Ersis Warmansyah Abbas
Menimbun pengetahuan memanfaatkan pancaindra merupakan modal menulis. Tanpa pengetahuan memadai sangat sulit bagi seseorang untuk menulis yang baik. Pengetahuan memadai memudahkan pengoperasian otak dan memformulasikan konsep yang akan “dituangkan” menjadi tulisan.
TAMAN ITB. Mendung siang itu, di taman ITB, semakin menyejukkan.
Pengurus GPM Bandung mengundang saya untuk sharing menulis buku.
Pengurus telah mengumpulkan 30 (tiga puluh) tulisan. Separohnya pantas
menjadi bagian calon buku. Selebihnya? Tidak memenuhi syarat. Ada apa?
Ada tulisan yang ditulis sekadar ditulis alias pengetahuan penulis tidak
memadai. Saya maklum, ada anak SD atau ibu rumah tangga yang baru
pertama menulis. Ringkas kisah, seorang peserta, anak SD —anggota GPM
termuda— diminta mengamati taman. Perhatikan, berapa jumlah pohon, pohon
apa saja, bunga apa saja, dan berapa pengunjung. Ingat, taman ini
berada di sebelah masjid Salman ITB dan, lihat mobil lalu lalang di
jalan seputar taman. Jangan lupa ”merasakan” betapa nikmatnya di taman
ini.
Si Anak SD menggunakan matanya untuk melihat, memanfaatkan otaknya
untuk mencerna dan merekam apa yang dipindai pancaindranya. “Sudah?”
tanya saya sepuluh menit kemudian. Kami diskusikan yang ”didapatnya.”
OK, pukul 22.00 WIB tulisanmu diposting di laman GPM Bandung.
Saudara-saudara sekalian. Si Anak SD memposting tulisannya dan sangat
bagus untuk ukuran anak SD. Saya bangga. Mudah-mudahan, nanti menjadi
penulis lahiran GPM. Menulis apa yang dia kuasai, apa-apa yang dipindai
pancaindranya, diolah dan disimpan di otak. Jadilah tulisan menarik.
Tugas berikutnya, mengembangkan imajinasi. Tulisan berdasarkan
imajanisi tidak kalah seru manakala basik pengetahuan memadai, atau
gabungan antara fakta dan imajinasi. Menulis tanpa pengetahuan sesuatu
yang mustahil.
Kepada teman-teman anggota GPM Bandung diminta agar mencatat tentang
jalan Braga, Taman lalu Lintas, Bumi Siliwangi, Cikapundung sampai
kawasan Cibaduyut. Ketua GPM Bandung mendistribusikan tugas. Seorang ibu
bertanya: “Bapak kok paham tentang Bandung?”
“Bu”, kata saya, “kemana pun pergi ke bagian Bandung selalu dicatat
di otak. Dan, sebelum ke sini saya mengingat lebih serius setelah
berselancar di internet. Untuk mencari tahu letak Taman ITB saya mencari
informasinya di internet. Jadi, tidak perlu bertanya.”
Ya, menulis paling mudah menuliskan apa yang ada di otak berdasarkan
apa yang dipindai pancaindra, seperti juga pengalaman. Pada contoh di
atas, anak SD saja berhasil. “Mustahil teman-teman menulis sesuatu tanpa
mengetahui sesuatu tersebut. Jadi, pelajari terlebih dahulu apa yang
akan ditulis”. Peserta sharing mengangguk-angguk dan semoga mereka
melakukan riset kecil-kecilan sebelum menulis. Menulis menuangkan
pengetahuan.
Pengalaman sharing dengan banyak penulis pemula membawa kepada
simpulan, kemandekan menulis terkarena basik pengetahuan tidak memadai.
Ada pantikan menulis, langsung ditulis. Baru menulis satu-dua alinea
mandek. Terang saja, sebab pengetahuan pendukungnya tidak memadai.
Kekerdilan pengetahuan tidak terpindai, dan ketika menulis berikutnya
terulang lagi. Jadilah, kebiasaan buruk yang berakibat tulisan tidak
pernah tuntas.
Menimbun pengetahuan memanfaatkan pancaindra, bisa jadi lebih mudah
dengan membaca, dan lebih afdol gabungan keduanya. Akan mematen manakala
dengan mengoperasikan otak secara serius alias menjadikannya konsep.
Konsep tersebut disimpan di otak. Dan, manakala ada kehendak menulis, ya
ditulis. Memang, kalau sudah fasih menulis, sekelabat melihat atau
merasakan sesuatu, ide bisa dikembangkan dan langsung ditulis. Tetapi,
tidak bagi pemula. Pemula harus berlatih.
Dalam bahasa lebih kasar, kalau isi otak kosong, atau katakanlah
informasi yang akan ditulis terbatas, bagaimana mungkin akan dihasilkan
tulisan bagus. Dan, kenapa terjadi ejakulasi menulis? Satu diantara
penyebabnya, otak yang ”kosong” atau tidak cukup informasi yang akan
diolah atau karena tidak memadainya pengetahuan.
Jadi, kalau ingin menulis sesuatu, cukupkan informasi tentang sesuatu
tersebut, olah di otak, dan tumpahkan. Menulis menumpahkan pengetahuan.
Tanpa pengetahuan, ”tong kosong nyaring bunyinya”, tetapi tidak akan
menjadi tulisan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (1.2): Menulis Menumpahkan Pengetahuan"
Post a Comment