Wednesday, 7 December 2016

Menulis (4.11): Scripta Manent Verba Volent

Mauliyah Izzaty
Mahasiswa Jurusan PAI UIN Malang

Apa yang tertulis tetap ada, apa yang diucapkan menguap - Aristoteles

SCRIPTA MANENT VERBA VOLENT merupakan peribahasa Yunani yang memiliki arti: Apa yang tertulis tetap ada, apa yang diucapkan menguap.“ Kalimat tersebut muncul bukanlah karena orang Yunani tidak menghargai kemampuan orang dalam berbicara, namun apa yang terucap lebih mudah untuk dilupakan karena tidak meninggalkan bekas. Sedangkan tulisan (karya tulis) umumnya lebih lama karena meninggalkan bekas.

Melalui peribahasa tersebut orang Romawi menegaskan bahwa tulisan atau karya tulis itu memiliki nilai lebih tinggi dari bahasa lisan. Orang Romawi dan Barat pada umumnya menempatkan karya tulis, terlebih buku merupakan produk budaya yang bergengsi, karena buku adalah simbol keilmiahan atau intelektualitas. Menurut The Liang Gie, ada enam hal yang akan kita peroleh ketika menulis, yakni :

1. Nilai Kecerdasan (intellectual value), dengan keterbiasaan menulis seseorang akan terbiasa berolah pikir seperti mencari ide, menganalisis sebuah kasus, merancang urutan pemikiran yang akan dituangkan menjadi tulisan, menimbang kata demi kata. Kegiatan-kegiatan inilah yang mampu membuat pikiran bertambah dan meningkatnya kecerdasan.

2. Nilai Pendidikan (educational value), disadari atau tidak, dengan terus menulis akan ada sebuah paksaan untuk mencari buku sebagai bahan rujukan, mengingat kembali apa yang telah terekam dan dipelajari, membaca ensiklopedia ataupun sekedar membuka kamus.

3. Nilai Kejiwaan (psychological value), ketika sebuah karya tulis mampu menembus blokade redaktur, lolos sebuah seleksi atau terpampang disalah satu media terkenal pastinya akan ada rasa kepuasan dan bangga, timbulnya gairah dan percaya diri untuk menulis lebih baik dan terus berkarya.

4. Nilai Sosial (social value), semakin sering menulis, akan semakin dikenal banyak orang, seperti para komunitas pecinta buku, kalangan penerbit, toko buku, dll. Dan ini tentunya akan membuat seseorang semakin dihargai karena karya tulisnya.

5. Nilai Material (financial value), untuk sebuah kerja keras seseorang pantas mendapatkan imbalan. Begitupun dengan seorang penulis, ia akan mendapatkan imbalan dari pihak yang menerbitkan karyanya. Semakin berbobot semakin besar pula honor yang didapatkan. Di negara maju penulis mendapatkan apresiasi yang tinggi di mata masyarakat, dan berpenghasilan tinggi juga.

6. Nilai Filosofis (philosophical value), pada kajian ini mencapai sebuah kesimpulan bahwa jasad orang cerdik, cendekia, arif, bijaksana bersifat temporer, sedangkan hasil pemikirannya bersifat kekal.

Kesimpulan dari pemaparan di atas, menulis merupakan kegiatan menyenangkan dan membanggakan sebab memiliki nilai yang sangat dibutuhkan orang untuk menyatakan esensi dan keeksistensiannya. Maka, selayaknya aktivitas menulis digiatkan demi kemanfaatan diri sendiri dan orang lain. Menulis banyak ragamnya.
Dalam dunia jurnalistik, misalnya, artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu terkait masalah yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat secara lugas. Sekilas bentuk atau strukturnya, artikel tampak seperti esai, namun artikel bukanlah esai, sebab tidak bersifat pribadi dan cakupannya sangat luas.

Artikel lebih dimaksudkan untuk menyampaikan fakta, penilaian setuju atau tidak setuju, melontarkan ide, membujuk ataupun menghibur pembacanya. Artikel dari segi siapa yang menulis, dibedakan atas:

Artikel redaksi adalah karangan prosa dalam media massa yang dibuat redaksi dibawah tema tertentu yang sesuai dengan kejadian atau peristiwa aktual. Penyuguhannya bisa dalam bentuk laporan utama atau laporan khusus. Artikel umum adalah karangan prosa dalam media massa yang ditulis oleh umum, artikel ini bisa juga disebut opini.

Untuk menulis artikel pada dasarnya tidak memiliki aturan baku yang mengikat. Semakin sering menulis artikel, akan semakin mudah bagi dia mengganti gaya, menyuguhkan urutan penalaran, memainkan daya imajinasi pembaca atau menuntut kesimpulan yang akan dia tarik, untuk penulis pemula, disarankan menggunakan pedoman sebagai berikut:

1. Carilah Inspirasi, tentunya mencari fenomena teraktul yang akan dibahas, membaca dengan seksama situasi yang ada di masyarakat, dengar dan rasakan apa yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat, baik tingkat lokal, nasional ataupun global. Pilih salah satu, dan pastikan persoalan yang akan dibahas sesuai dengan media massa yang akan dimuat dan pembaca yang akan menjadi sasaran anda.

2. Jabarkan isu atau persoalan yang akan dibahas dengan urutan : pendahuluan sebagai pengantar memasuki masalah yang sesungguhnya, latar belakang persoalan disertai alasan-alasannya, menguraikan persoalan yang perlu dibahas yang lalu dibandingkan dengan persoalan lainnya, dan terakhir gagasan pokok meliputi pemecahan masalah ataupun ide alternatif yang dikemukakan.

3. Tulislah uraian tersebut pada kertas folio atau kuarto kurang lebih 3-5 halaman, spasi 1,5 atau tulislah tergantung permintaan redaksi.

4. Baca dan periksalah kembali naskah tersebut. Periksa apakah ada kesalahan ketik, salah ejaan ataupun kesalahan dalam menggunakan istilah.

5. Bila semua koreksi sudah dilakukan pastikan tidak akan ada pengubahan lagi. Lalu kirimkan ke redaksi yang ingin dituju. Ingat jangan pernah mengirimkan dua atau tiga naskah yang secara bersamaan ke beberapa media massa sekaligus. Bila terjadi, dua naskah yang sama muncul di media massa yang berbeda akan dianggap sebagai perbuatan curang dan nama penulis dianggap telah tercemar.

6. Jangan sekali-kali menjiplak artikel orang lain. Bila membutuhkan kutipan pendapat. Kata-kata ataupun data hasil riset sebutkan dengan jelas sumber kutipan anda.

Share this

0 Comment to "Menulis (4.11): Scripta Manent Verba Volent"

Post a Comment