagi menjadi penulis, harus belajar. Lagi pula, yang namanya pengetahuan seperti juga teknologi terus berkembang. Arus kemajuan tersebut harus dikuasai dengan membelajarkan diri. Dan, di dunia serba kompetitif ini, alasan ini-itu tidak ada manfaatnya.
Jadi, ingin menulis? Belajarlah. Belajarkan diri. Pelajari apa yang dapat dipelajari, tulis apa yang dapat ditulis. Jangan sombong diri. Sombong diri musuh utama menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (1.3): Menjinakkan Kesombongan"

Post a Comment