Ersis Warmansyah Abbas
Tidak diragukan lagi, apa pun motifnya, banyak orang berkehendak menulis dan tidak semua berhasil menjadi penulis. Apa pun itu, menulis menjadi dambaan berjuta-juta orang. Lalu, kenapa ada yang sukses dan banyak yang ‘tergeletak’ sehingga menulis sebatas angan-angan belaka?
PENULIS produktif terkesan menulis begitu mudahnya. Padahal,
keterampilan menulis tidak diperoleh begitu saja. Sebab, menulis
memerlukan pengetahuan, pengalaman, tekad, latihan, dan seterusnya. Dan,
ini paling penting, menulis melakukan. Dalilnya, manakala seseorang
tidak menulis dipastikan dia tidak akan menghasilkan tulisan.
Pada kenyataannya, jutaan orang berkehendak menulis, tetapi tulisannya
tidak menjadi. Berjuta-juta pula yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman memadai, tetapi tidak menjadi tulisan. Bahkan, ada yang
mempelajari teori atau seluk-beluk menulis sampai ke perguruan tinggi,
tetapi mandul menulis. Tidak sepadan dengan ilmunya. Apakah menulis
demikian susahnya?
Tidak sedikit orang yang tidak mempelajari teori menulis, tetapi
tulisannya bagus. Perbincangan dengan Andrea Hirata, masih tergiang di
telinga saya. “Ndre”, tanya saya pada suatu perbincangan, “Kamu hebat.
Saya kagum membaca pendeskripsian pengangkatan perahu dalam Laskar
Pelangi, dan terbahak-bahak membaca taruhan menyambut durian dengan
telapak tangan.” Jawaban Andrea lebih seru.
Kata Andrea, setelah Laskar Pelangi popular, seseorang bertanya:
”Bagaimana memilih diksi demikian hebat?” Jawabnya: “Saya tidak tahu apa
itu diksi, tidak paham apa itu majas.” Setelah menulis novel, Andrea
mempelajari apa itu diksi, apa itu majas, dan seterusnya. Bahkan,
sekolah menulis ke Iowa University. Jangan-jangan setelah itu Andrea
tidak mampu lagi menulis novel sehebat Laskar Pelangi. Kita lihat saja
buktinya.
Testimoni Andrea, menulis Laskar Pelangi sebagai janji hatinya kepada
Bu Muslimah. Tentu, diperlukan waktu bertahun-tahun, bahkan setelah
pengembaraannya yang panjang selepas SD Muhammadiyah Belitung barulah
terpenuhi janji tersebut. Muatan pesannya, ada kehendak dibalut tekad
kuat dari dalam diri. Sebaliknya, manakala seseorang ingin menulis sesuatu dengan kehendak
tidak jelas, tujuannya abu-abu, atau tidak mau memenuhi persyaratannya,
manalah mungkin mampu menulis sesuatu. Sekadar mimpi doang.
Tepatnya, mindset harus dibenahi terlebih dahulu. Kalau menulis
dengan tekad setengah-setengah bukan karya tulis yang menjadi, tetapi
tulisan setengah jadi. Pada banyak kasus, menjadi tulisan satu atau dua
alinea. Maunya menulis novel, mana ada novel sealinea. Maunya menulis
buku, kalau baru menulis beberapa halaman. Tulisan yang tidak selesai
bukanlah tulisan, novel yang tidak tuntas, bukanlah novel. Buku yang
ditulis beberapa halaman bukanlah buku. Tulisan sepenggal lebih buruk
dari lamunan.
Menulis bukan angan-angan tidak impian. Bahwa, tulisan hebat bisa
jadi berasal dari angan-angan atau impian, mungkin saja. Melakukan
(menulis) berarti mampu mengenyahkan kendala-kendalanya. Tidak beralasan
atau berkilah. Bukan munafik. Maunya menulis novel yang dibiasakan
mengomentari novel atau mencaci novel orang tentu tidak berhubungkait
dengan menulis novel.
Menulis bukan pekerjaan main-main. Ada persyaratan pendukungnya.
Mustahil mereka yang tidak memiliki pengetahuan tentang DNA menulis
tentang rangkaian DNA. Mustahil orang yang tidak pernah memikirkan
lingkungan hidup hebat menulis tentang lingkungan hidup. Hil yang
mustahal.
Menulis bukan sekadar melakukan, tetapi melakukan dengan cerdas.
Kebiasaan buruk penulis gagal, dimulai ketika ada pantikan ide, lalu
menulis. Padahal, dukungan informasi, pengetahuan dan pengalamannya,
belum memadai. Kalau demikian, jelas saja, menulis satu dua kalimat,
satu dua alinea, lalu mandek. Tidak mengukur bayang-bayang. Lalu,
bagaimana memula menulis?
Tulis apa yang ada di pikiran, tulis apa yang telah dipikirkan, tulis
apa yang telah ditulis di otak. Bukan memikirkan apa yang akan ditulis.
Berpikirlah sebelum menulis. Tulisan ”buah” berpikir, bukan hasil
memikirkan yang bukan-bukan. Believe it or not.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (1.1): Menulis Membenahi Berpikir"
Post a Comment