Adi Miftah
Mahasiswa Jurusan BSA UIN Malang
MENULIS merupakan cara seseorang ”menyuarakan” pemikiran, mengekspresikan hal terpendam, pengetahuan atau argumen, sehingga terjadi pengembangan informasi atau pengetahuan. Memformulasikan pengetahuan dalam tulisan merupakan aktivitas menulis. Setiap orang dapat menjadi penulis, namun penulis tidak steril dari hambatan.
Sebelum saya menjelaskan problem-problem yang sering dihadapi seseorang yang ingin menulis, saya menyampaikan beberapa kutipan dari orang-orang terdahulu yang kiranya bisa menjadi motivasi. Menurut Ibnu al-Muqaffa: “Ungkapan lidah itu terasa hanya pada sesuatu yang dekat dan hadir, sedangkan ungkapan tulisan itu berguna bagi yang menyaksikan dan yang tidak menyaksikan, bagi orang yang dulu dan yang akan datang. Ia seperti orang yang berdiri sepanjang waktu.”
Islam sangat menghargai kemampuan menulis dan menganggapnya sebagai kemampuan yang paling bermanfaat. Menurut Ikrimah: “Tawanan Perang Badar mencapai empat ribu orang. Setiap tawanan dapat menebus dirinya dengan mengajarkan menulis karena kemampuan menulis sangat penting dan bermanfaat.
Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya “Wahai Muhammad, Bacalah Al-Qur’an. Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahamulia. Tuhan yang mengajari manusia menulis dengan pena (QS Al-Alaq: 3-4).
Kemampuan menulis dianggap nikmat-Nya yang paling agung. Allah SWT menggunakannya sebagai sumpah dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya. “Nuun, Demi pena dan hasil tulisan manusia dan malaikat (QS Al-Qalam: 1). Allah SWT bersumpah dengan pena.
Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa menulis sangat penting dalam kehidupan kita, karena dengannya segala bentuk informasi bisa kita dapatkan yang tidak akan terputus. Tulisan seseorang umurnya bisa lebih kekal dari pada usia penulisnya.
Dalam menulis tentu tidak sedikit kendala yang dihadapi. Pertama, ada seseorang yang mempunyai hasrat kuat untuk menulis, tetapi susah menentukan apa yang hendak ditulisnya. Ada orang yang hendak menulis, tetapi bingung dalam menentukan diksi, bingung bagaimana memilih kalimat pertama sampai takut apakah tulisannya akan dibaca orang.
Berdasarkan pengalaman priabdi, saya menyimpulkan bahwa masalah menulis disebabkan kurang intens membaca. Kita sering mendengar pepatah “jika seseorang ingin menjadi pembicara yang baik hendaknya ia menjadi pendengar yang baik.” Begitu pula dalam hal menulis ”jika kita ingin menjadi penulis yang baik maka hendaknya menjadi pembaca yang baik.”
Kedua, adakalanya bingung mau dibawa ke arah mana tulisan kita? Ketika kita sedang asyik menulis, muncul beberapa ide yang menyusahkan kita menyusun rangkaian teks yang akhirnya kita merasa ide yang sedang kita tulis tidak selesai-selesai dan sulit menemukan ending.
Biasanya problem ini dialami oleh pemula yang ingin sekadar menulis dan belum bisa mengendalikan pikiran sehingga kenikmatan dalam menulis tidak didapat. Yang diinginkan hanyalah bagaimana supaya tulisannya cepat selesai. Perlu diingat, kita perlu menentukan terlebih dahulu ide pokok yang ingin disampaikan dan memahami apa yang ingin ditulis. Tidak perlu tergesa-gesa, jadikan kesabaran sebagai pengendali pikiran agar tulisan tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami pembaca.
Ketiga, sulit konsentrasi. Masalah ini bisa dihadapi siapa saja, baik penulis pemula atau penulis yang lihai menulis. Hal ini biasanya terjadi karena seseorang yang terlalu sibuk dan memaksakan menulis ketika mood-nya kurang baik.
Untuk mengatasi hal semacam itu, saya pergi ke tempat yang nyaman, sejuk, dan alami sehingga pikiran nyaman, relaks dan mendapatkan mood untuk menulis pulih. Perlu diingatkan, mood dan konsentrasi, adalah kita sendiri yang mengendalikannya.
Keempat, plot kocar-kacir. Sangat perlu diperhatikan kerangka tulisan. Kalau ada ide baru dan cocok dengan apa yang akan ditulis, kita dapat menulis ulang/memotong bagian yang dianggap tidak penting. Ide hendaklah membaguskan tulisan dan jangan dipaksakan sehingga tulisan jadi mengalir.
Kelima, malas. Malas sering muncul dalam kehidupan, seakan-akan berkuasa melarang kita melakukan sesuatu, terutama dalam menulis. Tetapi ingat. Biasanya muncul pada awal saja. Lawan rasa malas dengan memulai menulis. Kalau sudah dan sedang menulis, dengan sendirinya Si Malas itu pergi. Tidak perlu khawatir karena kendali ada pada kita. Tetaplah berkarya walau terasa berat dan jadikan jembatan untuk menggapai yang kita inginkan.
Akhirnya, jangan pernah berhenti dalam berkarya walau terasa berat, kita tidak akan pernah mendapatkan mutiara dari dasar laut kalau kita tidak menyelami laut. Nikmatilah proses demi proses sehingga sampai di gerbang penghargaan. Jadikan tekad dalam menulis sebagai ajang berbagi ilmu dan berbagi manfaat satu sama lain.
Semoga bermanfaat.
0 Comment to "Menulis (3.1) Jangan Pernah Berhenti"
Post a Comment