Wednesday, 7 December 2016

Menulis (4.10): Mau Menulis Kok Galau?

M. Chasby Shiddiq
Mahasiswa UIN Malang

PERNAH terlintas di pikiran menjadi penulis? Dikenal banyak orang dengan seabgreg karya dan eksis di dunia kepenulisan? Jika iya, maka impian kita sama. Tetapi, menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan. Bisa jadi, ungkapan tepatnya, gampang-gampang susah. Banyak tulisan, artikel atau buku-buku yang mengulas tentang menulis, tetapi tidak ada salahnya kita mendiskusikan apa yang membuat kita nge-blank menulis dan bagaimana mengatasi.

Ya, menulis itu gampang-gampang susah. Gampang dalam artian yang perlu kita lakukan, ya menulis, menorehkan pulpen di kertas atau menekan tuts komputer membuat kalimat. Susah, dalam artian menulis sesungguhnya, kita harus menguasai teknik menulis yang baik dan benar, memiliki wawasan yang luas, dan tulisan mudah dipahami pembaca.

Secara teoritik, menulis apa yang ada di pikiran tidak susah. Hanya saja, hal tersebut (menulis) tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bagi mereka yang newbie, menulis bisa jadi lakuan yang sukar. Buktinya, banyak orang berhendak menulis, tetapi banyak yang terjerembab sebagai kehendak saja.

Akip Effendy dalam tulisannya di Kompasiana bertanggal 25 Juni 2015 mengutip pengertian menulis dari Syafi’ie: “Menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, keinginan, kemauan serta informasi dalam bentuk tulisan dan kemudian mengirimkannya kepada orang lain.” Jadi, menulis akan menjadi mudah jika kita bisa menuangkan ide-ide dan gagasan, pendapat, keinginan, bahkan perasaan kita dalam tulisan kita yang kemudian pembaca bisa mendapatkan informasi dari tulisan tersebut.

Selanjutnya dijelaskannya, menulis berarti menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui tulisan. Alat untuk menyampaikannya adalah bahasa yang terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat paragraf, dan wacana. Pikiran yang disampaikan kepada orang lain harus dinyatakan dengan kata yang mendukung makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin dinyatakan. Kata-kata itu harus disusun secara teratur dalam klausa dan kalimat agar orang lain dapat menangkap apa yang ingin disampaikan penulis. Semakin teratur bahasa yang digunakan, semakin mudah seseorang menangkap maksud dari tulisan itu.

Keberadaan ide dalam menulis sifatnya sangat vital. Tanpa adanya ide tersebut kita tidak bisa menentukan apa yang akan ditulis. Ide atau gagasan melatar belakangi permasalahan yang akan dimuat dalam tulisan sehingga pembahasan tulisan kita akan jelas arah dan maknanya.

Jadi, langkah pertama dalam menulis adalah menentukan ide atau gagasan mengenai apa saja yang akan kita tuangkan dalam tulisan itu nantinya.

Terkadang hambatan dalam menulis adalah ketika kita sudah memiliki ide untuk tulisan kita, kita malah tidak bisa menuangkannya dalam tulisan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perbendaharaan diksi yang mewakili gagasan, sulit merangkai kata-kata. Bahkan, ketika kita sedang dalam mood baik, memiliki banyak ide namun ketika ingin menuangkan dalam tulisan tiba-tiba kita bingung apa yang akan dituliskan. Bukan karena tidak ada ide, tetapi tidak mampu menuliskannya. Bagi yang masih newbie, istilahnya terperangkap mindblock.

Masalah lainnya biasanya muncul ide-ide secara tiba-tiba, baik muncul ketika sedang berjalan, belajar, atau saat merenungkan sesuatu —berfikir—namun ide-ide tersebut tidak langsung dituliskan, kita menunda untuk menuliskannya. Akibatnya ide-ide tersebut hilang begitu saja.

