MEMORI. Kehidupan era modern, era komputer, ketika saya masih kecil, jangankan membayangkan akan tergantung kepada peralatan canggih tersebut, terlintas di pikiran saja tidak. Dalam menulis misalnya, ketika era komputer XT, duh gembiranya beralih dari mesin ketik. Tidak ada lagi kletak-kletok, tidak ada lagi tipex. Menulis menjadi mudah. Anak-anak yang lahir tahun 2000 ke atas bisa jadi menganggap mesin ketik sebagai benda museum.
Kini, kapasitas komputer dengan daya simpan ratusan gigabyte (GB) dengan kecepatan kerja luar biasa. Proses komputer sekarang sudah berkadar i7. Bagaimana kehidupan manusia beribu-ribu tahun, apalagi jutaan tahun lagi, sungguh tidak terbayangkan. Bisa jadi, era Transformer atau Avatar bukanlah sajian film saja. Komputer, betapapun tangguhnya adalah ciptaan ‘otak’ manusia, hasil pikir manusia. Sebaliknya. komputer tidak akan mampu menciptakan otak manusia.
Itu baru komputer. Bayangkan kapasitas rekam malaikat Rakib dan Atid yang mampu menulis apa saja yang dilakukan manusia. Allah Mahabesar. Otak manusia yang beroperasi dalam bentuk pikiran, tentunya sangat cilik menthik, tiny. dibandingkan daya rekam malaikat Rakib dan Atid. Sangat kecil? Yes, bila dibandingkan kemampuan malaikat.
Tetapi, pada takaran manusia sangat luar biasa. Si Jenius Albert Einstein saja, konon baru menggunakan 3% kapasitas otaknya. Artinya, kalau Einstein mengoperasikan full speed kira-kira bagaimana ya hasilnya? Dan, tentu kapasitas terbesar masih terlelap. Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan betul-betul menjadi The Sleeping Giant. Sungguh kesia-siaan, òtak menjadi indung kemubaziran dalam kehidupan manusia.
Sebagai Raja Simpan, otak yang kita bahasakan dengan memori, adalah rangkaian akhir dari kehebatan raupan otak sebagai ‘Raja Raup’, informasi apa saja melalui pancaindra atau yang diinstalkan Allah SWT, tentu kalau kita mendapat karomah, yang diproses otak sebagai ‘Raja Proses’ dengan kecepatan tidak bisa dihitung dalam ukuran kecepatan apa saja saking cepatnya. Apa pun mampu disimpan. Otak Si Raja Simpan.