Friday, 9 December 2016

Menulis (1.2): Menulis Menumpahkan Pengetahuan

Ersis Warmansyah Abbas
Menimbun pengetahuan memanfaatkan pancaindra merupakan modal menulis. Tanpa pengetahuan memadai sangat sulit bagi seseorang untuk menulis yang baik. Pengetahuan memadai memudahkan pengoperasian otak dan memformulasikan konsep yang akan “dituangkan” menjadi tulisan.
TAMAN ITB. Mendung siang itu, di taman ITB, semakin menyejukkan. Pengurus GPM Bandung mengundang saya untuk sharing menulis buku. Pengurus telah mengumpulkan 30 (tiga puluh) tulisan. Separohnya pantas menjadi bagian calon buku. Selebihnya? Tidak memenuhi syarat. Ada apa?
 
Ada tulisan yang ditulis sekadar ditulis alias pengetahuan penulis tidak memadai. Saya maklum, ada anak SD atau ibu rumah tangga yang baru pertama menulis. Ringkas kisah, seorang peserta, anak SD —anggota GPM termuda— diminta mengamati taman. Perhatikan, berapa jumlah pohon, pohon apa saja, bunga apa saja, dan berapa pengunjung. Ingat, taman ini berada di sebelah masjid Salman ITB dan, lihat mobil lalu lalang di jalan seputar taman. Jangan lupa ”merasakan” betapa nikmatnya di taman ini.

Si Anak SD menggunakan matanya untuk melihat, memanfaatkan otaknya untuk mencerna dan merekam apa yang dipindai pancaindranya. “Sudah?” tanya saya sepuluh menit kemudian. Kami diskusikan yang ”didapatnya.” OK, pukul 22.00 WIB tulisanmu diposting di laman GPM Bandung.

Saudara-saudara sekalian. Si Anak SD memposting tulisannya dan sangat bagus untuk ukuran anak SD. Saya bangga. Mudah-mudahan, nanti menjadi penulis lahiran GPM. Menulis apa yang dia kuasai, apa-apa yang dipindai pancaindranya, diolah dan disimpan di otak. Jadilah tulisan menarik.

Tugas berikutnya, mengembangkan imajinasi. Tulisan berdasarkan imajanisi tidak kalah seru manakala basik pengetahuan memadai, atau gabungan antara fakta dan imajinasi. Menulis tanpa pengetahuan sesuatu yang mustahil.

Kepada teman-teman anggota GPM Bandung diminta agar mencatat tentang jalan Braga, Taman lalu Lintas, Bumi Siliwangi, Cikapundung sampai kawasan Cibaduyut. Ketua GPM Bandung mendistribusikan tugas. Seorang ibu bertanya: “Bapak kok paham tentang Bandung?”
“Bu”, kata saya, “kemana pun pergi ke bagian Bandung selalu dicatat di otak. Dan, sebelum ke sini saya mengingat lebih serius setelah berselancar di internet. Untuk mencari tahu letak Taman ITB saya mencari informasinya di internet. Jadi, tidak perlu bertanya.”

Ya, menulis paling mudah menuliskan apa yang ada di otak berdasarkan apa yang dipindai pancaindra, seperti juga pengalaman. Pada contoh di atas, anak SD saja berhasil. “Mustahil teman-teman menulis sesuatu tanpa mengetahui sesuatu tersebut. Jadi, pelajari terlebih dahulu apa yang akan ditulis”. Peserta sharing mengangguk-angguk dan semoga mereka melakukan riset kecil-kecilan sebelum menulis. Menulis menuangkan pengetahuan.

Pengalaman sharing dengan banyak penulis pemula membawa kepada simpulan, kemandekan menulis terkarena basik pengetahuan tidak memadai. Ada pantikan menulis, langsung ditulis. Baru menulis satu-dua alinea mandek. Terang saja, sebab pengetahuan pendukungnya tidak memadai. Kekerdilan pengetahuan tidak terpindai, dan ketika menulis berikutnya terulang lagi. Jadilah, kebiasaan buruk yang berakibat tulisan tidak pernah tuntas.

Menimbun pengetahuan memanfaatkan pancaindra, bisa jadi lebih mudah dengan membaca, dan lebih afdol gabungan keduanya. Akan mematen manakala dengan mengoperasikan otak secara serius alias menjadikannya konsep. Konsep tersebut disimpan di otak. Dan, manakala ada kehendak menulis, ya ditulis. Memang, kalau sudah fasih menulis, sekelabat melihat atau merasakan sesuatu, ide bisa dikembangkan dan langsung ditulis. Tetapi, tidak bagi pemula. Pemula harus berlatih.

Dalam bahasa lebih kasar, kalau isi otak kosong, atau katakanlah informasi yang akan ditulis terbatas, bagaimana mungkin akan dihasilkan tulisan bagus. Dan, kenapa terjadi ejakulasi menulis? Satu diantara penyebabnya, otak yang ”kosong” atau tidak cukup informasi yang akan diolah atau karena tidak memadainya pengetahuan.

Jadi, kalau ingin menulis sesuatu, cukupkan informasi tentang sesuatu tersebut, olah di otak, dan tumpahkan. Menulis menumpahkan pengetahuan. Tanpa pengetahuan, ”tong kosong nyaring bunyinya”, tetapi tidak akan menjadi tulisan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (1.2): Menulis Menumpahkan Pengetahuan"

Post a Comment