Hal yang tidak kalah menyulitkan adalah kaidah gramatika yang baik dan benar. Ketika menulis sesuatu, kita merasa bisa menuliskannya. Tanpa kita sadari semakin panjang tulisan kita justru semakin samar makna dan maksudnya. Tulisan kita cenderung bertele-tele dan tidak jarang malah semakin mbulet melebar kemana-mana. Hal ini menyebabkan ketidakjelasan makna, hilangnya kelogisan, dan menjadikan tulisan kita tidak utuh.

Lantas, bagaimanakah cara menanggulangi problematika tersebut diatas?
Untuk mengatasi problematika tersebut kita harus memiliki keterampilan berbahasa. Mengapa demikian? Karena tidak mungkin kita terampil menulis tanpa keterampilan berbahasa. Akip menjelaskan bahwa kata keterampilan berbahasa mengandung dua asosiasi. Yakni kompetensi dan performansi. Kompetensi mengacu pada pengetahuan konseptual tentang sistem dan kaidah kebahasaan, sedangkan performansi merujuk pada kecakapan menggunakan sistem kaidah kebahasaan yang telah diketahui untuk berbagai tujuan penggunaan komunikasi.

Setelah kita tahu bagaimana sistem dan kaidah tata bahasa yang benar, tentu kita akan lebih mudah menuliskan ide-ide. Ya, memunculkan ide adalah yang utama. Kita bisa mencari ide untuk menulis dengan berbekal membaca. Semakin banyak kita membaca, maka semakin banyak wawasan yang kita dapatkan.

Ahmad Thohari dalam seminar internasional dengan tema Sastra dan Moralitas bangsa yang diselenggarakan dalam serangkaian acara Festival Jazirah Arab mengatakan: “Tidak ada penulis hebat jika bukan pembaca yang rakus”.
Maksudnya, tidak mungkin seseorang menjadi penulis hebat jika tidak membaca, bahkan dikatakannya rakus membaca. Bacaan yang banyak memunculkan ide untuk ditulis.

Untuk mengatasi hilangnya ide-ide yang tiba-tiba muncul, sebaiknya selalu membawa buku catatan dan pena atau jika tidak memungkinkan, buku catatan dan pena bisa diganti dengan HP. Jadi, ketika muncul ide-ide cemerlang bisa langsung ditulis sementara untuk kemudian dikembangkan menjadi tulisan.

Terkait dengan masalah gramatikal tulisan kita bisa belajar kaidah tata bahasa yang baik melalui tulisan-tulisan baik dalam media cetak maupun media elektronik. Kita bisa melihat bagaimana ejaan-ejaan yang baik, membentuk frasa, klausa, kalimat, paragraf bahkan sebuah wacana.

Menurut Syafi’ie setidaknya ada 6 syarat yang harus dimiliki untuk membuat sebuah tulisan yang baik. Yaitu (1) kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, (2) kepekaan terhadap kondisi pembaca, (3) kemampuan menyusun rencana penulisan, (4) kemampuan menggunakan bahasa, (5) kemampuan memulai tulisan, dan (6) kemampuan memeriksa tulisan.

Dengan 6 kemampuan diatas, sudah lebih dari cukup untuk menulis dengan baik. Bukan tidak mungkin, dengan memiliki 6 kemampuan tersebut kita bisa menjadi penulis yang baik. Sebaiknya jika kita sudah terbiasa menulis, jangan pernah berhenti dalam waktu yang lama. Karena menulis merupakan proses yang teratur. Semakin sering kita menulis, seiring berjalannya waktu, tulisan kita semakin baik.
Jika kita berhenti menulis, maka kita berarti menghentikan prosesnya. Oleh karena itu, kita perlu memiliki kemauan kuat dan tidak mudah menyerah. Untuk penutup artikel ini, saya akan memberikan mantra sakti yang semoga mampu menyihir diri kita agar semangat dalam menulis.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Yang ada hanyalah kamu mau atau tidak.

Share this

0 Comment to "Menulis (4.10): Mau Menulis Kok Galau?"

Post a Comment