Ersis Warmansyah Abbas
Suatu kali saya mendapat pasien, gimana gitu. Berkali-kali dia
mengutarakan kehendak menulis, berkali-kali berkonsultasi, dan tetap
tidak menulis. “Mbak, Sampeyan perbanyak membaca, rajin bepergian, dan
amati apa yang dilihat. Untuk pemerolehan kosakata, beli Kamus Besar
Bahasa Indonesia”. Anjuran saya tidak diindahkannya.
TIDAK dapat tidak, orang ini sombong. Bagaimana tidak. Pengetahuannya
cekak, diminta membaca buku anu buku itu, tidak dilakukan. Disuruh
membeli KBBI agar penguasaan kosakata memadai, yang diutarakannya
alasan. Kalau alasan yang ditegakkan berarti dia menutup diri untuk
belajar. Tidak mau belajar. Kalau demikian, pasti mengembangan kemampuan
mandek menulis. Basik menulis adalah pengetahuan.
Si Mbak, karena tidak mau belajar berarti menganggap dirinya hebat alias
sombong. Tidak kontributif bagi pengembangan kemampuan menulis. Ada
orang yang tidak sadar sombong diri dan melawan esensi menulis dengan
keinginan menulis tetapi menafikannya sebagai proses pembelajaran. “Gua
ini sarjana, lho?”.
Waduh, tentu dia tidak paham. Tidak ada signifikansi korelasional
antara gelar akademik dengan karya tulisan. Mereka yang pengetahuannya
cekak, mereka yang berpengetahuan luas dan sarat pengalaman kalau tidak
melakukan (menulis) tidak akan fasih menulis. Dalam melakukan tersebut
proses pembelajaran berlangsung. Profesor dan doktor sekalipun kalau
tidak menulis tidak akan menghasilkan tulisan.
Bayangkan, orang berpengetahuan cekak sombong, tidak mau belajar,
bagaimana dia akan berhasil memenuhi kehendak menulisnya? Mustahil.
Padahal, dari apa yang kita tulis kita belajar. Oh, tulisanku kurang ini
kurang itu, bahannya kurang, logikanya tidak benar. Karena itu, gua
harus memperbanyak belajar. Begitu seharusnya. Begitu sikap pembelajar.
Esensi menulis belajar. Ketika seseorang geram melihat libido
sementara orang untuk korupsi, dia ingin menulis, apakah sekadar untuk
menumpahkan kegeraman atau menawarkan ide agar korupsi tidak semakin
merajalela. Untuk itu dia membaca referensi, apa itu definisi korupsi,
kenapa digemari, bagaimana solusinya, dan bla-bla.
Setelah pengetahuannya memadai, otaknya didayagunakan, dan hasil
pendayagunaan otak tersebut dituliskan. Tulisan tersebut dibaca dan
ditimbang, yang kurang ditambahi, yang lebih dikurangi hingga menjadi
tulisan bermanfaat. Proses demikian pembelajaran diri.
Atau contoh yang lebih ringan. Seseorang ingin menulis buku, tetapi
tidak fasih menggunakan komputer, ya harus belajar menggunakan komputer.
Kecuali, kalau dia mau menulis memakai pensil atau pena, namun penerbit
sekarang mana mau menerima naskah tulisan tangan. Kalau tidak mau
belajar, membelajarkan dirinya, ya penerbit pasti enggan menerima.
Sombong dengan kemampuan diri yang apa adanya ujung-ujungnya merugikan
diri sendiri. Bukan ciri penulis.
Begitulah. Dari hulu sampai ke hilir, kalau berkehendak menulis,
apalagi menjadi penulis, harus belajar. Lagi pula, yang namanya
pengetahuan seperti juga teknologi terus berkembang. Arus kemajuan
tersebut harus dikuasai dengan membelajarkan diri. Dan, di dunia serba
kompetitif ini, alasan ini-itu tidak ada manfaatnya.
Jadi, ingin menulis? Belajarlah. Belajarkan diri. Pelajari apa yang dapat dipelajari, tulis apa yang dapat ditulis. Jangan sombong diri. Sombong diri musuh utama menulis.
Jadi, ingin menulis? Belajarlah. Belajarkan diri. Pelajari apa yang dapat dipelajari, tulis apa yang dapat ditulis. Jangan sombong diri. Sombong diri musuh utama menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (1.3): Menjinakkan Kesombongan"
Post a Comment